MANAGED BY:
RABU
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 22 Juli 2020 13:06
Kotak Kosong

PROKAL.CO,

Catatan: Faroq Zamzami

(Pemred Kaltim Post)

 

 SAYA mencium aroma ini; sejumlah partai politik di Balikpapan "enggan berkompetisi" pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 9 Desember nanti. Mereka terkesan cari aman. Mendukung calon incumbet. Bisa jadi, versi mereka, pilihan itu karena belum ada sosok yang dinilai mampu bersaing melawan incumbent. Atau mereka ingin instan. Memilih yang sudah ada.  Itu artinya, partai politik yang ada tak mampu menghadirkan figur alternatif. Padahal Balikpapan rasa-rasanya tak kekurangan tokoh yang layak untuk maju dalam suksesi demokrasi. Tak hanya dari internal partai. Seperti Ahmad Basyir yang sejak namanya "diizinkan" maju oleh NasDem, gencar melakukan sosialisasi, memperkenalkan diri. Lewat kunjungan, hadir di media massa, sampai baliho dan billboard. Dia juga hadir dalam berbagai kegiatan sosial, membantu warga kurang mampu sampai merilis ambulans yang ada foto AHB di bodinya. Namanya pun semakin dikenal warga.

 Atau sosok di luar partai politik, dari kalangan pengusaha, macam Yaser Arafat yang sampai saat ini tetap melakukan sosialisasi mendatangi warga. Bikin acara yang melibatkan masa dengan timnya yang banyak anak-anak muda. Juga ada nama Abriantinus yang terus menyosialisasikan diri. Jadi kota ini tak kekurangan tokoh mumpuni sebenarnya. Itu baru dari kalangan "muda". Belum lagi tokoh-tokoh senior, yang kalau mereka mau turun gunung, tak kurang-kurang jumlahnya di kota ini.

 Ya, cari aman dengan pragmatisme memang sangat beririsan. Cari aman dan realistis memang susah dipisahkan. Pragmatisme, cari aman, atau realistis, apa itu salah, tentu tidak. Sama sekali tidak salah. Tapi kehidupan demokrasi di kota ini terancam, karena peluang besar publik jadi semakin acuh. Angka golongan putih (golput) berpotensi meninggi. Ingat ini bukan asumsi. Ada bukti nyata dari pilkada Makassar, Sulawesi Selatan, yang memenangkan kotak kosong. Kotak kosong pada pilkada tahun lalu itu menang dengan 53 persen suara. Artinya, suksesi harus diulang.   

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 20 Oktober 2020 17:43

Ian Singleton, Konservasionis Orang Utan, Penerima Order of the British Empire

Puluhan tahun dihabiskannya di hutan-hutan Sumatera untuk melakukan penelitian dan…

Selasa, 20 Oktober 2020 17:27

Presiden Minta Soal Vaksin Jangan Tergesa-Gesa

JAKARTA– Urusan vaksinasi Covid-19 menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Dia…

Selasa, 20 Oktober 2020 11:12

Indonesia Mau Beli Jet Tempur F- 35...??

JAKARTA – Komisi I DPR RI merespon positif kunjungan Menteri…

Selasa, 20 Oktober 2020 10:21

Mulai Bulan Depan, 9,1 Juta Orang di Indonesia Divaksin

JAKARTA- Mulai bulan depan, alias bulan November hingga Desember 2020,…

Senin, 19 Oktober 2020 18:00

Terminal Batu Bara Curah Ditutup, Pemprov: Tak Pengaruh ke PAD

BALIKPAPAN-Pro dan kontra penutupan terminal batu bara curah di kawasan…

Senin, 19 Oktober 2020 15:58

Buruh Minta Upah Minimum 2021 Tetap Naik

 JAKARTA-- Jelang penetapan upah minimum 2021, serikat pekerja/buruh menuntut agar…

Senin, 19 Oktober 2020 15:52

Maksimalkan Industri Hilir Batu Bara

Pengusaha batu bara di Kaltim dan pemerintah daerah diminta satu…

Senin, 19 Oktober 2020 15:50
Alotnya Repatriasi Barang-Barang Bersejarah Indonesia di Belanda

Akankah Berlian Banjarmasin Kembali ke Indonesia?

Yang paling menjadi pertimbangan pemerintah sebelum mengajukan permintaan pengembalian: nilai…

Senin, 19 Oktober 2020 15:43

Nogo Siluman, Kembali Dua Abad Kemudian

DI MANA sejatinya keris Kiai Nogo Siluman? Kalau disimpan di…

Senin, 19 Oktober 2020 12:20

Kebangkitan Pariwisata Balikpapan di Era New Normal

ADA QR   OKTAVIA MEGARIA/KP AGAR PARIWISATA MENGGELIAT: Hetifah Sjaifudian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers