MANAGED BY:
SABTU
16 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Senin, 21 Desember 2020 12:30
Rapid Test

Ada agenda yang harus dituntaskan. Pukul 08.30 sudah di kantor. Saat langit Kota Minyak gerimis manja alias hujan awet, kata orang-orang. Sempat terkena air hujan juga saat jalan dari parkiran ke kantor. Hari itu, pukul 09.00 ada tamu dari Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda. Kami mau tanda tangan nota kesepahaman. Penandatanganan itu dibuat cepat. Karena tamu sudah saya info duluan saya ada agenda dadakan. Yakni harus ke PPU untuk melayat.

Sret, sret, tanda tangan di dua draf sudah. Lanjut foto-foto dokumentasi. Dan sedikit bincang sebelum tamu pamit pulang. Saya pun langsung siap-siap menuju Penajam. Dari kantor saya pilih naik motor. Kondisi masih gerimis awet. Biar motornya bisa sekalian dibawa ke seberang diangkut kelotok. Selama pandemi, saya memang memilih membawa motor sekalian ke Penajam, atau dari Penajam ke Balikpapan. Untuk mengurangi penggunaan kendaraan umum.

Sebelum pandemi, saya pengguna angkutan kota (angkot) kalau mau ke Penajam. Baik dari Gedung Biru ke pelabuhan Kampung Baru. Atau saat tiba di Penajam-nya untuk menuju rumah. Kalau tak naik angkot ya ikut ojek. Naik mobil, jelas bukan pilihan. Kecuali ada urusan khusus yang harus menyeberangkan mobil, dan itu lewat Pelabuhan Feri Kariangau di Balikpapan Barat.

Pukul 11.00-an tiba di Penajam. Dengan kondisi badan sedikit basah di bagian tangan, pinggang, dan kaki, karena jas hujan tak menutup tubuh dengan sempurna. Setelah melayat kemenakan yang meninggal, lanjut Jumatan. Kondisi cuaca sudah mulai bersahabat. Tak lagi hujan. Gantian mentari yang mulai menampakkan diri di balik awan. Karena ada agenda melayat di Penajam itulah saya pikir, sekalian saja rapid test di PPU. Usai Jumatan. Biar besoknya tinggal go ke Ibu Kota.

Rencana idealnya begitu. Saya lantas mendatangi salah satu klinik di kabupaten ini. Kondisi tak begitu ramai. Jadi prosesnya cepat saja. Daftar. Serahkan KTP. Bayar Rp 200 ribu. Ambil darah di lengan. Bukan ditusuk di ujung jari. Tunggu 15 menitan, hasil keluar. Hasil tes saya di klinik itu dinyatakan reaktif. Tanda-tanda reaktif sudah terbaca. Sebelum hasil dikeluarkan, KTP saya diminta lagi. Tadi 'kan sudah, gumam saya dalam hati. Lantas saya dipersilakan ke ruangan dokter.

Dokter di klinik itu lantas membeber hasil rapid test kepada saya. Dengan menunjukkan selembar kertas. Yang inti dari kertas itu, di bagian tengah tertulis reaktif. Dokter perempuan itu lantas mengatakan, pihaknya harus melaporkan kondisi saya itu kepada tim gugus tugas kabupaten. Nanti akan ada tim yang menghubungi saya, untuk memberi tahu langkah selanjutnya apa yang harus saya lakukan setelah hasil tes di klinik itu. Okelah kata saya. Nomor handphone saya dicatat.

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 06 Januari 2021 09:39

Bulan Madu Lagi Tahun Ini

Catatan: Faroq Zamzami (Pemred Kaltim Post) DUA puluh enam Agustus…

Senin, 04 Januari 2021 12:12

Kami Ada di Layar Ponsel Anda

Romdani Wakil Pemimpin Redaksi Kaltim Post     PANDEMI membuat…

Senin, 21 Desember 2020 12:30

Rapid Test

Catatan: Faroq Zamzami (Pemred Kaltim Post)   SYARAT keluar daerah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers