MANAGED BY:
JUMAT
29 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 16 Mei 2020 00:03
Jajanan Pembuka yang Kerap Jadi Pilihan saat Ramadan (3-Habis)
Penjualan Kue Talam Justru Meningkat di Tengah Pandemi
Di Balikpapan, kue talam kadang sulit ditemukan saat sore hari. Bukan langka, tapi kebanyakan sudah habis dibeli, jauh sebelum jam berbuka puasa.

PROKAL.CO, Di Balikpapan, kue talam kadang sulit ditemukan saat sore hari. Bukan langka, tapi kebanyakan sudah habis dibeli, jauh sebelum jam berbuka puasa.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

 

TIGA jam sebelum jadwal buka puasa. Puluhan loyang kosong yang sebelumnya terisi kue talam sudah menumpuk di kolong meja berjualan milik Rhumi. Pembeli masih datang silih berganti. Tak jarang ramai. Membuat antrean di pinggir kios di Jalan Letjen S Parman, Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah.

Di atas meja 2x1 meter, hamparan kue talam berbagai warna dan rasa tersaji. Totalnya ada 16 jenis. Dari sari muka lakatan, habang hijao, habang putih, sari pengantin, lapis india gulmer, lapis india padang, kararaban, nangka besusun, puding casablanca, putri selat hingga jenis yang hampir semua orang kenal, amparan tatak pisang. “Amparan tatak dan sari muka lakatan ini yang laku keras,” ujar Rhumi, Selasa (12/5) lalu.

Rhumi menyebut, kue talam yang dijualnya adalah buatan kakaknya, Nia. Sang kakak belajar membuat aneka kue talam dari seorang kerabat. Meski bukan keturunan warga Banjar, keahlian Nia memasak kue talam sudah dikenal banyak orang Balikpapan. “Tapi kakak saya tak pandai berjualan. Makanya kami yang membantu,” sebut Rhumi.

Awak media sempat ingin berjumpa dengan Nia. Namun, waktunya kurang tepat. Kata Rhumi, kakaknya sedang beristirahat begitu selesai membuat kue talam. Tidur siang hari, memasak pada tengah malam. Proses pembuatan kue talam dimulai pukul 01.00 Wita hingga selesai pukul 11.00 Wita. Selanjutnya giliran dirinya yang berjualan. “Mohon maaf kakak enggak mau diwawancara,” ujar Rhumi menyampaikan pesan kakaknya setelah dihubungi melalui WhatsApp.

 

Dari cerita Rhumi, usaha menjual kue talam dimulai pada 2012 lalu. Penjualan dilakukan di pasar Ramadan. Melihat peluang, kue talam pun dijajakan di luar bulan puasa. Namun jumlahnya tak banyak dengan jenis kue yang terbatas. “Kalau di luar Ramadan, paling hanya delapan rasa yang dibuat,” ungkapnya.

Rhumi sempat merasakan kekhawatiran berjualan di tengah pandemi. Selain khawatir penyebaran, juga karena pemerintah melarang adanya pasar Ramadan. Ditambah banyaknya masyarakat yang terbatas dalam beraktivitas dan berusaha. Namun, keadaan berubah sebaliknya. “Justru Ramadan tahun ini penjualannya meningkat,” katanya.

Dia menduga. Justru ketiadaan pasar Ramadan yang membuat banyak orang akhirnya datang langsung ke kiosnya. Selain itu, adanya penerapan buka tutup sejumlah ruas jalan utama di Balikpapan membuat pencari hidangan pembuka memilih jalan-jalan alternatif seperti Jalan Letjen S Parman. “Alhamdulillah,” ungkapnya.

Rhumi enggan membicarakan soal omzet. Namun, dia menyebut tahun ini bisa menjual hingga 80 loyang. Meningkat 20 persen dibandingkan Ramadan 2019 lalu. Apalagi tahun ini ada lapak baru yang dibuka di kawasan Ringroad, Balikpapan Selatan. Dekat tempat produksi kue talam. “Selebihnya masih ada lagi penjual yang beli sama kita,” sebutnya.

Untuk satu loyang kue talam dijual Rp 180 ribu. Sementara untuk satu potongnya dihargai Rp 12 ribu. Harga ini hanya meningkat Rp 3 ribu per potong jika dibandingkan awal mereka berjualan, delapan tahun lalu. Soal bahan, Rhumi menyebut, hampir semuanya diperoleh secara lokal. “Paling daun suji saja yang ambil dari seberang (Penajam Paser Utara). Kalau pisang, Ramadan ini agak sulit cari dalam jumlah banyak,” jelasnya.

Selain di tempat Rhumi, awak media juga mendengar ada salah satu tempat berjualan kue talam yang laris manis selama Ramadan. Lokasinya di depan Masjid Manuntung, Pandan Sari, Balikpapan Barat. Bahkan dari informasi, usaha itu sudah berjalan sampai tiga generasi. Sayang, awak media tak bisa menjumpainya. “Enggak jualan lagi. Orangnya sakit,” ucap seorang pedagang es campur yang biasa berjualan di depan masjid. (rom/k16)


BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:57

Wabah Terkendali, Gelar Jumatan di Masjid

JAKARTA–Warga di daerah yang masuk kategori hijau terkait Covid-19 wajib…

Jumat, 29 Mei 2020 14:17
Mulai Tahun Ajaran Baru Beda dengan Pembukaan Sekolah

Pemda Tak Bisa Buka Sekolah Secara Sepihak

JAKARTA– Usulan penundaan awal tahun ajaran baru 2020/2021 dipastikan tak…

Jumat, 29 Mei 2020 12:32

Kukar Surga Tambang Ilegal, Pengamat : Konsistensi Aparat Lemah

Persoalan lingkungan karena aktivitas tambang liar di sejumlah kecamatan di…

Kamis, 28 Mei 2020 16:35

Antusias Sambut Tatanan Baru setelah Pandemi

SAMARINDA–Rencana pemberlakuan tatanan baru atau new normal di sarana publik…

Kamis, 28 Mei 2020 16:31

Ratusan Pekerja Mal di Balikpapan Jalani Rapid Test

UNTUK kelima kalinya, Tim Gugus Tugas Covid-19 Balikpapan melaksanakan rapid…

Kamis, 28 Mei 2020 16:29

Masukan Obat ke Aliran Darah Pakai Robot

TIDAK lama lagi banyak penyakit bisa diobati oleh robot berukuran…

Kamis, 28 Mei 2020 16:29

Kasus Suap Proyek Jalan Nasional yang di-OTT KPK, Bawahan Dituntut 7 Tahun, Atasan 6 Tahun

SAMARINDA–Pembukuan kontraktor PT Haris Tata Tahta (HTT) menjadi bukti penting…

Kamis, 28 Mei 2020 15:01

Banyak Penumpang Belum Mengetahui Syarat Bepergian

JAKARTA– Lion Air Grup mengandangkan burung besinya selama hingga 31…

Kamis, 28 Mei 2020 13:43

Kapolsek Gunem Tabrak Nenek dan Cucu hingga Meninggal

Maut memang tak bisa diduga datangnya. Saat sedang bersantai di…

Kamis, 28 Mei 2020 13:39

Bukan Pengalaman Pertama Temukan Warga yang Tak Patuh

Profesi adalah tanggung jawab. Itulah yang ada di benak para…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers