MANAGED BY:
SABTU
18 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Senin, 07 Desember 2020 11:44
Sandal dan Candi Kehidupan, Sebuah Resensi Perjumpaan di Candi Prambanan

Judul Buku: Perjumpaan di Candi Prambanan

Pengarang: Sunaryo Broto

Penerbit: Funread

Tempat Terbit: Jogjakarta

Jumlah Halaman: 155

 

============

 

RETNO UTAMI, SPd, Guru SMP Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang. Bisa dikontak melalui akun IG @makeno/retnoutami3005.

 

 

Secara umum, kumpulan cerpen ini dapat dikategorikan menjadi empat tema besar; keluarga religius, cinta wanita, hobi, serta kota Bontang dan sekitarnya.

Tentang keluarga religius dapat dinikmati pada cerpen “Sepasang Sandal di Masjid Nan Dou Ya”, “Doa Ibu”, “Kurban Sapi”, dan “Keringat Lelaki itu”.

Kisah pertama tentang perjalanan sandal. Perjalanan sang pemilik sandal berjudul “Sepasang Sandal di Masjid Nan Dou Ya”. Sepertinya kisah ini akan mewakili semua cerpen di buku ini bahwa isinya adalah perjalanan manusia, cinta, dan budaya. Perjalanan seorang Sunaryo Broto dengan segala romantikanya.

Sebuah perjalanan yang membawa hikmah yang memperkaya batinnya. Tentang wanita dan cinta tergambar dalam cerpen “Pesan Rindu dari Kathmandu”, “Perjumpaan di Candi Prambanan”, “Bagaimana Rasanya Dicium Artis Setenar Desy Ratnasari?”, dan “Suatu saat di Anaheim”.

Cerpen “Pesan Rindu dari Kathmandu” berkisah perjalanan mengikuti konferensi yang akhirnya mempertemukannya dengan seorang wanita. Pada akhirnya pertemuan mereka hanya sebuah cerita tentang kegagalan menyatukan cinta karena perbedaan mendasar.

Bagaimana tiba-tiba perasaan cinta Anton Tri Widodo ambyar karena masalah ciuman pipi. Lagi-lagi tentang perbedaan, dalam cerpen “Bagaimana Rasanya Dicium Artis Setenar Desy Ratnasari?”.

Kisah cinta yang cukup tragis terdapat pada judul utama buku ini. Bertemu kembali dengan sahabat masa kuliah yang pernah menumbuhkan rasa cinta, yaitu Gita. Tokoh Aku dan Gita tak dapat bersatu karena masing-masing masih harus memilih jalannya sendiri-sendiri. Tak ada yang perlu disesali, kisah di relief Candi Prambanan bertambah satu lagi dengan terukirnya kisah tokoh Aku dan Gita.

Tema cerpen yang lekat dengan sosok pengarang adalah tentang hobi atau kegemaran pada dunia seni dan sastra. Kegemaran melukis, membaca buku, dan mengoleksi buku, terurai dalam cerpen “Dialog di Rumah Hatta”, “Galeri Librari Nurseri”, “Pada Sebuah Buku, pada Seorang Kawan”, “Puisi Guru dan Sekolah Laut”, dan “Pada Sebuah Pameran Lukisan”

Tentang Kota Bontang khususnya, dan Kaltim umumnya, sebagai tempat yang penting bagi sang penulis, tergambar dalam cerpen “Telah Kususuri Jalan Ini Lebih dari Seribu Kali”, “Aku akan Kembali ke Sangalaki”, dan “Cerita Sendu dari Marangkayu”.

Analisis dan penilaian tentang buku ini akan saya mulai dari judul. Secara teoritis sebuah judul cerita fiksi haruslah memenuhi beberapa syarat. Dari beberapa sumber bahwa panjang judul harus dibatasi, mudah diingat, dan menarik.

Beberapa judul pada buku ini terlalu panjang, tidak efektif. Cerpen dengan judul “Pada Sebuah Buku, pada Seorang Kawan” bisa disingkat menjadi “Buku dan Kawanku”. Judul cerpen “Telah Kususuri Jalan Ini Lebih dari Seribu Kali” akan lebih membuat penasaran menjadi “Jalan Seribu Kali” karena makna jalan pasti disusuri, jadi tak perlu digunakan.

Satu lagi cerpen dengan judul panjang “Bagaimana Rasanya Dicium Artis Setenar Desy Ratnasari?” bisa menjadi lebih singkat dan mengundang rasa penasaran dan lebih liar jika “Dicium Artis” atau “Makna Ciuman”.

Selain judul yang ditemukan di awal cerita, sudah terdapat beberapa kata dalam bahasa Jawa yang secara penulisan sudah tepat dicetak miring, tetapi sayangnya tidak ada penjelasan berupa catatan kaki tentang maknanya.

Sesuai judul resensi ini, “Cerpenku Kisah Hidupku”, keenam belas cerpen bisa saya pastikan berkisah tentang pengarangnya. Hampir semua cerpen dengan sudut pandang pengarang sebagai pelaku utama. Ayu Utami dalam bukunya Menulis dan Berpikir Kreatif mengatakan, karakter dari diri sendiri sah-sah saja bagi penulis pemula. Tetapi jika kita akan punya banyak karya, itu berisiko membosankan. Berani melakukan riset untuk bisa membayangkan karakter di luar diri sendiri.

Hanya tiga cerpen dengan sudut pandang orang ketiga, yaitu munculnya tokoh Mukri, Anton, dan Dia (Lelaki Tua). Walaupun dengan sudut pandang orang ketiga masih tampak bahwa pengarang pun menjadi bagian dari cerita tersebut. Jadi, testimoni pada buku ini pun menegaskan penilaian ini.

Latar cerita kota Jogjakarta, desa dekat pabrik gula, Bontang, Kaltim, Tiongkok, Kathmandu, Amerika, dan beberapa tempat dalam cerpen ini adalah tempat yang pernah dijelajahi penulisnya. Kekayaan wawasan sang penulis tergambar jelas ketika ia menghubungkan semua tempat yang didatanginya dengan buku yang pernah dibacanya, dihubungkan dengan pengalaman masa kecilnya, atau dihubungkan dengan ilmu pengetahuannya.

Pengarang adalah seorang pengingat yang sangat baik. Segala hal remeh-temeh pun dapat diceritakan dengan baik. Sangat detail dalam melukiskan latar cerita menjadi kelebihan buku ini. Menurut penulis Ayu Utami, deskripsi yang bagus adalah yang data-datanya membangun makna tertentu dengan jitu. Nah, seorang Sunaryo Broto berhasil melakukan itu.

Kumpulan cerpen ini adalah kenangan manis dalam untaian kalimat yang mengalir apa adanya tanpa bermaksud untuk dilebihkan atau dikurangkan. Seandainya pengarang berani membelokkan sedikit kisah hidupnya akan mengubah pandangan bahwa kisah cerpen ini adalah sebuah dokumentasi perjalanan hidup atau biografi dalam bentuk cerita.

Nilai fiksinya akan lebih nyata jika tokoh cerita dibuat lebih antagonis, alur cerita lebih berkelok, atau akhir cerita dibuat tragis. Seandainya tokoh Gita diceritakan lebih fiksi lagi bukan seadanya Gita, maka kisah cinta Aku dan Gita akan sangat berwarna dengan konflik yang membuat pembaca lebih bergolak.

Seandainya tokoh Kristina nekad pindah ke Indonesia lagi atau tokoh Aku yang terus mengejar cinta Kristina pasti akan banyak konflik yang membuat cerpen lebih hidup. Pembaca “gemas” dengan tokoh aku yang terkesan “pasrah” dengan nasib cintanya. Mengapa tak diperjuangkan! Tetapi itu semua tidak terjadi karena Sunaryo “belum berani” membelokkan cerita menjadi lebih fiksi.

Mungkin di karya-karya selanjutnya pengarang harus lebih berani keluar dari gaya seadanya itu. Bisa dibayangkan jika ide cerita seorang Sunaryo Broto lebih liar. Kemampuan mendeskripsikan secara detail bisa sangat membantu menghidupkan cerita apalagi ditambah dengan alur cerita yang bergejolak dan konflik yang tajam.

Hal itu terjadi karena pengarang menceritakan apa adanya seada-adanya. Kurang sedikit bumbu-bumbu penggunaan majas atau gaya bahasa agar lebih nyastra. Untuk sebuah fiksi, cerpen-cerpen Sunaryo terlalu datar, kurang ekstrem. Jarang sekali ada konflik, kalaupun ada hanyalah konflik batin yang jauh tersembunyi di dalam hatinya yang akan dinikmatinya sendiri tak ingin dibagikan.

Sebuah karya yang kuat adalah yang penting sekaligus menarik. Artinya, memiliki sisi positif dan negatif sekaligus. Sisi negatif suatu kutub dapat diimbangi dengan meningkatkan sisi positifnya. Pengarang berada di antara kutub-kutub yang berlawanan. Dia menjadi semacam poros (Utami, Ayu: 30).

Ide cerita dalam buku ini terlalu konkret dan logis karena bersumber dari kisah nyata sehingga harus dicarikan sebuah kejutan-kejutan agar cerita menjadi tidak mudah ditebak atau agar tidak membosankan.

Jika unsur intrinsik alur dan penokohan kurang kuat, maka masih ada unsur intrinsik yang menjadikan kekuatan buku ini, yaitu latar cerita dan amanat. Pengarang sangat apik mendeskripsikan semua latar cerita dalam cerpen ini. Terasa hidup dan nyata. Pembaca seakan dibawa berpetualang mulai desa di Indonesia hingga Amerika. Kita dibawa traveling mengenal sandal, minyak wangi, buku, lukisan, candi, hingga tukik Sangalaki.

Nilai-nilai moral, religius, sosial, pendidikan, dan budaya yang terkandung di dalam buku ini sangat dalam. Putu Wijaya mengatakan, cerpen yang bagus adalah cerita yang menyajikan pengalaman batin penulisnya dan memberikan pengalaman batin kepada pembacanya.

Seorang Sunaryo Broto telah berhasil menyaripatikan perjalanan kehidupannya dan dibagikan kepada pembacanya dengan tulus. Setiap perjalanannya selalu ada hikmah yang disadarinya betul bahwa itu semua telah menjadi bagian dari garis kehidupan yang harus disyukuri dan telah ditentukan oleh Yang Mahakuasa.

Salam hormat untuk Bapak Sunaryo Broto, guru saya. (***/dwi/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 10:40

Hoax Aplikasi PeduliLindungi Buatan Singapura

KABAR palsu kali ini menyasar aplikasi pelacakan kontak digital untuk Covid-19…

Sabtu, 18 September 2021 10:37

Klaim Keliru Penyebab Kematian Burung Pipit di Bali

ISU chemtrails atau jejak kimiawi di angkasa kembali mencuat beberapa hari…

Sabtu, 18 September 2021 10:36

Kabar Menyesatkan tentang Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air

SIAPA pun yang membaca unggahan akun Facebook Tri Handayani pada 12…

Sabtu, 18 September 2021 10:33

Hoax Warga Dayak Gagalkan Pemindahan Ibu Kota Negara

KABAR tentang suku Dayak yang mengusir dan menggagalkan pembangunan ibu kota…

Kamis, 16 September 2021 11:59

Salah Foto Perempuan Afganistan Tempo Dulu

NASIB perempuan Afganistan setelah Taliban kembali berkuasa banyak menjadi pembicaraan…

Selasa, 14 September 2021 11:22

Hoax Suku Baduy Tak Pernah Divaksin

 ENTAH dari mana sumbernya, akun Twitter mujahidin_banten5th atau @Lordzombie12 tiba-tiba…

Selasa, 14 September 2021 10:14

Hoaks Jokowi Tak Pernah Ucapkan Belasungkawa

Netizen yang satu ini sepertinya tidak pernah membaca berita. Dia…

Selasa, 14 September 2021 10:13

Awas Situs Palsu Pengecekan Bantuan Sosial

KABAR yang dibagikan ulang akun Facebook Hendra Asstawinatta kemarin memang…

Jumat, 10 September 2021 12:34

Hoax Foto Pemimpin Taliban Minum Miras di Jet Pribadi

AKUN Twitter @Haru0neday2813 membagikan foto plus narasi yang berusaha menyudutkan Taliban.…

Kamis, 09 September 2021 10:35

Hoaks Pilot Wanita Afganistan Dirajam

INFORMASI palsu yang menumpang isu pergolakan di Afganistan masih banyak ditemui…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers