MANAGED BY:
SABTU
24 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 24 Oktober 2020 13:57
Cadangan Batu Bara Kaltim 4,6 Miliar Metrik Ton

Hilirisasi Mulai Dilakukan di Kutim, Bakrie Group Bangun Pabrik Methanol

Cadangan batu bara Kaltim masih besar.

Dia mengatakan, pada industri hulu, batu bara tinggal mengeksplorasi lalu mengekspornya. Kemudian berbeda jika harus mengolahnya menjadi produk turunan. Terpisah, Kepala Perwakilan BI Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, industri methanol cukup menjanjikan. Asalkan, semua terintegrasi. "Ketika methanol sudah ada, akan dibuat apalagi. Sehingga industri akan tumbuh di sana," paparnya.

Apalagi, kebutuhan methanol Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 1,2 juta ton per tahun dan hanya dipenuhi dari satu produsen methanol existing dengan kapasitas produksi 660 ribu ton per tahun. Hilirisasi batu bara ke methanol dirasakan menghadapi tantangan, terutama regulasi dan insentif. Insentif ini yang kemudian disebut-sebut diatur dalam Omnibus Law Cipta Kerja. Di mana perusahaan batu bara yang melakukan hilirisasi bebas royalti 0 persen. Dengan catatan, melakukan hilirisasi.

Namun insentif itu dinilai Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Samarinda Eko Priyatno belum menjawab masalah hilirisasi. "Hilirisasi mau dibuat apa? Mau dibuat gas misalnya. Kalau dibuat gas harganya lebih mahal biayanya daripada gas asli naturalnya," kata Eko kepada Kaltim Post, Kamis (22/10), sambil menyatakan regulasi tersebut masih jadi perdebatan. Menurut dia, hilirisasi batu bara di Kaltim masih berat. Apalagi saat ini harga emas hitam cukup rendah. Eko menjelaskan, hilirisasi berarti mengubah batu bara menjadi produk lain. Baik produk gas maupun produk lain untuk dijual lagi.

Diakuinya, teknologi untuk mendukung hilirisasi batu bara memang sudah ada. Tetapi biaya teknologi untuk membuat hilirisasi juga cukup tinggi. Karena itu, dia menilai masih menguntungkan batu bara dijual dalam bentuk mentah. Sebaliknya, mengolahnya jadi produk lain, seperti gas, tidak menguntungkan bagi pengusaha. Apalagi, dia menilai, harga gas juga tidak ekonomis saat ini.

"Kalau hilirisasi mungkin dikompensasi dengan biaya peningkatan, dengan pengurangan royalti. Kemungkinan arahnya begitu. Misalnya kalau ada nilai tambah didapat pemotongan. Clue-nya dipersiapkan seperti itu. Untuk hilirisasi memang agak berat karena teknologi cukup mahal. Itu saja sih, tapi juga masih debatable masalah aturan ini," ungkapnya. (nyc/riz/k8)

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Selasa, 07 Agustus 2012 12:02

Permendagri Tetapkan Batas Balikpapan-PPU

<div> <p style="text-align: justify;"> <strong>BALIKPAPAN - </strong>Pemerintah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers