MANAGED BY:
KAMIS
04 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Kamis, 21 Mei 2020 15:18
Keluar Zona Nyaman untuk Berpakaian Lebih Nyaman

Terapkan Gaya Fesyen Minimalis, Bersyukur dan Selektif Pilih Pakaian

NIAT: Memantapkan diri jalani gaya fesyen minimalis butuh waktu tak sebentar, nyatanya justru lebih nyaman dengan gaya fesyennya saat ini. IST

PROKAL.CO, Gaya hidup minimalis mungkin belum akrab di telinga banyak orang. Ranah fesyen salah satu yang paling populer. Termasuk Yolanda Widyanti Susilo. Perempuan yang menggemari fesyen itu sedang menikmati cara berpakaian terbarunya. Walau tak mudah, tetap ada nilai kebaikan yang bisa didapat.

 

AWAL ketertarikan Yolanda dengan gaya fesyen minimalis muncul sejak lama. Tepatnya saat masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah, 2012 silam. Terinspirasi dari gaya berpakaian orang Jepang yang menurutnya tetap chic walau hanya menggunakan beberapa pola dan tone warna.

Kemudian saling dikombinasikan agar serasi. Dari Indonesia, Lola menyukai konsep minimalis dari home living and creative platform, bernama Living Loving dan public figure dari Jepang bernama Marie Kondo.

“Gaya minimalis di fesyen itu berarti pakai sesuatu yang perlu saja. Lazimnya manusia kan pasti lapar mata, jadi sebisa mungkin punya tekad sendiri supaya enggak begitu. Apalagi terhadap sesuatu yang kurang perlu. Enggak harus mengikuti tren,” jelas Lola.

April lalu, Lola merealisasikan keinginannya menerapkan gaya fesyen minimalis. Kala itu, dia langsung memilah-milih baju miliknya. Sebagai pribadi yang senang berbelanja baju, namun yang dipakai hanya itu-itu saja. Bertepatan dengan situasi pandemi, Lola berpikir waktu yang tepat baginya untuk memulai gaya terbaru. Sebagian baju favoritnya mulai dijual dan populer disebut sebagai barang preloved. Masih dalam kondisi baik, tiap baju dibanderol Rp 50 ribu.

Tak ingin ambil keuntungan sama sekali. Murni karena ingin bajunya bisa terpakai dengan baik oleh orang lain. Tersedia 35 baju preloved dan ludes terjual sebanyak 19. Bagi Lola, minat pembelian bergantung pada selera fesyen masing-masing orang. “Sebenarnya enggak terbatas di baju saja. Bahkan aku juga berusaha untuk memilah barang-barang di rumah. Entah milikku atau orangtua dan adik. Misalnya barang sudah menumpuk, enggak terpakai tapi kondisinya baik, akan kukasih ke orang lain. Sebagian mau daur ulang. Tapi belum kesampaian,” imbuhnya.

Sejauh ini, Lola merasa lebih bersyukur dengan barang yang dimiliki. Khususnya baju. Kemudian lebih hati-hati dalam menjaga dan merawat. Perbedaan yang paling dirasakan tentu pada gaya berpakaian. Lebih fresh dan sesuai dengan usia. Dia tak pernah ada alasan spesifik menjalani gaya fesyen terbaru itu. Menanamkan pola pikir soal keputusannya, Lola benar-benar tegas terhadap diri sendiri. Dia tak mau membeli banyak baju lagi atau nantinya terbuang. Saat ingin membeli, lebih mementingkan aspek kegunaan. Tak semata-mata karena bagus atau tren. Memenuhi niat itu, Lola tak serba dadakan. Semua dicoba perlahan.

“Gaya fesyenku sekarang lebih main ke warna. Aku suka warna-warna gelap, dan menurutku di Indonesia sebenarnya sudah banyak yang mengarah ke gaya fesyen minimalis. Termasuk beberapa brand. Mungkin belum semua orang cocok menerapkan ini. Masih di antara usia 21-35 tahun,” beber perempuan kelahiran 1994 itu.

Bicara soal orang-orang terdekat di lingkungan sekitar, tentu ada yang kaget. Salah satunya sang ibu. Sempat menanyakan keputusan Lola yang ingin menjual baju-bajunya, pada akhirnya tetap mendukung karena gerakan itu positif. Lola menyadari menerapkan gaya minimalis tentu butuh proses lama. Tak semua orang bisa menerima. Seandainya bisa menyebarkan informasi soal gaya tersebut, Lola akan memilih medsos. Lantaran lebih cepat menjaring orang.

“Tipsnya mungkin bisa dimulai dengan hal simpel. Contoh pengaturan di lemari. Baju disesuaikan dengan warna dan hanger. Kemudian lebih selektif saat belanja. Jangan cepat tergiur dengan harga murah tapi kualitasnya jelek. Cari yang bisa lama dipakai walau agak lebih mahal,” kuncinya. (*/ysm/dra/k8)

 


BACA JUGA

Selasa, 04 Februari 2020 12:04

Kritik Kota lewat Lirik Rap, Wajah Samarinda dari Lagu “Samar Indah"

Hanya di Samarinda kita bisa hidup sama rendah Nikmati tepian…

Selasa, 04 Februari 2020 12:03

Berkas Pasar Baqa Dilimpah, Rabu, Sidang Perdana

SAMARINDA-Berkas dugaan korupsi tiga tersangka Pasar Baqa sudah digulirkan Korps…

Selasa, 04 Februari 2020 12:01

Terima Paket Ganja 2,5 Kilo, Mahasiswi Ini Mengaku Cuma Diupah Rp 300 Ribu

SAMARINDA - Tersangka inisial IT yang menerima paket 2,5 kilogram…

Selasa, 04 Februari 2020 12:00

Merasa Dipalak Ketika Berkendara di Samarinda? Dua Pria Ini Mungkin Pelakunya

SAMARINDA - Tim Macan Borneo Satreskrim Polres Samarinda akhirnya meringkus…

Selasa, 04 Februari 2020 11:59

Hanya Sakit Demam, RS AWS Bantah Merawat 1 Pasien Terkena Corona Virus

SAMARINDA - Rumah Sakit AW Sjahranie (RS AWS) Samarinda membantah…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:48

Pengedar Sabu Berbahan Tawas Ditangkap

SAMARINDA-Banyaknya pemakai narkoba jenis sabu rupanya menjadi peluang bagi Kene…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:10

Begini Kondisi Terakhir Sopir Truk yang Sebabkan 4 Nyawa Melayang di Gunung Manggah Itu...

SAMARINDA- Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) Polresta Samarinda, pada Kamis…

Sabtu, 01 Februari 2020 09:05

Jalin Kerjasama dengan Rumah Sakit, Poltekkes “Nyebrang” ke Malaysia

SAMARINDA-Terus melebarkan sayap, kini Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes)…

Jumat, 31 Januari 2020 23:46

Samarinda Masih Kekurangan Pengajar

Di Samarinda, ada sekitar 2 ribu guru honorer. Mereka tengah…

Jumat, 31 Januari 2020 23:45

Perlu Waktu Realisasikan DOB Samarinda Seberang

SAMARINDA–Usul menjadikan Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir sebagai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers