MANAGED BY:
SABTU
08 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Sabtu, 11 Juli 2020 10:48
Neraca Perdagangan Kaltim Sentuh Titik Terendah
CARI SOLUSI: Kegiatan bongkar muat.

PROKAL.CO,

SAMARINDA–Neraca Perdagangan Kaltim tetap menunjukkan nilai positif (surplus). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2020, neraca perdagangan Kaltim surplus sebesar USD 0,89 miliar. Sayangnya, angka ini mengalami penurunan dibanding April 2020 yang surplus sebesar USD 1,02 miliar. Bahkan jika dilihat sejak 2019, neraca perdagangan Kaltim menyentuh titik terendah.

Kepala BPS Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, neraca perdagangan yang surplus menandakan ekonomi suatu daerah lebih baik. Sayangnya, di Kaltim jika dilihat dari struktur ekspornya masih didominasi barang mentah. Sehingga surplus selama ini masih lemah lantaran ekspor masih didominasi migas dengan barang mentah.

Jika dilihat secara kumulatif dari Januari–Mei 2020, neraca perdagangan Kaltim tercatat surplus sebesar USD 4,98 miliar, angka ini mengalami penurunan 15 persen jika dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang surplus sebesar USD 5,88 miliar. “Neraca perdagangan secara nilai sudah sangat baik. Namun masih minim ekspor komoditas yang memiliki nilai tambah,” ungkapnya, Jumat (10/7).

Dia menjelaskan, saat ini belum ada komoditas yang digerakkan untuk hilirisasi dalam jumlah besar. Mungkin sudah ada, tapi kontribusi secara angka masih sangat kecil. Ini butuh keseriusan pemerintah daerah untuk meningkatkan hilirisasi agar neraca perdagangan stabil. “Yang terpenting itu kestabilan. Namun ekspor yang tergantung pada satu sektor akan membuat neraca perdagangan mudah menurun jika sektor itu sedang lemah,” tegasnya.

Ditemui terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, untuk daerah ekspor oriented seperti Kaltim hilirisasi merupakan jalan keluar satu-satunya. Selama ini, Kaltim hanya mengekspor barang dengan nilai tambah yang rendah, sehingga banyak hambatannya.

“Komoditas minim nilai tambah, sangat bergantung pada harga internasional. Sehingga yang dibutuhkan nilai tambah agar komoditas kita punya harganya sendiri, dan tidak mudah anjlok,” katanya.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 31 Januari 2020 11:47

Tambah Satu Crane, PT Pelindo IV Matangkan Rencana Pengembangan Semayang

PT Pelindo IV Balikpapan optimistis kinerja sepanjang tahun ini lebih…

Kamis, 30 Januari 2020 15:04

Jadi Favorit, Permintaan Kopi Terus Naik

SURABAYA– Permintaan kopi dalam negeri terus meningkat. Itu tidak terlepas…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

RUU Omnibus Law Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan omnibus law bisa mendorong kinerja…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

Kunjungan Bisnis Terganggu Corona

SAMARINDA – Penyebaran wabah virus corona berpotensi menghambat pengusaha dalam…

Rabu, 29 Januari 2020 13:09

Krakatau Steel Restrukturisasi Utang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk berhasil merestrukturisasi utang senilai…

Rabu, 29 Januari 2020 12:07

Target Integrasikan Pelabuhan di Kaltim

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV siap mendukung berjalannya…

Selasa, 28 Januari 2020 13:40

Garap Mobil Listrik Hyundai Inves USD 750 Juta

JAKARTA– Grab Indonesia bekerja sama dengan PT Hyundai Motor Indonesia…

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Bantu UMKM Perluas Pasar

SAMARINDA- Tak hanya mempermudah pelaku usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 28 Januari 2020 10:42

Pertahankan Resep Warisan Mertua, Terbantu Marketplace

Menjaga konsistensi rasa masakan dan memuaskan pelanggan menjadi kunci sukses…

Senin, 27 Januari 2020 12:09
Menjaga Eksistensi Usaha ala Hadlan Feriyanto Munajat

Jangan Lupa Bahagia, Kombinasikan Hobi dengan Bisnis

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Tapi akan lebih memuaskan jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers