MANAGED BY:
SENIN
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Kamis, 09 Juli 2020 10:33
Ketika Mi dan Kopi Begitu Mewahnya

Faroq Zamzami

(Pemimpin Redaksi Kaltim Post)

 

INI tulisan kedua. Dengan tema sama. Pertama dibuat pertengahan tahun lalu. Namun, tak saya publikasikan sebagai catatan di harian ini. Saat itu tulisan hanya dibagi ke sejumlah grup WhatsApp (WA). Grup WA rekan kerja. Komunitas wartawan. Hingga alumnus kampus.

Dari model sebaran begitu, catatan itu sempat dipublikasikan Balikpapan Pos (Kaltim Post Group). Tulisan itu tentang berbagi pengalaman. Terkait penyakit yang saya derita. Yang peluangnya besar dialami rekan seprofesi. Atau yang punya pola kerja mirip-mirip dengan kami; jurnalis. Tapi itu bukan menggeneralisasi. Itu hanya soal menghindari potensi terkena.

Karena ini tulisan tentang pengalaman, jadi silakan artikan sendiri. Apakah tulisan ini terlalu menggurui. Atau bagian dari berbagi. Atau lagi, ini tentang perbincangan hangat antar-dua kawan yang saling menasihati, ditemani kopi hitam dan mi instan di warung kopi tengah kota selepas isya.

Berbincang santai penuh tawa dan hinaan ala sahabat kental. Namun, bermakna dan berkesan. Menempel kuat di kepala. Kemudian bisa saling diterima dengan sangat baik. Dijadikan rujukan. Diingat-ingat sebagai pelajaran dari pengalaman kawan. Agar tak terjadi pada diri.

Atau malah menguap. Tak bermakna. Terbang ke angkasa luas tanpa tujuan. Memuai bersama senjanya anak-anak indie. Atau juga malah berakhir di bak sampah, bertemu tumpukan kertas bekas nasi bungkus dan gelas plastik air mineral. Jadi entah. Silakan memaknai. Bebas.

Akhir bulan ini sudah Lebaran Haji saja. Bagi saya terasa begitu cepat. Nyaris setahun berarti. Tahun lalu, saya berlebaran di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB). Lemah tak berdaya. Ditemani istri dan mama. Pertama kalinya berlebaran kurban di rumah sakit bukan di rumah bersama keluarga.

Asli, sangat tidak nyaman. Jadi, jangan sampai sakit pada hari-hari besar. Terkulai di atas ranjang. Dipeluk selimut hijau. Tangan kanan dicumbu hangat selang infus. Yang nyaris tiap satu jam harus buang air besar. Sehari tiga kali minum enam hingga tujuh jenis obat. Belum lagi sejumlah suntikan rutin. Bisa dua kali sehari. Disuntik antibiotik dan obat lambung lewat selang infus.

Saat itu sekitar dua minggu saya dirawat. Berat badan sampai turun drastis. Hilang 12 kilogram hanya dalam setengah purnama. Dengan tinggi 175 sentimeter, berat badan saya saat itu “Cuma” 63 kilogram. Yang sebelumnya sekitar 75 kilogram. Ternyata itu bukan opname yang terakhir atas penyakit tersebut. Itu adalah opname ketiga. Dua opname sebelumnya, masing-masing tiga dan empat hari di RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

Dan Maret lalu penyakit saya kambuh. Kembali harus menyapa RSPB. Diobati dengan metode serupa. Bertemu dokter yang sama. Yang selalu ramah kepada pasien. Dokter Rudy Mokodompit, namanya.

Saat itu kondisi saya lebih parah. Sampai harus transfusi darah. Dua kantong. Total 17 hari opname. Sepertinya ada salah makan. Dan itu adalah opname yang keempat. Dan ternyata, itu juga bukan yang terakhir. Saya harus masuk rumah sakit untuk kelima kalinya. Dalam tahun ini. Pertengahan Juni tadi. Selama satu minggu. Mudah-mudahan itu yang terakhir. Amin.

Selain rangkaian opname, berobat jalan, juga harus menjalani dua kali kolonoskopi untuk melihat kondisi usus. Juga CT-scan. Melihat organ dalam tubuh. Dari kolonoskopi terlihat, usus saya dipenuhi banyak “luka”. Mirip sariawan kecil-kecil yang menyebar di dinding-dinding usus besar. Dari CT-scan selain “mendukung” hasil kolonoskopi, juga diketahui liver saya membesar.

Dan praktis, karena penyakit itu, setahun terakhir saya terus minum obat. Hingga kini. Saya juga harus menjaga makanan. Menghindari yang dilarang. Setidaknya minimal selama enam bulan ke depan masa perawatan. Sampai kalau dikolonoskopi lagi usus saya kembali normal. Tak ada sariawannya lagi. Kalau masih ada berarti perawatan dilanjutkan. Lanjut hindari mengonsumsi yang dilarang. Dan lanjut minum obat.

Selama ini sejumlah makanan harus anti. Seperti gorengan. Berlemak. Dan saya sudah begitu rindunya makan bakso di Beje-Beje atau mi ayam di Batu Ampar, Balikpapan. Juga nyaris setengah tahun tak lagi menyentuh kopi. Padahal, saya penikmat kopi lumayan garis keras.

Kopi saya sudah yang tak bergula. Dan bukan lagi penyeruput kopi saset. Ya, setidaknya sudah pada level memilih kopi berdasarkan aroma. Untuk sementara waktu saat masih diare, saya juga tak boleh dulu makan buah dan sayur. Disarankan mengonsumsi makanan rumahan. Hindari jajan di luar.

Mi instan bagi saya sekarang begitu mewahnya. Karena saya tak boleh lagi makan itu. Padahal dulu, sejak mahasiswa, bahkan hingga sudah berkeluarga, seperti kebanyakan orang, tak ada hari tanpa mi. Dan kita semua paham, entah kenapa, mi instan buatan warung lebih enak dibanding buatan sendiri.

Maka tak heran, tiap nongkrong, dulu, yang dipesan adalah mi dan kopi. Sekarang dua item itu sudah jadi barang mewah. Mungkin sudah setahun, sejak penyakit ini saya derita, tak pernah lagi menyantap mi instan. Padahal sekarang mi instan keluar dengan aneka varian rasa yang menggoda iman.

Apa penyakit saya? Penyakit ini gejala awalnya diare. Sudah saya rasakan sejak 15 Juli 2019. Awalnya saat itu saya anggap sakit perut biasa. Paling minumkan obat antidiare sembuh sendiri. Ternyata tidak. Diare berlanjut. Sehingga memengaruhi kondisi fisik. Badan jadi lemah karena kekurangan cairan. Akhirnya masuk rumah sakit juga. Kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan. Sampai akhirnya tersebutlah penyakit radang usus.

Apa pemicunya? Itu semua asumsi saya. Terutama tentu pengetahuan yang saya dapat dari dokter selama perawatan. Sekali lagi, ini asumsi saya, penyakit ini berkaitan dengan gaya hidup kurang sehat. Saat masa muda. Cieeh, emang sekarang sudah tua. He, he, he...

Gaya hidup kurang sehat itu berawal remaja. Tepatnya saat kuliah. Sampai awal-awal menjadi jurnalis. Tepatnya lagi sebelum menikah. Gaya hidup tak sehat itu, ya seputar makan yang tak teratur. Sering, bahkan selalu makan pedas.            

Tidur yang tak tertata. Sering bergadang. Jauh dari mengonsumsi makanan sehat. Jarang menyentuh buah dan sayur-mayur. Beberapa kali makan sayur lebih banyak sawi, itupun saat menikmati mi instan di warung. Sering makan di tempat sembarang yang mengesampingkan higienisitas. Yang itu terjadi bukan satu dua tahun. Tapi belasan tahun.

Itulah, sekali lagi ini asumsi saya, akhirnya terakumulasi menjadi penyakit yang saya derita sekarang. Radang usus. Selain itu liver saya membesar. Khusus soal liver ini, saya disarankan “mengatur ulang” hidup seperti “orang normal”. Yakni, tidur ditata dan menghindari bergadang.

Ya, sejak mahasiswa sampai sebelum terkena penyakit itu, tidur saya memang hancur lebur. Sehari tidur ideal yang delapan jam untuk dewasa itu jarang tercapai. Sering melek sampai pagi. Kalau pun tidur sudah di atas pukul 01.00 Wita. Faktor kebiasaan. Biar cepat pulang dari kerja juga, mata tak pernah segera tertutup. Betul Bang Roma, jangan begadang kalau tidak ada perlunya.

Kalau dari dokter yang merawat saya, terkait penyakit radang usus, beliau juga menyebut faktor makanan. Sembarangan. Dan tak teratur. Dokter juga menyebut salah satu pemicu lainnya soal pikiran alias stres. Padahal profesi kami, salah satu bidang dengan tingkat stres cukup tinggi.

Ya, faktor dikejar deadline dan aneka penugasan. Dan bahayanya, dengan kondisi sekarang, yang apa-apa terbatas karena pandemi, sudah tak pandang profesi lagi, semua orang punya potensi untuk stres. Jadi jangan kurang-kurang lah bercanda, tertawa, agar jauh dari stres. Apalagi bioskop belum boleh buka. Eh. (rom/k15)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers