MANAGED BY:
SENIN
28 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Senin, 01 Juni 2020 19:15
Bertahan dengan Diversifikasi Produk
Pengusaha tanaman hidroponik juga mengalami penurunan.

PROKAL.CO,

SAMARINDA - Tak hanya industri besar, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dituntut untuk terus berinovasi agar usahanya masih bisa bertahan di tengah gempuran virus corona. Sebab permintaan di masyarakat melemah, ditambah perilaku berbelanja mereka yang beralih ke daring.

Salah satu yang mengalami penurunan pendapatan adalah pengusaha tanaman hidroponik, Niko Agus Bintoro. Dia mengungkapkan pada awal pandemik corona, kebunnya sedang panen besar, namun tanamannya tidak terserap maksimal di pasar seiring pelemahan daya beli. Hasil produksi yang biasanya dijual ke resto kebab dan lain-lain, tak bisa dilakukan karena tutup dan hanya melayani take away.

“Otomatis pembelian sayur turun drastis. Agar sayur tetap terjual, kami melempar hasil produksi ke pasar tradisional dengan harga jauh di bawah. Nah, di situlah petani mulai down,” ujarnya, Minggu (31/5).

Niko mengungkapkan, pada awal Ramadan lalu permintaan sayur mulai meningkat. Hanya, ketersediaan sayurnya sangat sedikit karena pandemic corona masih berlangsung dan para petani belum berani untuk berspekulasi. "Jadi mau tidak mau pada awal-awal para petani menurunkan produksi lebih dari 50 persen," ujarnya.

Untuk tetap bisa survive di tengah pandemi, para petani merambah ke jenis sayuran lain seperti pakcoy, seledri, bayam, dan sawi king samhong. Alasannya saat Ramadan lalu permintaan selada menurun karena banyak resto tutup di siang hari. "Sebelum puasaan atau awal-awal berita Covid-19, kita sudah nyemai beberapa jenis sayuran. Itu kita targetkan untuk dijual di bulan puasa," jelasnya.

Namun demikian, mereka tetap menjaga produksi selada, karena pedagang kebab dan grill terancam pontang panting mencari selada jika tidak mendapat supply. "Kalau beli di pasar tradisional harganya tinggi. Biasa 40-60 ribu per kilogram. Apalagi ketika barang mulai langka, pihak lain jual dengan harga setinggi-tingginya," ungkapnya

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 31 Januari 2020 11:47

Tambah Satu Crane, PT Pelindo IV Matangkan Rencana Pengembangan Semayang

PT Pelindo IV Balikpapan optimistis kinerja sepanjang tahun ini lebih…

Kamis, 30 Januari 2020 15:04

Jadi Favorit, Permintaan Kopi Terus Naik

SURABAYA– Permintaan kopi dalam negeri terus meningkat. Itu tidak terlepas…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

RUU Omnibus Law Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan omnibus law bisa mendorong kinerja…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

Kunjungan Bisnis Terganggu Corona

SAMARINDA – Penyebaran wabah virus corona berpotensi menghambat pengusaha dalam…

Rabu, 29 Januari 2020 13:09

Krakatau Steel Restrukturisasi Utang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk berhasil merestrukturisasi utang senilai…

Rabu, 29 Januari 2020 12:07

Target Integrasikan Pelabuhan di Kaltim

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV siap mendukung berjalannya…

Selasa, 28 Januari 2020 13:40

Garap Mobil Listrik Hyundai Inves USD 750 Juta

JAKARTA– Grab Indonesia bekerja sama dengan PT Hyundai Motor Indonesia…

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Bantu UMKM Perluas Pasar

SAMARINDA- Tak hanya mempermudah pelaku usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 28 Januari 2020 10:42

Pertahankan Resep Warisan Mertua, Terbantu Marketplace

Menjaga konsistensi rasa masakan dan memuaskan pelanggan menjadi kunci sukses…

Senin, 27 Januari 2020 12:09
Menjaga Eksistensi Usaha ala Hadlan Feriyanto Munajat

Jangan Lupa Bahagia, Kombinasikan Hobi dengan Bisnis

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Tapi akan lebih memuaskan jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers