MANAGED BY:
JUMAT
10 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Minggu, 17 Mei 2020 17:47
Infeksi Kulit dan Mata, Perkembangan Gejala Virus
SAMPEL: Dideteksi antibodi dalam darah orang yang terinfeksi, yang nantinya akan membentuk antibodi terhadap virus. Sehingga dapat diketahui apakah reaktif atau tidak. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO,

PASIEN positif terus bertambah, begitu pula dengan angka kematian yang masih bisa dikatakan tinggi. Cara pencegahan kerap diingatkan berulang kali. Meski begitu, tetap saja potensi terpapar virus corona atau Covid-19 ini bisa datang kapan saja dan menyerang siapapun. Dianggap sebagai virus yang penyebarannya sangat minim terlihat namun berakibat fatal. Sejak awal diumumkan kasus positif pertama, pemerintah menyampaikan gejala-gejala yang umumnya mengantarkan seseorang mengidap virus corona. Sebut saja batuk, sakit tenggorokan, demam, hingga sesak napas.

Melihat gejala umum yang biasanya awam terjadi, masyarakat jadi lebih waspada. Melihat kondisi saat ini, mulai ditemukan gejala-gejala lain di luar gejala umum tersebut. Beberapa di antaranya cukup mengejutkan karena tak disangka gejalanya bisa berkembang lagi. Dilansir dari beberapa sumber, gejala di kulit dan mata pun bisa disebut sebagai tanda-tanda positif corona. Sebagai contoh, persatuan dokter spesialis kulit dan kelamin di Prancis mengungkapkan bahwa gejala dermatologis pun memengaruhi tubuh di luar sistem pernapasan. Kemudian sebagian pasien di Tiongkok mengeluhkan sakit di mata mereka dan terbukti positif. Jurnal kesehatan di Amerika pun sudah menelitinya.

Kaltim Post pun menghubungi dr Daulat Sinambela, SpKK, FinsDV demi penjelasan lebih lanjut. Disebutkan Daulat, kelainan kulit yang timbul tidak dapat menunjukkan itu suatu infeksi virus corona. Sebab, gejala kulit yang ditimbulkan sama seperti infeksi virus pada umumnya. Sehingga bisa disebut sebagai gejala penyerta dari keseluruhan gejala Covid-19.

Kelainan kulit yang ditimbulkan belum bisa ditentukan waktu spesifiknya. Namun, secara umum bisa terjadi saat pasien mulai mengarah ke demam. Ciri-cirinya timbul bercak merah atau kerumut. Bisa pula lepuhan kecil seperti cacar air, serta bercak merah keunguan yang dapat timbul di mana pun. Bahkan, dapat berubah menjadi bercak merah bengkak di sekitar tangan dan kaki sampai membentuk koreng. Gejala-gejala tersebut tidak pasti dengan kelainan. Melainkan karena virus baru dan masih harus dipelajari.

“Penyebab kelainan kulit itu masih dipelajari di seluruh dunia. Sampai saat ini, diduga karena adanya suatu reaksi hipersensitivitas atas gangguan imun yang terjadi. Kelainan biasanya berbarengan dengan demam dan kelainan pada paru-paru,” jelas Daulat saat dihubungi awal pekan lalu.

Di Kaltim, Daulat mendapat informasi dari kawan sejawatnya bahwa sudah ditemukan satu pasien di Berau yang mengalami kelainan kulit. Secara umum, ada pula info terjadi beberapa kasus di Indonesia dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski). Sampai saat ini, jumlah kasus dengan kelainan kulit secara keseluruhan sedang dilakukan penelitiannya oleh beberapa dokter.

Halaman:

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers