MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Sabtu, 29 Agustus 2020 11:53
Di Balik ’’Tilik” dan Bertumbuhnya Atmosfer Film-Film Pendek di Jogjakarta (2-Habis)
Ide Dibebaskan, tapi Harus Gambarkan Dinamika Masyarakat Jogja
Budi Tobon

Tiap tahun rata-rata tujuh sineas mendapatkan danais untuk membiayai film pendek mereka. Pembelanjaan dana itu harus dilakukan di Jogjakarta.

 

SHAFA NADIA, Jogjakarta, Jawa Pos

 

BUKALAH YouTube, Anda akan menemukan betapa banyak ’’kawan-kawan” Tilik di sana. Film-film pendek besutan para sineas Jogjakarta dan ber-setting di sekitar Kota Gudeg itu pula.

Happy Family, Jogja Kembali, Jamu: Warisan Antar Generasi Perempuan, serta Nini Thowong adalah sejumlah contoh. Dan, peran besar dana istimewa (danais) harus disebut di tengah terciptanya atmosfer kondusif itu.

’’Animo masyarakat sangat tinggi. Tahun lalu kami menerima 150 proposal (pembuatan film) dan tahun ini sudah 50 yang masuk meski penutupan baru dua bulan lagi,” kata Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIJ (Daerah Istimewa Jogjakarta) Sri Eka Kusumaning Ayu kepada Jawa Pos.

Sejak UU Keistimewaan disahkan pada 2012, Jogjakarta mendapatkan dana istimewa yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pemerintah pusat. Salah satu aliran dana tersebut diperuntukkan kemajuan industri film pendek Jogjakarta melalui dinas kebudayaan.

Dalam tahap proposal, para pengajunya menyampaikan gagasan-gagasan pokok. Yang berhak lolos ke tahap presentasi adalah sutradara atau produser yang memiliki gagasan kuat.

Presentasi pun dilakukan secara terbuka di hadapan awak media dan para peserta lain. Dengan begitu, tidak ada kesempatan untuk kongkalikong antara kurator dan peserta. ’’Urgensinya lima kuota judul film, tapi yang kami loloskan tujuh setiap tahun,’’ ucap salah seorang kurator, Senoaji Julius, ketika ditemui Jawa Pos di kediamannya di Jogjakarta Sabtu lalu (22/8).

Awalnya, pada 2013, ada tujuh judul film yang berhasil mendapatkan danais, tapi masih melalui sistem penunjukan langsung oleh dinas kebudayaan (disbud).

Nah, dari tujuh rumah produksi itu, diambillah lima orang yang ditunjuk sebagai kurator dengan bidang masing-masing. Di antaranya, perwakilan akademisi dan budayawan.

Mereka bertugas mengurasi judul film yang cocok didanai danais. Sebab, menurut Seno, sapaan akrab Senoaji Julius, bila hanya pihak disbud yang menentukan, khawatir film yang diproduksi melandai dan terkesan itu-itu saja.

’’Kalau ada kurator kan ada unsur budayawan, filmmaker, dan lainnya. Jadi beragam,’’ katanya.

Budi Tobon, sutradara Nini Thowong, juga mengakui, film-film yang didanai danais jadi lebih berwarna sejak ada para kurator.

’’Dulu, mohon maaf filmnya gitu-gitu aja karakternya. Istilahnya seperti film TVRI zaman lawas,’’ tutur Budi yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tentu ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi bila ingin mendapatkan danais. Yaitu, terdapat unsur dinamika kehidupan masyarakat Jogjakarta. Entah itu tangible (nyata) maupun intangible (imajinatif) yang disampaikan secara universal.

Tradisi tilik (menengok/membesuk) yang diangkat dalam Tilik adalah contoh film dengan tema tangible. Contoh lain, Loz Jogjakartoz karya Sidharta Tata yang bertutur tentang kehidupan malam di Kota Gudeg itu.

Syarat lain, durasi film minimal 15 menit dan maksimal 30 menit. Selain itu, sutradara maupun produser harus ber-KTP asli Jogjakarta. Atau jika mahasiswa, boleh menggunakan kartu penduduk domisili.

Seno menyebutkan, besaran dana untuk tiap-tiap film mencapai Rp 180 juta yang diturunkan ke dalam tiga termin. Ketentuan lain secara teknis, dana tersebut harus dibelanjakan di Jogjakarta agar mendorong perputaran ekonomi. ’’Kalau ada set di luar Jogja, nggak papa. Tapi, tetap harus lebih dominan di dalam Jogja,’’ ujarnya.

Pendaftaran program danais dibuka setiap tahun. Khusus tahun ini, pendaftaran dibuka dua kali lipat lebih lama waktunya. Yakni, Februari–Oktober. Jumlah film yang akan didanai juga dua kali lipat, yakni 10 judul.

’’Jadi, tahun ini fokus pendaftaran, tahun depan tinggal produksinya. Tapi, dengan catatan Covid-19 sudah menghilang,’’ ujar Seno.

Pada 2014–2020 para kurator dan disbud juga pernah sepakat memilih hingga 15 judul film. Namun, pada akhirnya jumlah itu juga memengaruhi besaran dana yang didapat para filmmaker, yakni hanya berkisar Rp 50 juta–Rp 80 juta. Sampai pada akhirnya kembali lagi tujuh judul film yang terpilih.

Untuk film-film yang telah diproduksi dengan danais, hak ciptanya milik pemerintah. Namun, semua penghargaan yang didapat tetap milik para kreator. Sineas atau produser yang sudah dua kali mendapat danais tak boleh lagi mengajukan proposal.

’’Jadi, ini bukan lomba, melainkan pemberdayaan sekaligus edukasi. Makanya, namanya fasilitasi film danais karena Undang-Undang Keistimewaan,’’ imbuh Seno.

Kendati begitu, menurut dia, pemerintah tetap perlu meningkatkan disiplin-disiplin kecil. Misalnya, soal anggaran film yang sebetulnya tidak bisa dipatok sejak awal. Sebab, dana harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Selain itu, soal satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) yang selalu berubah kepemimpinan serta kebijakan. ’’Yang diganti nggak pernah mewariskan apa yang sudah dilakukan secara sistematis kepada yang baru. Makanya, setiap SKPD ganti, waktu kita habis untuk me-workshop-i mereka,’’ jelasnya.

Yang juga bisa digarisbawahi, film-film yang disokong danais tak tampak dibebani pesan sponsor yang berlebihan. Loz Jogjakartoz, misalnya, malah bicara tentang premanisme dalam beragam bentuknya yang ada di Jogjakarta. Dengan diwarnai adegan kekerasan berujung kematian di dalamnya.

’’Pembuat film memang dibebaskan secara ide. Namun, film harus menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Jogjakarta,” kata Seno.

Catatan lain disampaikan Budi Tobon. Menurut dia, ketegasan visi program danais perlu diperkuat dan digodok lagi. Dalam arti tidak sekadar mengejar prestasi, tapi juga efek ke depannya bagi masyarakat.

Misalnya, adanya film pendek yang berkualitas dan bersanding di kancah internasional, seharusnya, menurut dia, bisa mendatangkan lebih banyak turis. Dengan begitu, perekonomian masyarakat Jogjakarta akan lebih baik.

’’Contoh film panjangnya tuh Ada Apa dengan Cinta 2 (yang mayoritas setting-nya di Jogjakarta) yang sudah bisa meneruskan gagasan seperti itu. Masak cuma mau ngejar prestasi aja selamanya?’’ tuturnya.

Senada dengan Senoaji, dia juga berharap disbud bisa memperbaiki sistem birokrasinya. ’’Masak setiap ganti orang atau pemimpin, kami harus mengulang-ulang gagasan lagi?’’ ujarnya. (*/c7/ttg)


BACA JUGA

Rabu, 22 September 2021 14:05
Dari FGD Indeks Keterbukaan Informasi Publik Provinsi Kaltim

Debat Hangat Wakil Pengusaha soal Sosialisasi Pergub

Proses penyusunan Indeks Keterbukaan Informasi Publik (IKIP) Kaltim berlangsung sejak…

Sabtu, 18 September 2021 12:33

Pengabdian Nakes Berakhir Pilu di Pedalaman Papua, Sembunyi Kamar Mandi Hingga Memilih Lompat ke Jurang

Penyerangan yang dilakukan KKB pimpinan Lamek Taplo di Distrik Kiwirok,…

Sabtu, 18 September 2021 12:31

Sempat Ditembaki, Jenazah Tenaga Kesehatan Gabriella Berhasil Dievakuasi

JAYAPURA-Jenazah tenaga kesehatan (nakes) Gabriella Meilani (22) yang gugur saat…

Rabu, 15 September 2021 14:45
Kelompok Belajar Disesuaikan dengan Jumlah HT yang Ada

Cek... Cek... Cek... Melalui Handy-Talkie, Mereka Belajar Jarak Jauh

Pengalaman sebagai relawan bencana menggerakkan Yayat Hasatul Hasani memanfaatkan handy-talkie…

Rabu, 15 September 2021 13:39

Dosen UWKS Ciptakan Gula yang Ramah untuk Penderita Diabetes

Di tangan tiga srikandi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), nira…

Jumat, 10 September 2021 10:40

Ingin Ubah Monyet Ekor Panjang Jadi Potensi Wisata

Primata berekor panjang atau makaka masih dipandang sebagai hama. Lantaran…

Jumat, 10 September 2021 10:35

Kekurangan Fisik Tak Halangi Berprestasi

Keterbatasan fisik bukan hambatan. Nanda Mei tetap bisa mendulang prestasi.…

Rabu, 08 September 2021 10:28

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (2-Habis)

Penerima kompensasi terbanyak tak tertarik mobil baru dan memilih berinvestasi.…

Selasa, 07 September 2021 09:31

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (1)

Ada yang memborong tiga mobil dalam hitungan hari setelah kompensasi…

Jumat, 03 September 2021 12:54

Tiga Polwan Polda Kaltim Bawa Misi Perdamaian ke Afrika Tengah

1 September merupakan hari lahirnya polisi wanita (polwan). Menginjak usia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers