MANAGED BY:
SENIN
02 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Senin, 20 Juli 2020 10:36
Waspada Gangguan Kulit yang Tak Bisa Sembuh
dr Vera Pravitasari (RADEN RORO/KP)

PROKAL.CO,

SEAKAN tidak peduli, masyarakat kerap saja percaya dengan kosmetik ilegal. Tidak memiliki izin edar, menawarkan khasiat instan.

Itulah yang dijelaskan Vera Pravitasari, dokter di salah satu klinik kecantikan di Samarinda. Sudah banyak pasien yang datang, mengeluhkan sakit atau gangguan kulit dari penggunaan produk kecantikan ilegal. “Beberapa pasien datang dengan kondisi kulit rusak akibat krim abal-abal,” sebut dia.

Ada juga pasien yang mengeluhkan munculnya stretch mark atau striae atrofi, guratan merah yang muncul di bagian tubuh yang dioles. Umumnya lengan dan paha atas. Setelah ditelusuri, ternyata si pasien menggunakan handbody racikan dosis tinggi. “Awalnya pasien denial atau tidak percaya jika krim itu penyebabnya,” lanjut Vera.

Guratan tersebut muncul tiba-tiba. Tidak gatal, tidak perih, tidak pula sakit. Pasien bingung. Ingin kulitnya kembali semula. “Terlambat, tidak bisa sembuh sama sekali,” kata Vera.

Dokter hanya bisa membantu untuk menyamarkan, itu pun pada kasus yang tidak terlalu berat. Dijelaskan jika penyebabnya adalah penggunaan kandungan steroid berlebih pada krim. Sebenarnya steroid boleh digunakan, namun perlu digarisbawahi yakni harus dalam pengawasan dokter. Penggunaannya sesuai kebutuhan.

Vera menjelaskan jika setiap pasien berbeda kondisi kulit. Ada yang membutuhkan steroid dalam jumlah tertentu. Penggunaan sesuai dosis dan ada proses tappering off. Penurunan dosis secara perlahan, dan tubuh menyesuaikan.

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 10:36

RS IA Moeis Menuju Excellent Service

<div style="text-align: justify;"> <strong>LANGKAH</strong> cepat untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers