MANAGED BY:
MINGGU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Senin, 11 Mei 2020 10:15
Ekonomi Lagi Susah, Kelolalah Uang Utamakan Dua Motif
KELOLA: Keuangan rumah tangga tak kalah penting. Motif transaksi dan motif berjaga-jaga paling memungkinkan dilakukan. Masyarakat diimbau untuk memiliki dana darurat dalam bentuk uang tunai karena lebih bisa dijangkau.

BANYAKNYA orang yang kehilangan pekerjaan, otomatis membuat mereka tak ada pemasukan. Begitu pula bagi sebagian orang yang mungkin gajinya dikurangi dengan alasan penyesuaian. Namun, kebutuhan harus tetap terpenuhi. Salah satunya makanan.

Tak bisa tinggal diam, masyarakat harus bergerak mencari cara agar tetap bertahan hidup. Mencari pekerjaan baru agaknya kurang memungkinkan, sehingga merambah ke dunia bisnis pun dilakukan. Pada intinya, semua orang harus pandai mengelola keuangan, entah apapun perannya. Menjadi penjual atau pembeli. Sebab keuangan jadi aspek penting.

Diungkapkan Aji Sofyan Effendi, pengamat ekonomi Kaltim, pandemi ini hampir memukul seluruh pergerakan di semua sektor bisnis. Entah itu barang atau jasa. “Sekitar 3,1 juta orang sudah di-PHK dan dirumahkan sementara. Jika pandemi masih berlangsung di bulan-bulan berikutnya, skenario terburuk bisa terjadi sekitar puluhan juta orang yang kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Sehingga orang mulai menggali keahliannya dan menawarkan dalam bentuk barang atau jasa. Seandainya resmi diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akan menjadi kendala pula. Efek dari terbatasnya pergerakan manusia itu, mengakibatkan supply dan demand jadi stuck. Sekaligus khawatir jika kurva kenaikan kasus virus mematikan tersebut akan makin meninggi, khususnya di Kota Tepian. Sebab, pergerakan sosialnya masih terlihat longgar.

“Bagi mereka yang lost income dan sudah berkeluarga, tentu jadi hal yang berat. Bahkan bisa zero income. Berbanding terbalik dengan mereka yang bekerja dari rumah tapi masih mendapatkan gaji. Harus ada penyesuaian saat mengelola uang,” ucap Aji saat dihubungi awak Kaltim Post awal pekan lalu.

Bertepatan dengan bulan Ramadan, pengeluaran biasanya lebih ekstra. Khususnya untuk berbuka dan sahur. Aji mengimbau kepada masyarakat untuk mengelola keuangan rumah tangga jadi lebih efisien dan seefektif mungkin. Menyesuaikan dengan kebutuhan. Sebab, motif orang membeli sesuatu bisa jadi bukan hanya didasari kebutuhan tetapi keinginan. Merupakan kedua hal berbeda.

Di kondisi pandemi, harus membuat rencana keuangan yang nyata karena sifat uang harus dalam jangka panjang. Sebagai contoh, di situasi biasa gaji bisa habis dalam kurun waktu sebulan. Saat terjadi pandemi, gaji harus bertahan untuk dua atau tiga bulan ke depan. Meskipun bagi yang zero income agak sulit untuk menabung dan menyiapkan dana darurat, namun setidaknya mereka bisa menutupi lost income yang ada. Penggunaan uang harus ketat dan menghindari membeli hal-hal yang tidak perlu. Daya beli harus dibatasi. Harus ada dana cukup. Bukan hanya untuk kebutuhan primer tapi juga kebutuhan yang sifatnya waspada seperti kemungkinan jatuh sakit.

“Selain penanganan Covid-19, penanganan sosial ekonomi masyarakat juga tak kalah penting. Memang harus ada resep jitu. Seandainya berlaku PSBB, harus cari cara agar geliat ekonomi tetap bisa berlangsung. Tapi jangan melanggar peraturan selama PSBB,” imbuh Aji.

Caranya bisa dengan pemberian insentif dari pemerintah kepada usaha-usaha kecil, mikro, dan menengah agar tetap menjalani usaha tanpa harus ada kontak fisik. Oleh sebab itu, memanfaatkan penjualan secara online dan digital jadi opsi. Namun harus tetap ada pendampingan dari pemerintah yang diberikan pada masyarakat. Sebab, para pelaku usaha diimbau menjual produk yang berkaitan dengan penanganan Covid-19. Entah itu minuman herbal sehat untuk imunitas tubuh. Menurut Aji, harus ada perbedaan produksi di bisnis saat kondisi normal dan seperti sekarang.

“Ketahanan ekonomi dan sosial rumah tangga itu menjadi penting karena manajemen keuangan mikro rumah tangga harus jadi prioritas. Utamakan barang yang menyangkut sembilan kebutuhan pokok, siapkan minimal tiga bulan. Semua sedang survive,” tegas Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah (PKPPKD) Unmul itu.

Mengenai bentuk dana darurat, ada banyak pilihan seperti emas, mata uang asing, dan reksa dana. Disebut sebagai bentuk yang tidak liquid. Namun di kondisi seperti ini yang paling liquid dan mudah adalah uang tunai. Masyarakat diupayakan tetap ada tabungan. Aji tetap mengutamakan dana darurat yang liquid karena proses yang lebih mudah dan cepat. Jumlah saldo dana darurat bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Terutama gaya hidup. Tak pernah ada ketentuan jumlah. Aji menyebut, ada dua transaksi yang perlu diperhatikan dan penting untuk saat ini, yaitu motif transaksi yang tujuannya memegang uang demi kebutuhan sehari-hari dan motif berjaga-jaga demi persiapan hal tak terduga atau tak diinginkan. Sedangkan motif spekulasi yang tujuannya mendapat keuntungan, mungkin masih bisa dilakukan bagi masyarakat yang penghasilannya tetap tinggi. Menurut Aji, sampai detik ini, motif transaksi paling dominan terlihat.

KULINER JADI JALAN KELUAR

Secara tiba-tiba, bisnis kuliner mulai ramai digeluti. Tak hanya dari kalangan yang kehilangan pekerjaan, namun mereka yang usahanya terkena imbas. Bisnis kuliner dianggap paling memungkinkan untuk dijalankan dibanding bisnis lainnya. Sebab, kebutuhan pokok seperti makanan pasti dibeli.

Disampaikan Warsilan, pengamat ekonomi perkotaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman, bisnis kuliner paling mudah dijalani dan bisa jadi peluang bagus saat ini. Apalagi momennya tepat dengan bulan Ramadan. Selain itu, segmentasi pasarnya lebih kuat.

“Kalau menggeluti bisnis di bidang lain, terlihat kurang memungkinkan dan tak sebesar di kuliner. Selain pergerakan masyarakat yang terbatas di luar rumah, masyarakat pasti selektif saat membeli sesuatu. Punya prioritas tersendiri,” jelas Warsilan.

Alasan selektif dilatar belakangi beberapa faktor. Salah satu contohnya mengenai kelangkaan kebutuhan kesehatan seperti hand sanitizer dan masker. Produksi terbatas namun keinginan melambung tinggi. Hingga menyebabkan harga mahal karena diburu. Namun, mereka tetap merogoh kocek demi kedua barang tersebut karena diperlukan.

“Kalau mau bisnis lain, sepertinya enggak bisa karena hampir semua akses tertutup dan terbatas. Peluang dan potensi ekonominya enggak ada. Jadi, asal ada modal cukup tapi dapat dipastikan banyak yang beli akhirnya dipilih,” imbuhnya.

Warsilan menyebut, penting untuk menguasai dan mengembangkan bisnis ke digital. Sekaligus jadi strategi agar bisa berjalan optimal. Memang terlihat perbedaan pemasukan antara penjualan online dan offline. “Tapi tergantung lagi. Kalau yang ditawarkan itu menarik dan dibutuhkan, semua pasti ada potensinya. Kelebihan di online itu kan lebih praktis, kemudahannya lebih banyak untuk individual. Sedangkan untuk kelompok, lebih berminat datang ke tempat langsung,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Warsilan memaparkan bahwa saat ini ekonomi memang tertahan. Seharusnya produksi, distribusi, dan konsumsi tetap lancar, justru terganggu di produksi dan distribusi. Cukup menghambat. Dia memperkirakan aktivitas ekonomi menurun hingga 50 persen di sebagian bidang. (*/ysm/rdm2)

 


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 20:12
Dorong Produktivitas Pertanian, Dongkrak Kesejahteraan

Pupuk Kaltim Tingkatkan SDM Petani Binaan Sektor Hortikultura

BONTANG - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggelar pelatihan…

Jumat, 22 Oktober 2021 16:24

Peduli Korban Banjir Samarinda, BRI Salurkan Bantuan Bahan Pokok di Kelurahan Temindung Permai

SAMARINDA - Banjir yang melanda Kota Samarinda sejak Rabu (20/10)…

Jumat, 22 Oktober 2021 13:26

TKDN Hulu Migas Menjadi Lokomotif Ekonomi Nasional

JAKARTA – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih…

Rabu, 20 Oktober 2021 22:48

Arsjad Rasjid Lantik Pengurus KADIN Indonesia Periode 2021 - 2026

JAKARTA --- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia,…

Rabu, 20 Oktober 2021 00:22

SKK Migas dan Seluruh KKKS, Ciptakan Multiplier Effect Hulu Migas Bagi Daerah

SKK Migas dan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:55

Vaksinasi Bantu UMKM Bangkit

BALIKPAPAN - Pelaksanaan vaksinasi di Bumi Etam yang semakin masif…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:54

Penjualan Alat Berat Meroket

BALIKPAPAN - Industri alat berat menunjukkan tren kenaikan penjualan pada…

Senin, 18 Oktober 2021 11:55

Buka Opsi Pailit, Kementerian BUMN Siapkan Pelita Air Gantikan Garuda

Kementerian Negara BUMN membuka opsi memailitkan Garuda Indonesia (GIAA) yang…

Sabtu, 16 Oktober 2021 20:33

FIFGROUP FEST Beri Kejuatan Promo Untuk Warga Samarinda

SAMARINDA –FIFGROUP FEST kembali hadirkan event promo pertamanya di bulan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 10:58
Tingkatkan Literasi Pasar Modal dengan CMSE 2021

Investor Kaltim Tumbuh 65 Persen

Literasi serta edukasi pasar modal terus digencarkan oleh Self-Regulatory Organization…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers