MANAGED BY:
SABTU
18 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Senin, 21 Desember 2020 12:30
Rapid Test

Catatan: Faroq Zamzami

(Pemred Kaltim Post)

 

SYARAT keluar daerah diubah. Tak lagi pakai rapid test. Mulai 18 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021, calon penumpang aneka moda transportasi harus menunjukkan hasil swab antigen negatif.  Ketentuan ini beberapa hari lalu disampaikan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan.

Tujuannya, tentu, bagian dari menekan angka persebaran virus corona saat liburan. Pemerintah jelas waswas. Jangan sampai ada lonjakan kasus selepas libur panjang. Selain itu, hasil metode swab test dan rapid test antigen tentu lebih baik ketimbang rapid test yang diberlakukan selama ini. Pada 28 November lalu saya ke Jakarta. Sehari sebelumnya, 27 November, saya rapid test yang jadi syarat untuk naik pesawat selama pandemi ini.

Tanggal 27 itu Jumat. Hari itu sebagian besar wilayah di Kaltim diguyur hujan. Tak terkecuali Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU). Entah apakah Axl Rose yang vokalis Guns N' Roses itu peramal. Yang pasti, lagu November Rain-nya yang sangat nikmat itu, selalu relevan dengan kondisi iklim di Kaltim yang hari-hari pada bulan itu lebih banyak mendung dan tangisan dari langit. Tanggal 27 itu saya ke kantor di Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan, lebih cepat dari biasa.

Ada agenda yang harus dituntaskan. Pukul 08.30 sudah di kantor. Saat langit Kota Minyak gerimis manja alias hujan awet, kata orang-orang. Sempat terkena air hujan juga saat jalan dari parkiran ke kantor. Hari itu, pukul 09.00 ada tamu dari Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda. Kami mau tanda tangan nota kesepahaman. Penandatanganan itu dibuat cepat. Karena tamu sudah saya info duluan saya ada agenda dadakan. Yakni harus ke PPU untuk melayat.

Sret, sret, tanda tangan di dua draf sudah. Lanjut foto-foto dokumentasi. Dan sedikit bincang sebelum tamu pamit pulang. Saya pun langsung siap-siap menuju Penajam. Dari kantor saya pilih naik motor. Kondisi masih gerimis awet. Biar motornya bisa sekalian dibawa ke seberang diangkut kelotok. Selama pandemi, saya memang memilih membawa motor sekalian ke Penajam, atau dari Penajam ke Balikpapan. Untuk mengurangi penggunaan kendaraan umum.

Sebelum pandemi, saya pengguna angkutan kota (angkot) kalau mau ke Penajam. Baik dari Gedung Biru ke pelabuhan Kampung Baru. Atau saat tiba di Penajam-nya untuk menuju rumah. Kalau tak naik angkot ya ikut ojek. Naik mobil, jelas bukan pilihan. Kecuali ada urusan khusus yang harus menyeberangkan mobil, dan itu lewat Pelabuhan Feri Kariangau di Balikpapan Barat.

Pukul 11.00-an tiba di Penajam. Dengan kondisi badan sedikit basah di bagian tangan, pinggang, dan kaki, karena jas hujan tak menutup tubuh dengan sempurna. Setelah melayat kemenakan yang meninggal, lanjut Jumatan. Kondisi cuaca sudah mulai bersahabat. Tak lagi hujan. Gantian mentari yang mulai menampakkan diri di balik awan. Karena ada agenda melayat di Penajam itulah saya pikir, sekalian saja rapid test di PPU. Usai Jumatan. Biar besoknya tinggal go ke Ibu Kota.

Rencana idealnya begitu. Saya lantas mendatangi salah satu klinik di kabupaten ini. Kondisi tak begitu ramai. Jadi prosesnya cepat saja. Daftar. Serahkan KTP. Bayar Rp 200 ribu. Ambil darah di lengan. Bukan ditusuk di ujung jari. Tunggu 15 menitan, hasil keluar. Hasil tes saya di klinik itu dinyatakan reaktif. Tanda-tanda reaktif sudah terbaca. Sebelum hasil dikeluarkan, KTP saya diminta lagi. Tadi 'kan sudah, gumam saya dalam hati. Lantas saya dipersilakan ke ruangan dokter.

Dokter di klinik itu lantas membeber hasil rapid test kepada saya. Dengan menunjukkan selembar kertas. Yang inti dari kertas itu, di bagian tengah tertulis reaktif. Dokter perempuan itu lantas mengatakan, pihaknya harus melaporkan kondisi saya itu kepada tim gugus tugas kabupaten. Nanti akan ada tim yang menghubungi saya, untuk memberi tahu langkah selanjutnya apa yang harus saya lakukan setelah hasil tes di klinik itu. Okelah kata saya. Nomor handphone saya dicatat.

Saya pun pulang. Dan hingga hari ini tidak ada satu panggilan pun di handphone saya dari tim gugus tugas. Walau begitu, insyaallah saya termasuk warga yang patuh protokol kesehatan. Selalu ganti baju dan mandi dulu sepulang kerja, sebelum bercengkerama dengan keluarga. Nyaris tak lupa masker saat beraktivitas di luar rumah. Setelah pulang dari klinik saya sedikit galau. Juga kesal pada diri. Karena lupa menerapkan apa yang sering saya dengar kalau mau rapid test, dari beberapa rekan yang hasilnya non-reaktif.

Yakni, harus dalam kondisi fit dan minum vitamin atau suplemen dulu, ada satu merek yang direkomendasikan. Sementara saya, hari itu lupa, pagi sudah kena hujan, badan agak lelah perjalanan dari Balikpapan ke Penajam, dan tidak ada minum suplemen. Saya pun menenangkan diri di rumah. Mengurung diri di kamar. Dan tetap mengenakan masker. Sambil berkoordinasi dengan rombongan untuk persiapan keberangkatan. Tentu saya tak bilang kalau sudah rapid test dan hasilnya reaktif.

Maka pukul 16.00 saya minum suplemen. Mereknya, em, yang ramai dicari selama pandemi itu. Anda pasti tahu. Hari yang sama, setelah magrib saya sudah berencana untuk rapid test lagi. Di klinik yang berbeda. Setelah makan berangkat. Saya sudah tiba di klinik itu sebelum loket pendaftaran dibuka usai petugas istirahat dan salat. Bersama saya setidaknya ada tiga orang lain yang juga akan rapid test. Dengan tujuan sama. Dipakai untuk syarat ke luar kota.

Setelah daftar, bayar Rp 170 ribu, langsung menuju tempat ambil darah. Kali ini ditusuk di ujung jari. Hasilnya juga 15-20 menitan keluar. Non-reaktif. Hasil itulah yang saya pakai untuk syarat ke Jakarta. Yang diperiksa dan akan distempel ketika masuk pintu bandara. Beda hasil jelas, karena beda metode. Secara awam saya tahunya begitu. Di klinik sebelumnya, reaktif dengan metode pemeriksaan darah diambil di lengan dengan jumlah sepenuh satu alat suntik.

Klinik kedua hanya ditusuk di ujung jari tengah, lantas darah keluar satu tetes, itu yang diletakkan di alat periksa. Pada 4 Desember, saya kembali rapid test dengan metode darah diambil di lengan, di salah satu rumah sakit di Balikpapan. Hasilnya non-reaktif. Pengalaman saya ini menunjukkan betapa lemahnya menerapkan hasil rapid test sebagai syarat untuk ke luar kota.

Pertama, secara hasil tes, tidak ada tenaga medis pun yang mengatakan, kalau hasilnya reaktif itu adalah reaktif virus corona. Mereka akan menyebut sebagai reaktif atas virus yang ada di dalam tubuh. Secara umum. Di surat yang kita terima hasil dari rapid test itu pun ditegaskan, dengan huruf dicetak tebal kalau hasil rapid test non-reaktif bukan menandakan bebas dari Covid-19. Maka itu ada istilah orang tanpa gejala. Orang yang secara fisik fit, sehat, padahal ada Covid-19 di tubuhnya.

Lantas mengapa masih diterapkan rapid test ini, info yang saya dengar dari salah satu dokter, setidaknya sebagai screening awal. Walaupun dokter itu sendiri juga tak sepenuhnya setuju dengan penerapan rapid test untuk syarat ke luar daerah. Kedua, siapa saja, kalau memang harus ke luar daerah mendesak, bisa saja melakukan rapid test beberapa kali dalam satu hari sampai hasilnya non-reaktif.

Atau antisipasi duluan dengan minum berbagai suplemen. Seperti pengalaman saya itu. Di tes kedua hasilnya non-reaktif dan itu sudah bisa digunakan syarat terbang. Kini, dengan pemerintah menerapkan swab antigen tentu harapan kita pendeteksian bisa lebih baik, ketimbang sebelumnya. Sehingga lalu lintas orang antardaerah bisa “terdeteksi” lebih awal.

Rapid test antigen (swab antigen) untuk virus corona ini dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan melalui proses swab. Beberapa penelitian menunjukkan, pemeriksaan rapid test antigen virus corona memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan rapid test antibodi, meski belum seakurat tes PCR untuk mengdiagnosis Covid-19. Soal biayanya dari beberapa referensi yang saya baca agak mahal sedikit ketimbang rapid test. Di beberapa klinik di Balikpapan ada yang dimulai di angka Rp 250 ribuan. (riz/k15)

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers