MANAGED BY:
SELASA
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Jumat, 13 November 2020 13:00
Duet Berujung Duel
Ismet Rifani

Oleh Ismet Rifani

SEMUA bulan madu ada batasnya. Duet RR, Rizal- Rahmad, yang digadang-gadang terbaik buat warga Balikpapan pada Pilwali 2016 ambyar. Rumor perpecahan keduanya yang lama berembus di luaran akhirnya terbaca jelas pada pilwali tahun ini.

Rizal yang idealnya memberi karpet merah dan memuluskan langkah Rahmad sebagai suksesornya di Balai Kota, sebagaimana wali kota pendahulunya Imdaad Hamid, justru terkesan menjegal.

Secara implisit, Rizal memang tak pernah terang-terangan menyebut tak mendukung, atau akan mengganjal langkah wakilnya itu menduduki kursi yang akan ditinggalkannya.

Tapi, sikap DPD Partai NasDem Balikpapan, di mana Rizal menjadi ketuanya, tak memerlukan penjelasan lebih lanjut ke arah mana keberpihakan Rizal.

NasDem punya warna jelas. Pilkada Balikpapan harus dimenangi Kokos. Ini akronim kolom kosong atau sering diplesetkan kotak kosong, satu-satunya lawan paslon Rahmad Mas’ud dan Tohari Azis (RT), setelah hampir semua partai politik pemilik kursi di DPRD Balikpapan berbondong-bondong mengusung dan mendukung pasangan dari Partai Golkar dan PDIP ini dalam Pilkada 9 Desember mendatang.

Sudah banyak cerita mengapa kepala daerah dan wakilnya yang àwalnya sangat kompak justru pecah kongsi di tengah jalan. Contoh gamblang dan mudah dicek data digitalnya adalah Adam Malik, wakil wali kota Bontang 2000-2004. Adam pernah bersuara lantang di media ia tak pernah mendapat peran penting. Ia malah seakan jadi ban serep. Bahkan satu satunya surat yang ditekennya selama jadi wakil wali kota adalah yang berkait akta lahir.

Merasa tak diperlukan, tak terlalu difungsikan, kerap ditinggalkan untuk urusan strategis, sudah habis kesabaran, adalah sejumlah keluhan mengapa wakil yang tadinya teman seiring sejalan justru memilih bertarung dengan wali kota/bupati.

Rizal bukannya tak pernah mengalami hal itu, saat wakilnya Heru Bambang memilih berhadap-hadapan dengannya di Pilkada 2016.

Tapi bukankah itu hal yang lazim. Kepala daerah yang masih punya hak maju dalam pilkada tentu akan memaksimalkan semua ruang dan kesempatan agar peluang ia terpilih kembali masih dan makin besar. Meski itu artinya ada hati yang terluka. Tiga kata terakhir tadi persis judul lagu Betharia Sonata yang sangat populer pada awal 90-an. Mungkin begitu, kira-kira perasaan wakil yang terpinggirkan.

Kembali ke Rizal-Rahmad, tentu warga jadi bertanya-tanya, ketika sudah tak bisa lagi maju dalam pilkada, bukankah sudah seharusnya Rizal memberi support pada wakilnya? Meneruskan apa yang mereka buat selama berduet.

Mengapa justru membangun tembok penolakan? Sehingga, pada akhirnya membawa-bawa ASN. Lalu, pada ujungnya harus ada maklumat larangan sosialisasi Kokos oleh ASN dari Ketua DPRD. Sesuatu yang terasa aneh. Sebab, maklumat lazimnya datang dari eksekutif yang punya bawahan.

Rizal tak pernah memberi penjelasan. Tapi, masyarakat bisa membuat asumsi dan kesimpulan sendiri. Misalnya, ini karena kader NasDem Ahmad Basir (AHB) yang getol mencalonkan diri dalam Pilkada Balikpapan tapi tak dapat dukungan partai politik. Sehingga lebih baik frontal menolak paslon RT.

Atau bisa juga Rizal melalui NasDem menawarkan kepada warga untuk menghidupkan demokrasi. Karena bukankah sebuah kontestasi harus ada lawannya, sehingga perlu mengelus-elus Kokos. Atau mungkin ada bargaining politik lain yang tak perlu diketahui warga kota. Atau seribu kemungkinan alasan lainnya.

Warga atau pemilih boleh jadi tak perlu tahu alasan itu. Tapi mencoba menyeret-nyeret ASN --meski tipis tipis-- dalam urusan pilkada jelas bukan hal elok. Selain karena telah ada larangan yang termaktub dalam UU ASN No 5/2014, pada gilirannya kerugian akan dirasakan oleh ASN itu sendiri.

Berdiri di tengah dan konsisten menjadi pelayan publik adalah satu-satunya pilihan ASN sejak kali pertama meniatkan diri menjadi abdi negara.

Tapi ini Republik 62. Ada adagium peraturan dibuat untuk dilanggar. Sudah terlalu banyak contoh, meski ada larangan, ASN condong dan mendukung salah satu paslon selalu ada dalam pilkada. Terutama mereka yang ingin mengamankan posisi jabatan, atau yang ingin cari jabatan, sekaligus menendang jauh-jauh pejabat sekarang.

Apatah lagi suara ASN dan keluarganya cukup seksi dan lumayan signifikan dalam pilkada. Di Kota Minyak misalnya, jumlah ASN di lingkup Pemkot Balikpapan mencapai 4 ribuan di luar tenaga bantu yang mencapai 6 ribu. Itu belum termasuk guru PNS dan honor yang mencapai 2 ribuan. Digabung dengan keluarga mereka, suara-suara ini terhitung lumayan.

Mereka inilah yang bisa dikapitalisasi, atau justru menjadi kompor untuk mengubah peta sebuah duet berubah jadi ajang duel. (ms/k15)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers