MANAGED BY:
SELASA
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Rabu, 28 Oktober 2020 11:32
Tentang Sebuah Kata

CATATAN

Putri Muharromiah

Sekretaris Redaksi Kaltim Post

 

 

OKTOBER dipilih sebagai Bulan Bahasa dan Sastra. Itu merujuk pada sejarah bangsa kita. Pada bulan ini tepatnya 28 Oktober yang diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ditetapkan pula bahasa resmi yang akan digunakan untuk bahasa sehari-hari dalam bermasyarakat yakni bahasa Indonesia.

Menurut sejarahnya, bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu. Yang berasal dari Sumatra. Melayu tinggi dan Melayu pasar menjadi bahasa Melayu yang berkembang pada saat itu.

Dari penyebutannya saja sudah sangat jelas. Ya, betul sekali bahasa Melayu tinggi kerap digunakan oleh petinggi-petinggi negara atau para bangsawan pada era itu. Sedangkan Melayu pasar kerap digunakan oleh para petani, buruh, pekerja, dan orang-orang yang menghabiskan kesehariannya di pasar.

Namun, pada perkembangannya bahasa Melayu pasarlah yang lebih berkembang dan menjadi bahasa keseharian 268 juta jiwa masyarakat Indonesia. Hingga saat ini.

Dalam perkembangannya bahasa Indonesia bersifat lunak dan terbuka. Menyerap banyak bahasa daerah maupun bahasa internasional. Termasuk bahasa tutur yang terkadang diakronimkan (disingkat) sehingga membentuk sebuah kata baru.

Yang dianggap dapat mempermudah penggunanya dalam bertutur sehari-hari. Sebut saja kata pansos akronim dari panjat sosial, yang berarti usaha untuk mencitrakan diri sebagai seseorang yang punya status sosial tinggi.

Ada lagi maksi, yang merupakan akronim dari makan siang. Bahkan, kata julid yang entah dari mana asal katanya, yang jelas semua kata-kata di atas sudah ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti sudah sah dan diterima oleh bangsa Indonesia sebagai bahasa Indonesia.

Fenomena kata-kata gaul seperti itu, yang lazim disebut bahasa slang. Baru-baru ini ramai diperbincangkan. Sebuah kata yang begitu sering kita jumpai di media sosial maupun dalam keseharian. Sebuah kata yang entah mengapa bisa “cocok” menyimbolkan berbagi rasa.

“Anjay” bagusnya mobilnya, “anjay” itu pacarmukah, “anjay” ibunya baik banget tahu. Dan tentunya masih banyak lagi kalimat-kalimat yang entah positif ataupun negatif selalu didahului dengan kata “anjay”.

Belum lama ini seorang YouTuber mempermasalahkan kata itu. Bahkan, dia membuat aduan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menurut dia, kata “anjay” adalah kata negatif yang tidak pantas dituturkan, khususnya bagi anak di bawah umur.

Kata “anjay” ini sebenarnya berawal dari kata yang kurang baik yang diperhalus dalam penggunaannya. Tahu ataupun pura-pura tidak tahu kata “anjay” memang pelesetan dari kata “anjing”.

Dilihat dari ilmu linguistik dalam hal ini bahasa tutur, yang dalam bahasa Indonesia itu dibagi dalam dua hal. Yang pertama kata, yang kedua pengguna dan penggunaannya.

Kalau dalam kata, ya… tentu saja tidak ada yang salah dengan kata “anjing” yang dalam KBBI adalah binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dan sebagainya -- Canis familiaris.

Nah sementara, dari penggunaan yang di dalamnya ada pengguna bahasa tutur kata “anjay” bisa bermakna positif, bisa juga bermakna negatif. Semua tentu bergantung pada siapa dan di mana penutur menggunakannya.

Jika dalam bertutur ada yang merasa tersinggung, di situlah terjadi pelanggaran kesantunan. Sebaliknya jika di dalam bertutur dalam kelompok tertentu tidak ada yang tersinggung, maka tentu tidak ada pelanggaran apa-apa.

Misalnya kita ambil contoh kata lain, “jancok”. Bagi orang-orang Surabaya, kata “jancok” itu sudah merupakan simbol keintiman. Bahkan, dirasa akan aneh jika sesama arek Suroboyo tidak menggunakan kata “jancok” dalam komunikasi kesehariannya. Maka dalam hal itu, kata “anjay” tidak bisa digeneralisasi tentunya.

Semua bergantung pada suatu kesepakatan masing-masing kelompok yang akan menggunakan kata tersebut.

Ya, semoga fenomena kata “anjay” itu bisa menjadi pembelajaran kita bersama, bahwa bahasa adalah identitas suatu bangsa. Maka dengan begitu otomatis bahasa menjadi penggambaran suatu bangsa tentunya. Maka bijaklah dalam memilih dan memilah kata dalam bertutur. Agar martabat bangsa kita tetap terjaga. (rom/k8)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers