MANAGED BY:
SENIN
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Jumat, 07 Agustus 2020 12:00
Impor Tidak Selalu Negatif
BONGKAR MUAT: Kesibukan di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, beberapa waktu lalu. Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

PROKAL.CO,

SURABAYA – Saat kondisi perekonomian tidak pasti seperti sekarang, importasi menjadi penting. Sebab, aktivitas itu bisa mendorong tumbuhnya investasi. Sampai saat ini, 72 persen barang yang didatangkan dari luar negeri adalah bahan baku dan bahan penolong.

Ketua Umum Gabungan Importer Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi mengatakan bahwa kontribusi bahan baku dan bahan penolong mendominasi impor. Komposisinya sampai 72 persen. Sisanya sebanyak 18 persen adalah barang modal dan 10 persen merupakan barang konsumsi.

’’Dengan demikian, impor itu penting. Tetapi, selama ini kegiatan impor dipandang negatif,’’ katanya  (5/8). Dengan komposisi impor bahan baku dan bahan penolong yang mencapai 72 persen, pemenuhan kegiatan produksi di dalam negeri tinggi. Pada akhirnya, itu dapat meningkatkan investasi di dalam negeri.

Peran impor yang penting tersebut, lanjut dia, harus diikuti dengan regulasi yang berpihak pada importer. ’’Meski demikian, kami berharap tidak ada importer yang salah dalam menjalankan usaha karena seluruh importer berperan menjalankan kegiatan usaha sesuai peraturan,’’ ujarnya. GINSI terbuka dan siap menjadi mitra pemerintah dalam menyosialisasikan peraturan dan mendampingi pelaku usaha importasi.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung mengungkapkan bahwa pembatasan kegiatan importasi sudah tidak sesuai lagi. Sebab, ada produk impor yang tidak memungkinkan diproduksi di dalam negeri dengan pertimbangan efisiensi. ’’Tetapi, yang harus diperhatikan, bagaimana komponen di dalam negeri harus dibuat efisien,’’ ucapnya.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan biaya produksi yang sangat tinggi. Hal itu bisa diukur dari incremental capital output ratio (ICOR) yang nilainya lebih dari enam. Idealnya di bawah itu. ’’Artinya, untuk menghasilkan satu output, dibutuhkan capital sebanyak enam kali lipat sehingga menambah biaya bagi produsen,’’ ungkapnya.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 31 Januari 2020 11:47

Tambah Satu Crane, PT Pelindo IV Matangkan Rencana Pengembangan Semayang

PT Pelindo IV Balikpapan optimistis kinerja sepanjang tahun ini lebih…

Kamis, 30 Januari 2020 15:04

Jadi Favorit, Permintaan Kopi Terus Naik

SURABAYA– Permintaan kopi dalam negeri terus meningkat. Itu tidak terlepas…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

RUU Omnibus Law Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan omnibus law bisa mendorong kinerja…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

Kunjungan Bisnis Terganggu Corona

SAMARINDA – Penyebaran wabah virus corona berpotensi menghambat pengusaha dalam…

Rabu, 29 Januari 2020 13:09

Krakatau Steel Restrukturisasi Utang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk berhasil merestrukturisasi utang senilai…

Rabu, 29 Januari 2020 12:07

Target Integrasikan Pelabuhan di Kaltim

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV siap mendukung berjalannya…

Selasa, 28 Januari 2020 13:40

Garap Mobil Listrik Hyundai Inves USD 750 Juta

JAKARTA– Grab Indonesia bekerja sama dengan PT Hyundai Motor Indonesia…

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Bantu UMKM Perluas Pasar

SAMARINDA- Tak hanya mempermudah pelaku usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 28 Januari 2020 10:42

Pertahankan Resep Warisan Mertua, Terbantu Marketplace

Menjaga konsistensi rasa masakan dan memuaskan pelanggan menjadi kunci sukses…

Senin, 27 Januari 2020 12:09
Menjaga Eksistensi Usaha ala Hadlan Feriyanto Munajat

Jangan Lupa Bahagia, Kombinasikan Hobi dengan Bisnis

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Tapi akan lebih memuaskan jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers