MANAGED BY:
SABTU
24 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Senin, 21 Desember 2020 12:30
Rapid Test

Saya pun pulang. Dan hingga hari ini tidak ada satu panggilan pun di handphone saya dari tim gugus tugas. Walau begitu, insyaallah saya termasuk warga yang patuh protokol kesehatan. Selalu ganti baju dan mandi dulu sepulang kerja, sebelum bercengkerama dengan keluarga. Nyaris tak lupa masker saat beraktivitas di luar rumah. Setelah pulang dari klinik saya sedikit galau. Juga kesal pada diri. Karena lupa menerapkan apa yang sering saya dengar kalau mau rapid test, dari beberapa rekan yang hasilnya non-reaktif.

Yakni, harus dalam kondisi fit dan minum vitamin atau suplemen dulu, ada satu merek yang direkomendasikan. Sementara saya, hari itu lupa, pagi sudah kena hujan, badan agak lelah perjalanan dari Balikpapan ke Penajam, dan tidak ada minum suplemen. Saya pun menenangkan diri di rumah. Mengurung diri di kamar. Dan tetap mengenakan masker. Sambil berkoordinasi dengan rombongan untuk persiapan keberangkatan. Tentu saya tak bilang kalau sudah rapid test dan hasilnya reaktif.

Maka pukul 16.00 saya minum suplemen. Mereknya, em, yang ramai dicari selama pandemi itu. Anda pasti tahu. Hari yang sama, setelah magrib saya sudah berencana untuk rapid test lagi. Di klinik yang berbeda. Setelah makan berangkat. Saya sudah tiba di klinik itu sebelum loket pendaftaran dibuka usai petugas istirahat dan salat. Bersama saya setidaknya ada tiga orang lain yang juga akan rapid test. Dengan tujuan sama. Dipakai untuk syarat ke luar kota.

Setelah daftar, bayar Rp 170 ribu, langsung menuju tempat ambil darah. Kali ini ditusuk di ujung jari. Hasilnya juga 15-20 menitan keluar. Non-reaktif. Hasil itulah yang saya pakai untuk syarat ke Jakarta. Yang diperiksa dan akan distempel ketika masuk pintu bandara. Beda hasil jelas, karena beda metode. Secara awam saya tahunya begitu. Di klinik sebelumnya, reaktif dengan metode pemeriksaan darah diambil di lengan dengan jumlah sepenuh satu alat suntik.

Klinik kedua hanya ditusuk di ujung jari tengah, lantas darah keluar satu tetes, itu yang diletakkan di alat periksa. Pada 4 Desember, saya kembali rapid test dengan metode darah diambil di lengan, di salah satu rumah sakit di Balikpapan. Hasilnya non-reaktif. Pengalaman saya ini menunjukkan betapa lemahnya menerapkan hasil rapid test sebagai syarat untuk ke luar kota.

Pertama, secara hasil tes, tidak ada tenaga medis pun yang mengatakan, kalau hasilnya reaktif itu adalah reaktif virus corona. Mereka akan menyebut sebagai reaktif atas virus yang ada di dalam tubuh. Secara umum. Di surat yang kita terima hasil dari rapid test itu pun ditegaskan, dengan huruf dicetak tebal kalau hasil rapid test non-reaktif bukan menandakan bebas dari Covid-19. Maka itu ada istilah orang tanpa gejala. Orang yang secara fisik fit, sehat, padahal ada Covid-19 di tubuhnya.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers