MANAGED BY:
SABTU
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Senin, 07 Desember 2020 11:44
Sandal dan Candi Kehidupan, Sebuah Resensi Perjumpaan di Candi Prambanan

Sesuai judul resensi ini, “Cerpenku Kisah Hidupku”, keenam belas cerpen bisa saya pastikan berkisah tentang pengarangnya. Hampir semua cerpen dengan sudut pandang pengarang sebagai pelaku utama. Ayu Utami dalam bukunya Menulis dan Berpikir Kreatif mengatakan, karakter dari diri sendiri sah-sah saja bagi penulis pemula. Tetapi jika kita akan punya banyak karya, itu berisiko membosankan. Berani melakukan riset untuk bisa membayangkan karakter di luar diri sendiri.

Hanya tiga cerpen dengan sudut pandang orang ketiga, yaitu munculnya tokoh Mukri, Anton, dan Dia (Lelaki Tua). Walaupun dengan sudut pandang orang ketiga masih tampak bahwa pengarang pun menjadi bagian dari cerita tersebut. Jadi, testimoni pada buku ini pun menegaskan penilaian ini.

Latar cerita kota Jogjakarta, desa dekat pabrik gula, Bontang, Kaltim, Tiongkok, Kathmandu, Amerika, dan beberapa tempat dalam cerpen ini adalah tempat yang pernah dijelajahi penulisnya. Kekayaan wawasan sang penulis tergambar jelas ketika ia menghubungkan semua tempat yang didatanginya dengan buku yang pernah dibacanya, dihubungkan dengan pengalaman masa kecilnya, atau dihubungkan dengan ilmu pengetahuannya.

Pengarang adalah seorang pengingat yang sangat baik. Segala hal remeh-temeh pun dapat diceritakan dengan baik. Sangat detail dalam melukiskan latar cerita menjadi kelebihan buku ini. Menurut penulis Ayu Utami, deskripsi yang bagus adalah yang data-datanya membangun makna tertentu dengan jitu. Nah, seorang Sunaryo Broto berhasil melakukan itu.

Kumpulan cerpen ini adalah kenangan manis dalam untaian kalimat yang mengalir apa adanya tanpa bermaksud untuk dilebihkan atau dikurangkan. Seandainya pengarang berani membelokkan sedikit kisah hidupnya akan mengubah pandangan bahwa kisah cerpen ini adalah sebuah dokumentasi perjalanan hidup atau biografi dalam bentuk cerita.

Nilai fiksinya akan lebih nyata jika tokoh cerita dibuat lebih antagonis, alur cerita lebih berkelok, atau akhir cerita dibuat tragis. Seandainya tokoh Gita diceritakan lebih fiksi lagi bukan seadanya Gita, maka kisah cinta Aku dan Gita akan sangat berwarna dengan konflik yang membuat pembaca lebih bergolak.

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 07:40

Curah Hujan Tinggi Ancam Pengadaan Beras

<div> <div> <strong>PENAJAM </strong>- Curah hujan tinggi yang diperkirakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers