MANAGED BY:
KAMIS
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Senin, 21 Desember 2020 10:56
Insomnia Lara

Sebulan ini tidur menjadi ritual yang begitu resah. Dekapan dan belaian hangat Isha, suamiku, hanya mampu menenangkan sejenak. Setelahnya aku hanya akan bermimpi dalam sadar. Sekali-kali bila resah itu kian menggelayut dan tak tertahankan, aku akan mengambil air wudu lebih awal dan bersujud dalam keheningan hingga terlelap di atas sajadah.

Tak jarang Isha juga protes sebelum berangkat kerja. “Hanum sayang, tidurlah di kasur bersamaku. Bagaimana bisa aku membiarkan istriku tertidur di lantai sementara aku begitu nyenyak di kasur yang empuk?” Senyumku merekah. Aku tahu ia lah yang selalu membopongku kembali ke kasur.

“Apa dekapanku kurang hangat?”

Sebagai jawaban atas pertanyaan itu aku pun memeluk dan mengecupnya.

***

Malam esoknya, aku kembali terjaga. Dari jendela kamar, aku pun menjenguk ke arah cahaya temaram. Di luar masih pekat dengan keheningan. Sepertiku, pijar lampu kota masih terjaga dari kejauhan. Tenggarong mungkin hanya kota tua yang bergelimang dengan tuak sejarah. Sejarah yang tak dihadiahi rasa takzim dan penghargaan dari manusianya. Namun bagiku, Tenggarong adalah cinta, jarak, air mata, dan jajak cincin.

Denting pesan instan di ponsel mengembalikanku dari lamunan. Biasanya pesan broadcast yang dikirim secara acak itu muncul ketika hari mulai cerah. Manusia macam apa yang mengirimkan pesan siaran sepagi ini?

Layar ponsel kuusap. Nama ‘Lara-11 IPA 7’ mencuat sebagai satu-satunya pengirim pesan. Lara salah seorang siswa di kelasku. Dia anak yang lemah lembut sekaligus seorang remaja lelaki sanguinis tulen. Penikmat hidup terbaik barangkali. Suaranya selalu menghibur lewat lagu cover yang dia bawakan dari channel YouTube maupun podcast. Bisa dibilang dia artisnya kelas binaanku--11 IPA 7. Aneh bila ia menghubungiku selarut ini.

Itu adalah sebuah pesan video. Kuputar sambil mengatur volume agar tidak membangunkan Isha.

“Bu Hanum,” ia terlihat begitu gelisah.

“Aku sudah tak tahan lagi. Hal ini harus aku sampaikan padamu.”

“Sudah sebulan ini aku tak bisa tidur dengan nyenyak Bu. Aku selalu bermimpi dengan mata nyalang. Aku ingin memberi tahu Ibu tentang hal ini, tapi… sebentar,” ia terdiam sejenak.

“Sebenarnya ini berkaitan dengan penangkap mimpi hasil prakarya milik Ibu yang hilang di kelas waktu itu. Penangkap mimpi itu bukan hilang. Akulah yang mengambilnya Bu. Mungkin ibu bertanya-tanya kenapa aku mengambilnya.”

“Di kelas kita pernah berdiskusi tentang suku Ojibwe yang dijaga oleh seorang perempuan laba-laba, Abikaashi. Abikaashi menurut legenda akan menjaga mimpi baik orang yang memiliki tanda miliknya, yaitu penangkap mimpi.”

“Aku ingin tanda itu juga menjaga mimpi baikku, maka dari itu aku pun mencurinya. Kenapa aku mencurinya dari Ibu? Karena mimpi baikku itu…” sampai di sini ada jeda panjang yang membuatku risau. Ia pun melanjutkan. “Adalah bisa mencintaimu, Hanum.”

Aku tersentak dan seketika menekan tombol pause. Meskipun aku masih menganggap ini sebagai lelucon, ada hal ganjil dari pengakuannya. Misal, mengapa kami menderita insomnia dalam kurun waktu yang sama? Kemudian, mengapa dia menyukaiku? Aku ini sudah hampir setengah baya dan beranak dua. Bocah sepertinya lebih pantas menjadi putraku. Video kumainkan lagi.

“Aku akan datang dan hadir ke setiap malam dan mimpi indahmu, Bu. Karena, aku telah merindukanmu begitu lama, semenjak aku masuk ke sekolah itu dan menemukanmu. Rasanya bagiku, kita adalah sepasang kekasih di masa lalu. Kemudian, hari ini kita bereinkarnasi ke dalam tubuh yang salah. Sekali lagi, aku mencintaimu Hanum.”

Video pun berhenti. Segera kutekan tombol panggilan ke nomor bocah itu. Nada menghubungkan bersahut berulang tapi tidak ada jawaban. Setelah mencoba sepuluh kali, aku pun menyerah. Bocah kurang ajar itu akan kuselesaikan di sekolah hari ini.

***

Karena hari ini Isha harus melakukan perjalanan dinas ke Jakarta, dua pekan ke depan aku lah yang harus antar jemput Aina dan Aini ke kelompok bermain mereka. Sudah pasti bakal terlambat pagi ini. Sesampainya di sekolah, ramai kulihat polisi, guru, dan murid-murid bergerombol persis di depan ruang kelas 11 IPA 7.

“Bu Hanum! Bu Hanum! Ya Allah Bu, anak murid Ibu!” kepala sekolah menarik tanganku, setengah berlari menyeretku ke dalam kerumunan.

Di hadapanku seonggok tubuh kaku berselimut kain putih. Jantungku berdebar semakin tak karuan. Kusibakkan kafan itu perlahan. Tampak wajah pucat yang begitu kukenal. Wajah yang dicintai oleh teman-teman sekelasnya. Wajah Lara yang membiru. Ada bekas tali berikut penangkap mimpi yang hilang itu masih tersemat di lehernya. Tubuhku lemas, seakan tersadar dari sebuah mimpi buruk. Semakin kusaksikan mayat itu, semakin perutku ingin memuntahkan isinya. Aku minta izin untuk undur diri.

***

Menurut keterangan polisi kasus itu murni bunuh diri. Ada yang menyebut ia ke sekolah sebelumnya. Sebuah hal yang ganjil ketika melihat seseorang berseragam sekolah datang di pagi buta. Aku pun tak luput dari interogasi polisi. Kutunjukkan video terakhir yang Lara kirimkan kepadaku. Mereka pun menyimpulkan Lara sakit jiwa dan akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya. Kasus ditutup. Hadirlah mimpi buruk itu.

Setelah kejadian itu untuk pertama kalinya aku bisa tertidur lelap bahkan tanpa Isha memelukku. Secara ajaib, Lara benar-benar datang dan hadir ke dalam mimpiku. Dia terus mengucapkan “aku mencintaimu Hanum”, memelukku, mencumbuku dan memasukiku dengan segenap cintanya yang begitu memuakkan. Aku merasa begitu buruk. Akan tetapi, betapa pun muaknya, tak bisa kumungkiri bahwa aku menikmati mimpi buruk yang absurd itu. Hingga suatu malam Lara benar-benar menghilang tanpa kabar tanpa perpisahan.

Aku terbangun dengan perasaan mual yang tak tertahankan. Menstruasi yang telat, perut kram, payudara yang nyeri luar biasa dalam beberapa hari ini membuatku keheranan. Padahal sudah berbulan-bulan Isha tak menyentuhku. Dalam keraguan, test pack kehamilan yang baru itu kukenakan. Dua garis biru mencuat perlahan. Belum lepas keterkejutanku, dari luar rumah sebuah suara memanggil.

“Assalamu’alaikum! Aina, Aini, Ayah pulang!” (***/dwi/k8)

ZIA CRISTY, berasal dari Tenggarong, mengajarkan kata-kata di salah satu sekolah swasta. Penulis sastra sureal dan absurd sejak 2014. Ketua FLP Kukar 2019-2021. Instagram: @zcrsty

 

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 18 Oktober 2021 15:06

Seolah Jokowi Hendak Reshuffle Risma

KANAL YouTube masih dijadikan sebagai media untuk menyebarkan informasi menyimpang. Misalnya…

Jumat, 15 Oktober 2021 13:36

Sebar Hoax Patung Moai Pulau Paskah sebagai Berhala Makkah

WARGANET yang satu ini rupanya buru-buru mem-posting gambar tanpa menelusuri…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:07

Video Tarian 2019 Dikait-kaitkan PON XX Papua

REKAMAN Presiden Joko Widodo tengah berjoget dengan masyarakat Papua mendadak…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:24

Vaksinasi Covid-19 Tidak Memengaruhi Warna Darah

INFORMASI palsu seputar vaksinasi masih mudah dijumpai di media sosial.…

Rabu, 06 Oktober 2021 13:37

Priyo Budi Santoso Dikira Warga Negara Tiongkok

KOLASE dua foto yang dibagikan akun Facebook Saefulxrekul Movie On…

Senin, 04 Oktober 2021 12:12

Dua Warga Malaysia Menculik Ambil Organ Tubuhnya

Dalam dua hari terakhir, kembali muncul isu penculik anak bergentayangan…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:49

Hoaks Video Hiu Bikin Jaringan Telkomsel dan IndiHome Ngedrop

 GANGGUAN jaringan internet Telkomsel dan IndiHome beberapa hari lalu langsung…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:48

Kabar Palsu tentang Surat Pencopotan Anies Baswedan

BEBERAPA pembuat hoaks menggunakan kanal YouTube untuk menyebar kegaduhan. Mereka membuat…

Rabu, 29 September 2021 10:26

Bukan Banjir Darah Sungguhan

HOAKS tentang Afganistan masih banyak ditemui di media sosial. Salah satunya…

Sabtu, 18 September 2021 10:40

Hoax Aplikasi PeduliLindungi Buatan Singapura

KABAR palsu kali ini menyasar aplikasi pelacakan kontak digital untuk Covid-19…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers