MANAGED BY:
MINGGU
27 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Jumat, 22 Mei 2020 18:11
Wuhan Resmi Larang Konsumsi Binatang Liar
Pasar binatang liar di Wuhan, sebelum pandemi Covid-19.

PROKAL.CO,

WARGA Wuhan, Hubei, Tiongkok, harus mengubah kebiasaan. Mereka tidak bisa lagi makan makanan yang berasal dari binatang liar. Pada Rabu (20/5), pemerintah kota secara resmi melarang perburuan, ternak, jual beli, dan konsumsi binatang liar. Binatang yang dilindungi dan terancam punah di darat dan air juga dilarang dikonsumsi.

Pengecualian hanya berlaku untuk penelitian ilmiah, pengamatan penyakit epidemi, dan beberapa alasan khusus lainnya. Kebijakan terbaru itu diterapkan hingga lima tahun mendatang. Wuhan tidak ingin kecolongan untuk kali kedua. Sebab, di kota itulah virus SARS-CoV-2 kali pertama merebak. Agar peternak hewan liar tidak rugi, pemerintah menawarkan untuk membeli binatang-binatang tersebut. Dengan begitu, para petani bisa memiliki uang untuk memulai usaha lain.

Tiongkok sudah kembali normal. Meski situasinya tidak seperti dulu, sebagian besar penduduk sudah boleh keluar rumah dan beraktivitas seperti sediakala. Transportasi juga kembali beroperasi normal. Lockdown hanya berlaku di klaster baru yang berbatasan dengan Rusia.

Beberapa negara lainnya juga sudah melonggarkan kebijakan meski masih dilanda ketakutan. Pemerintah Selandia Baru, misalnya. Mulai kemarin (21/5), mereka membuka lagi bar dan pub. Sejatinya bisnis lain buka sejak pekan lalu. Namun, tempat-tempat yang menyediakan alkohol baru dibuka kemarin. Sebab, mereka khawatir kasus penularan klaster kelab malam seperti di Seoul, Korsel, terjadi di Selandia Baru. Dibukanya bar dan pub merupakan salah satu cara untuk menormalkan lagi sektor wisata dan hospitality.

Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern bahkan mengusulkan agar perusahaan membuat kebijakan empat hari kerja dalam sepekan. Dengan begitu, penduduk bisa berkeliling negeri dan menggeliatkan lagi sektor wisata dengan turis lokal.

Penularan di Selandia Baru relatif rendah. Yaitu, hanya 1.503 kasus positif dan 21 kasus kematian. Meski begitu, perekonomian mereka melambat akibat lockdown panjang. Ratusan ribu orang juga terpaksa kehilangan pekerjaan.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 14 September 2020 12:25

Kroni Trump Intervensi Laporan Covid-19

WASHINGTON DC– Borok dari rezim Presiden AS Donald Trump kembali…

Senin, 14 September 2020 11:53

Distribusi Vaksin Jadi Tantangan Tersendiri

VAKSIN Covid-19 sudah hampir jadi. Produksi masal juga bukan masalah…

Kamis, 10 September 2020 00:40

Julian Assange Kembali Jalani Sidang Ekstradisi

LONDON– Pengadilan Kriminal Pusat London, Inggris, disatroni massa kemarin (7/9).…

Kamis, 10 September 2020 00:37
Gadis 12 Tahun yang Ditahan Polisi Hongkong

Tolak Bayar Denda, Pilih Jalur Hukum

HONGKONG – Namanya Pamela. Usianya baru 12 tahun. Namun, gadis…

Rabu, 09 September 2020 14:15

Arab Saudi Tutup Kasus Khashoggi, Dakwaan Dirahasiakan, Tak Ada Vonis Mati

RIYADH– Pengadilan Arab Saudi akhirnya mengetok putusan terhadap terdakwa pembunuhan…

Rabu, 09 September 2020 12:20

Michelle Obama Bagi-Bagi Tip Cinta

DARI nyaris 28 tahun pernikahannya dengan Barack Obama, Michelle Obama…

Selasa, 08 September 2020 10:57

Xi Jinping Tanggapi Keras Sikap Agresif Amerika

BEIJING – Amerika Serikat terus memojokkan Tiongkok dalam semua kebijakan.…

Senin, 07 September 2020 14:25

Tak Tahan Dirundung Ayah, ARMY Turki Akhiri Hidup

Tagar #RestInPeace menjadi trending topic di Twitter Indonesia pada Sabtu…

Senin, 07 September 2020 14:16

Kaavan, Gajah Paling Kesepian Itu Akhirnya Bakal Dapat Teman

ISLAMABAD- Kaavan akan pindah. Gajah yang selama 35 tahun terakhir…

Senin, 07 September 2020 13:47

WHO Sindir Rusia soal Vaksin yang Belum Aman

VAKSIN virus corona yang ditemukan Rusia diklaim menghasilkan respons antibodi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers