MANAGED BY:
SELASA
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Senin, 19 Oktober 2020 17:06
Pesona Air Terjun Narkata
MASIH ALAMI: Air terjun Narkata menjadi salah satu calon destinasi wisata alam baru yang potensial di Kutai Timur.

Takkan mudah untuk menjamah keindahannya yang bak surga. Perlu upaya ekstra untuk bisa mengjangkau air terjun Narkata.

 

GEMURUH yang riuh memecah kesunyian rimba di kawasan Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Asalnya dari limpasan air yang mengalir bebas dari tebing berketinggian 30 meter. Orang sekitar sana menamainya air terjun Narkata. Nama itu disadur dari perusahaan kayu gelondong yang wilayah operasinya mencakup keberadaan cagar itu.

Keberadaan air terjun Narkata sejatinya sudah awam diketahui warga sekitar maupun kalangan pemburu keindahan alam Bumi Etam. Namun, untuk mencapai ke tempat tersebut tergolong menantang. Pasalnya, akses ke kawasan tersebut benar-benar jauh dari kata layak. Belum lagi waktu tempuhnya yang begitu panjang.

Bukan akses dari pintu masuk ke lokasi air terjun, melainkan jalan utama untuk menuju ke pintu masuk. Jalan berlumpur adalah tantangan terbesarnya. Berangkat dari Sangatta, ibu kota Kutim, setidaknya perlu waktu sembilan jam—dalam keadaan santai—untuk mencapai air terjun Narkata.

MENANTANG: Tidak memiliki jalur resmi membuat air terjun Narkata cukup sulit untuk dijangkau selain melalui jalur berbatu dan bertanah labil.

“Jadi, memang perlu kesiapan fisik yang prima untuk bisa mencapai ke tujuan ini,” jelas Tio. Dia salah seorang pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kutim. Dia bersama anggota HPI Kutim lainnya mengunjungi kawasan tersebut, belum lama ini.

Dari Sangatta, memerlukan waktu sekira 1,5 jam untuk mencapai Kecamatan Bengalon. Dari Bengalon, perjalanan dilanjutkan ke kawasan Muara Wahau selama tiga jam. Nah, dari kawasan Muara Wahau menuju Pintu Rimba—pintu masuk ke kawasan air terjun Narkata—memakan waktu sekira empat jam.

Di sini tantangan itu bermula. Pelancong akan berhadapan dengan jalan yang sebagian besar masih berupa tanah liat. Berdebu kala gersang. Licin dan menjebak ketika hujan baru berlalu. Karena itu, selain kondisi fisik yang prima, para pelancong dianjurkan menggunakan perlengkapan outdoor untuk menunjang kegiatan yang menantang.

"Jika di Jawa air terjunnya mudah didatangi, apalagi kalau jadi tempat wisata, tinggal datang langsung sampai. Kalau di Kutim, kita harus trekking dulu," ujarnya saat diwawancarai Kaltim Post, Sabtu (10/10).

Dia pun menganjurkan agar calon pengunjung bisa mempersiapkan logistik yang memadai. Termasuk mengatur asupan kalori untuk memenuhi kebutuhan energi sepanjang perjalanan ke lokasi. Bekal makanan berat hingga camilan seperti cokelat atau gula merah disarankan untuk menjadi sumber energi.

NATURAL: Aliran dari air terjun Narkata memecah melalui sela-sela batu yang berukuran besar.

"Untuk perjalanan menuju ke sana saja harus melewati jalan perusahaan sawit dan log. Kemudian saat memasuki pintu rimba (akses utama menuju air terjun Narkata), agak sulit ditembus, karena jalanannya masih tanah hitam. Apalagi setelah hujan, becek tidak beraturan," tuturnya. "Kami atur ritme perjalanan, kalau capek istirahat sebentar," tambahnya.

Selain logistik yang memadai, pemilihan perlengkapan, ucap dia, tidak kalah krusial. Alas kaki seperti sepatu trekking alias sepatu gunung sangat dianjurkan. "Sebelum perjalanan, saya mengingatkan teman-teman di rombongan agar pakai kelengkapan outdoor atau adventure. Itu sangat menolong kami untuk tetap nyaman sampai ke tujuan," tambahnya.

Lelahnya perjalanan selama sembilan jam seketika sirna ketika sibakan daun terakhir menampilkan pesona alami air terjun Narkata. Berada di dataran tinggi membuat air terjun bertatapan dengan hamparan rimba Kutim yang masih natural.

Karena masih begitu alami, dia mengingatkan agar para pengunjung benar-benar memerhatikan kebersihan selama perjalanan. Pastikan tidak meninggalkan sampah sepanjang perjalanan pergi hingga pulang. “Jangan berbuat kerusakan. Ini adalah aset pariwisata yang harus dijaga bersama-sama,” tegas dia. (*/la/ndy/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 10:48

Tak Hanya Minum Obat, Ini 5 Cara Turunkan Tekanan Darah Secara Alami

Rutin cek tekanan darah akan membantu seseorang terhindar dari penyakit…

Sabtu, 18 September 2021 10:47

Stop Minum Obat Hipertensi Mendadak, Ini Alasannya

Pasien tekanan darah tinggi atau hipertensi umunnya diberikan pengobatan oleh…

Sabtu, 18 September 2021 10:46

Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga Tingkatkan Kekebalan 10 Kali Lipat

Vaksin Covid-19 dosis ketiga mampu meningkatkan perlindungan kekebalan sepuluh kali…

Selasa, 14 September 2021 12:44

Si Kecil Malas Mandi, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua

Mengajak si kecil mandi terkadang menjadi sebuah tantangan yang tidak…

Selasa, 14 September 2021 12:38

Kenali Angin Duduk, Nyeri Dada Picu Serangan Jantung

Angin duduk adalah nyeri dada yang muncul akibat adanya gangguan…

Selasa, 14 September 2021 10:27

Kreatif dan Adaptif

SIAPA sangka sosok perempuan inspiratif seperti Anne Avantie mengaku kurang…

Jumat, 10 September 2021 13:18

Selain Terlanjur Nyaman, Ini 8 Alasan Seseorang Selingkuh

Selingkuh atau pengkhianatan adalah pelanggaran dalam hubungan yang sulit untuk…

Jumat, 10 September 2021 13:10

Grilled Lamb Soup & Pina Colada, Sajian Daging Lembut serta Minuman Segar

Apa rasanya menyantap daging domba? Serupa namun tak sama dengan…

Jumat, 10 September 2021 13:08

Sedapnya Sapo Tofu Udang Galah

JIKA mendengar kata sapo tofu, penampilannya pasti semangkuk hidangan dengan…

Jumat, 10 September 2021 13:04

Lakukan 7 Ribu Langkah Sehari, Panjang Umur dan Jantung Sehat

Olahraga dan aktivitas sehari-hari tak perlu mahal. Salah satu gerakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers