MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Kamis, 30 April 2020 15:11
The Winner Will be Human Immunity

PROKAL.CO,

Suhendro Boroma

Direktur Utama Jawa Pos Group

 

 

PANDEMI virus corona menjangkiti seluruh dunia. Berbagai upaya medik dan non-medik sudah serta sedang dilakukan. Sampai sekarang belum juga berhasil “menaklukkan” virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, itu. Sementara berbagai pemodelan statistik tentang perkiraan durasi awal-puncak-akhir Covid-19 yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan perorangan, masih pada tataran “peramalan”.

Ada yang menyebut pandemi corona semacam “siklus 100 tahunan” yang melanda dunia. Tahun 1920 wabah Marseille, atau penyakit pes, menyebar dari Marseille, kota pelabuhan di Prancis. Wabah yang popular dengan nama The Great Plague of Marseille itu, menyebar ke seluruh Eropa, dan merengut 100.000 nyawa.

Pada 1820, pandemi kolera menyebar dari Jessore, dekat Calcutta, India. Wabah itu disebut Kolera Asiatik, disebabkan oleh bakteri di Sungai Gangga, India. Dari India, kolera menyebar dan menyerang ke seluruh Asia hingga Mediterania. Setidaknya 100.000 orang mati oleh wabah yang berakhir pada 1824 itu.

Flu Spanyol menyebar dan menjangkiti seluruh dunia hingga Kutub Utara pada 1920. Wabah akibat mutasi genetik virus influenza yang berubah menjadi virus sangat berbahaya itu menginfeksi lebih 500 juta orang di seantero dunia.

Desember 2019, virus corona mulai menjangkiti warga Wuhan. Virus yang disebut-sebut dari kelelawar dan ular di pasar Wuhan itu menyebar ke seluruh dunia sejak Januari 2020 hingga kini. Belum ada kepastian kapan corona berakhir.

Terdapat 10 penyakit yang paling banyak merenggut nyawa manusia. Ranking pertama penyakit jantung iskemik. Hingga 2012, penyakit itu telah mematikan 7,4 juta orang dengan tingkat kematian 13,2 persen. Urutan berikutnya: strok, penyakit paru-paru obstruktif kronik (chronic obstructive pulmonary disease/COPO), infeksi pernapasan bawah, kanker-trakea-bronkus, HIV/AIDS, dan diare. Tiga terakhir ditempati diabetes mellitus, tuberculosis (TBC), dan malaria.

HIV/AIDS merupakan penyakit yang hingga kini belum bisa “ditaklukkan” manusia. Sejak “menyerang” penduduk di Kongo pada 1976, penyakit yang menyerang immune system manusia itu hingga kini menjangkiti 36 juta orang di seluruh dunia. HIV/AIDS begitu menakutkan, belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkannya. Penyakit itu identik dengan sanksi sosial paling tinggi: aib di tengah masyarakat.

Untuk “keluarga flu”, setidaknya sudah tercatat lima dengan serangan yang mematikan manusia. Flu Hong Kong, muncul dari Hong Kong pada 13 Juli 1968, menyebar ke Vietnam, Filipina, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat, dengan tingkat kematian 0,5 persen.

Flu Asia, muncul dari Tiongkok pada 1956-1958. Menurut WHO, Flu Asia menewaskan setidaknya 2 juta warga dunia. Berikutnya flu dengan penyebab influenza, mewabah pada 1918-1920, menginfeksi sekitar 1/3 dari populasi dunia.

Ada juga flu burung (H5N1), virus dari unggas yang pertama kali menular kepada manusia pada 1997, dengan tingkat mortalitas (kematian) 60 persen dari total pasien yang terinfeksi. Pada 1889-1990, mewabah Flu Rusia, menginfeksi sedikitnya 1 juta manusia.

Pada masa silam, tahun 1364-1354, The Black Death menginfeksi 25 juta orang. Pada abad ke-6 Masehi, tahun 541-542, wabah Justinian, menyebar dari Kekaisaran Bizantium dan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Meditarenia, menginfeksi hampir separuh penduduk Eropa, merengut 25 juta jiwa. Masih pada abad ke-2 Masehi, tahun 165, wabah Antoninus menginfeksi penduduk di Asia Kecil, Mesir, Yunani, dan Italia, mematikan 5 juta orang.

Kisah-kisah yang diabadikan di kitab-kitab suci, juga menukilkan sejumlah wabah yang mematikan manusia. Paling mutakhir, virus “sekeluarga dengan corona” sudah dua kali “menyambangi” dunia.

Tahun 2002, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) berjangkit dari kelelawar kepada manusia di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Disusul MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus), juga dari kelelawar ke unta dromedis, menginfeksi penduduk Arab Saudi pada 2012, lalu menyebar ke Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

Pendek kata, dunia dan umat manusia sejak zaman purba hingga kini sudah berulang dilanda wabah dan diserang pandemi aneka virus dan penyakit. Selama itu pula manusia telah menghasilkan banyak penemuan, nobel kedokteran, kisah kepahlawanan, dan peradaban dalam melawan pandemi serta menyembuhkan aneka penyakit. Sejauh ini, manusia terus berkembang, telah mencapai 7,7 miliar pada 2019.

Adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat manusia tak saja survive, tetapi terus berkembang biak melewati wabah, pandemi, virus, dan berbagai penyakit. Virus, penyakit yang kemudian menjadi pandemi mempunyai caranya sendiri berkembang biak, beradaptasi, dan bermutasi dari masa ke masa. Sejak manusia belum mengenal globalisasi. Pada era prasejarah di masa sejarah. Dari zaman batu, masyarakat pertanian, industri, informasi hingga era digital 4.0.

Pada masa alat angkut masih berupa pedati, atau bahkan jalan kaki. Virus telah menyebar antar-wilayah kerajaan dan teritori. Revolusi industri yang melahirkan sepeda motor, mobil, kereta api, kapal uap, seperti juga menjadi “moda” bagi penyebaran virus dan penyakit.

Pada masa borderless world, pesawat ukuran raksasa menghubungkan antarbenua yang membuat pergerakan manusia, barang dan jasa demikian pesat. Juga menjadi “tumpangan” virus seketika menginfeksi penduduk seantero dunia.

Dari masa ke masa itu, manusia selalu mencari dan berikhtiar. Entah dengan ramuan tumbuh-tumbuhan. Ada juga dibumbui mistik. Dari waktu ke waktu, manusia terus belajar, meneliti dan mengumpulkan data, informasi hingga menyimpulkan: ilmu pengetahuan terbukti menjadi solusi bagi upaya melumpuhkan penyakit.

Maka, belum saat ini. Tak lama, seperti “pengalaman dan ikhtiar” yang telah bertumpuk-tumpuk berabad-abad. Manusia pada akhirnya akan menemukan siasat dan obat untuk mematikan virus corona.

Lebih dari itu, tubuh manusia sungguh sangat lengkap dan sempurna. Tuhan sudah menciptakan “manusia sebaik-baik bentuk dan mahluk yang paling sempurna”. Untuk urusan penyakit, semua manusia sudah memiliki senjata dan pertahanan: imunitas alias kekebalan tubuh.

Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kurang lebih memperkuat “human immunity” agar bisa melawan aneka virus dan menyembuhkan berbagai penyakit. Boleh dikata, itulah tugas manusia: menjaga, mempertahankan, dan memperkuat imunitas tubuh.

Tak bisa disangkal, pandemi corona telah mengubah segalanya. Merusak dan memporak-poranda berbagai sendi kehidupan. Perang melululantakkan banyak negeri. Wabah mematikan banyak manusia. Krisis ekonomi merusak sendi-sendi kemakmuran dan kesejahteraan. Bencana alam dalam sekejap mengobrak-abrik peradaban.

Itu semua tidak terjadi di semua tempat. Perang dunia sekalipun, ada sisi dunia lain yang damai. Krisis ekonomi masih menyisakan sisi cemerlang di tengah kesulitan. Bencana alam sebesar tsunami yang melanda Aceh, Thailand, hingga Sri Lanka dan India pada 24 Desember 2004, selamat sejahtera di tempat lain.

Pandemi corona seperti gabungan antara bencana alam, perang, krisis ekonomi, dan wabah sekaligus. Negara miskin hingga adidaya tak berdaya dibuatnya.

Terdapat dua cara negara-negara mengatasi virus corona: lockdown dan tanpa lockdown. Indonesia tidak melakukan lockdown. Setidaknya tiga negara dapat dijadikan rujukan berhasil mengatasi corona dengan cepat, terukur, dan tingkat kematian yang rendah tanpa lockdown. Yakni, Korea Selatan (Korsel), Taiwan, dan Islandia.

Apa kiatnya? Korsel menerapkan prinsip ini: “temukan, isolasi, dan obati”. Sebagai negara yang pertama “menerima ekspor corona dari Tiongkok”, Korsel tidak melakukan lockdown seperti Tiongkok. Penerbangan dari berbagai “zona merah” langsung ditutup, dan semua orang yang tiba dengan pesawat, terutama dari luar negeri di-tracking: dipasang aplikasi yang bisa memantau pergerakan mereka di mana pun di Korsel.

Prinsip “temukan” dilakukan dengan melakukan tes massal kepada penduduk, khususnya di wilayah-wilayah zona merah. Setiap hari dilakukan tes (rapid test dan polymerase chain reaction test) terhadap 20 ribu orang. Di kota-kota besar dibuka layanan drive-through tes virus corona. Dengan cara itu, rasio penduduk yang melakukan tes corona di Korsel mencapai 6.148 orang per 1 juta penduduk.

Pemeriksaan massal cepat dan akurat itu dilakukan untuk melacak siapa saja yang sudah terjangkit Covid-19. Mereka yang terjangkit langsung “diisolasi” supaya tak menjangkiti orang lain. Saat diisolasi, mereka diobati hingga sembuh. Maka, meski tidak melakukan lockdown, Korsel berhasil “melewati pandemi corona dalam kurun empat bulan, dengan tingkat kematian yang rendah.

Islandia dan Taiwan kurang lebih melakukan yang sama dengan Korsel: pemeriksaan massal secara cepat dan akurat terhadap ribuan orang. Islandia melakukan tes corona terhadap 120.416 orang per 1 juta penduduk. Di Taiwan dilakukan tes corona terhadap 2.252 warga per 1 juta penduduk.

Sudah pasti ada banyak hal yang dilakukan selain tes massal secara cepat dan akurat: disiplin, ketersediaan, dan kesiapan sarana dan prasarana kesehatan, ketegasan pemerintah, dan kemauan yang keras dari segenap komponen bangsa untuk segera mengakhiri wabah corona.

Maka, sangat dianjurkan, Indonesia hendaknya melakukan tes massal secara cepat dan akurat kepada warganya. Untuk diketahui, hingga kini Indonesia masih termasuk kategori “negara rendah” yang melakukan tes corona.

Per 10 April 2020, rasio yang melakukan tes corona baru 65 orang per 1 juta penduduk. Bandingkan dengan Korsel yang melakukan tes corona lebih 20 ribu orang per hari. Itulah “mitigasi kesehatan” yang semestinya dilakukan Indonesia jika tidak mau melakukan lockdown.

Pada aspek ekonomi dan keuangan, pandemi corona memunculkan satu hal paling ditakuti: ketidakpastian (uncertainty). Berapa lama dan berapa dalam dampak corona terhadap sektor ekonomi dan keuangan, belum ada kepastian. Periodesasi pemerintah yang terdiri dari masa tanggap darurat (Maret-Mei), recovery (Juni-Desember), dan normalisasi (Januari-Juni 2021) belum cukup memadai untuk membuat dunia usaha dan pelaku ekonomi resilience (tangguh) pada masa pandemi corona.

Sangat baik dilakukan pendataan yang spesifik dan detail bagi semua pelaku usaha yang terkena dampak Covid-19. Pendataan yang dimaksud tak hanya mencakup “by name by address” UMKM dan menengah atas, tetapi kategori tingkat kedalaman dampak yang dialami.

Misalnya menghasilkan kategori “bertahan”, “sulit bertahan”, dan “terancam bangkrut”. Tanpa pemetaan dan pendataan seperti itu, sulit memastikan ketepatan tindakan, dan bantuan pemerintah efektif dalam menyelamatkan dunia usaha. 

Kebanyakan pelaku usaha melakukan mitigasi secara mandiri. Mengacu pada banyak pemodelan statistik, wabah corona di Indonesia diperkirakan berakhir Juni-Juli. Ada juga yang memprediksi berakhir Agustus, bahkan hingga September.

Perkiraan-perkiraan itu masih diberi catatan: setiap daerah bisa berbeda-beda “awal-puncak-akhirnya”. Karena itu, mitigasi kondisi terburuk dampak Covid-19 terhadap dunia usaha berlangsung Maret-Desember 2020.

Dengan durasi itu, bisa dikelola kemampuan dan daya tahan sampai ekonomi menemukan titik keseimbangan baru (new equilibrium). Sudah pasti lebih baik wabah corona cepat berakhir. Tetapi roda dan mesin ekonomi memerlukan waktu untuk kembali berjalan normal. Maka, tetap saja Desember titik yang “paling aman” untuk sedapatnya dikelola dalam menjaga keberlangsungan usaha masing-masing.

Mitigasi terhadap sektor ekonomi bisa dijadikan “paduan” dampak sosial berantai akibat ekonomi mati suri pada masa pandemi Covid-19. Pengangguran baru, kemiskinan, dan berbagai ikutannya semestinya dihitung dan ditelaah secara cepat dan tepat.

Dari sinilah, kebijakan fiskal (lewat APBN/APBD dan relaksasi pajak, bea cukai, dan retribusi daerah) maupun moneter (lewat BI/OJK berupa restrukturisasi kredit dan kebijakan lainnya) diarahkan agar tepat sasaran dan efektif mengatasi dampak Covid-19.

Sasaran kegiatan Jaring Pengaman Sosial (JPS) lewat berbagai instansi pemerintah pusat hingga desa, misalnya, harus direformulasi sesuai kondisi pada masa wabah corona. Koordinasi yang lemah dan tumpang tindih antar-instansi pemerintah dalam menyalurkan bantuan akan menambah deretan masalah yang dihadapi pada masa sulit.

Dana Rp 110 triliun yang diperuntukkan pemerintah untuk JPS, potensial memunculkan masalah baru, ketimbang menjadi solusi jitu. Padahal, JPS pada masa seperti ini sangat membantu terutama masyarakat lapisan bawah, dan bermanfaat untuk tetap mempertahankan daya beli.

Ada baiknya, cakupan JPS dan berbagai bantuan kepada rakyat pada masa wabah virus corona tidak habis untuk sembako dan uang tunai. Perlu dipertimbangkan “materi bantuan” yang membuat rakyat bisa bertahan hidup, sekaligus meningkatkan imunitas tubuh.

Jahe, kulit jeruk, madu, tanaman-tanaman tradisional lainnya yang sudah terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan mudah didapatkan di lingkungan kita, semestinya menjadi bagian dari upaya itu. Karena daya tahan tubuh yang kuat menjadi “pertahanan yang sejati” untuk mematikan serangan Covid-19.

Berbagai bantuan pemerintah pusat hingga desa sebaiknya memasukkan “penguatan daya tahan butuh” dalam paket program dan kegiatannya. Tanpa daya tahan tubuh yang kuat, berbagai paket bantuan yang bernilai ratusan triliun rupiah itu bisa tidak efektif melawan pandemi corona. Karena imunitas itulah akhirnya bisa menghentikan pandemi. Sekaligus, jika tepat sasaran, bisa jadi penanggulangan wabah corona lebih cepat dan lebih hemat.

Ingat, imunitas tubuh adalah pertahanan paling kukuh dan terbukti bisa melawan aneka virus sepanjang zaman. Tugas kita, entah negara atau orang demi orang, menjaga agar imunitas tetap kuat, tangguh dan garang mematikan berbagai virus yang masuk ke tubuh. Jika pandemi corona “semacam perang”, saya yakin the winner will be human immunity. (***/rom/k8)

 

 

 

CATATAN

Suhendro Boroma

Direktur Utama Jawa Pos Group

 

The Winner Will be Human Immunity

 

PANDEMI virus corona menjangkiti seluruh dunia. Berbagai upaya medik dan non-medik sudah serta sedang dilakukan. Sampai sekarang belum juga berhasil “menaklukkan” virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, itu. Sementara berbagai pemodelan statistik tentang perkiraan durasi awal-puncak-akhir Covid-19 yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan perorangan, masih pada tataran “peramalan”.

Ada yang menyebut pandemi corona semacam “siklus 100 tahunan” yang melanda dunia. Tahun 1920 wabah Marseille, atau penyakit pes, menyebar dari Marseille, kota pelabuhan di Prancis. Wabah yang popular dengan nama The Great Plague of Marseille itu, menyebar ke seluruh Eropa, dan merengut 100.000 nyawa.

Pada 1820, pandemi kolera menyebar dari Jessore, dekat Calcutta, India. Wabah itu disebut Kolera Asiatik, disebabkan oleh bakteri di Sungai Gangga, India. Dari India, kolera menyebar dan menyerang ke seluruh Asia hingga Mediterania. Setidaknya 100.000 orang mati oleh wabah yang berakhir pada 1824 itu.

Flu Spanyol menyebar dan menjangkiti seluruh dunia hingga Kutub Utara pada 1920. Wabah akibat mutasi genetik virus influenza yang berubah menjadi virus sangat berbahaya itu menginfeksi lebih 500 juta orang di seantero dunia.

Desember 2019, virus corona mulai menjangkiti warga Wuhan. Virus yang disebut-sebut dari kelelawar dan ular di pasar Wuhan itu menyebar ke seluruh dunia sejak Januari 2020 hingga kini. Belum ada kepastian kapan corona berakhir.

Terdapat 10 penyakit yang paling banyak merenggut nyawa manusia. Ranking pertama penyakit jantung iskemik. Hingga 2012, penyakit itu telah mematikan 7,4 juta orang dengan tingkat kematian 13,2 persen. Urutan berikutnya: strok, penyakit paru-paru obstruktif kronik (chronic obstructive pulmonary disease/COPO), infeksi pernapasan bawah, kanker-trakea-bronkus, HIV/AIDS, dan diare. Tiga terakhir ditempati diabetes mellitus, tuberculosis (TBC), dan malaria.

HIV/AIDS merupakan penyakit yang hingga kini belum bisa “ditaklukkan” manusia. Sejak “menyerang” penduduk di Kongo pada 1976, penyakit yang menyerang immune system manusia itu hingga kini menjangkiti 36 juta orang di seluruh dunia. HIV/AIDS begitu menakutkan, belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkannya. Penyakit itu identik dengan sanksi sosial paling tinggi: aib di tengah masyarakat.

Untuk “keluarga flu”, setidaknya sudah tercatat lima dengan serangan yang mematikan manusia. Flu Hong Kong, muncul dari Hong Kong pada 13 Juli 1968, menyebar ke Vietnam, Filipina, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat, dengan tingkat kematian 0,5 persen.

Flu Asia, muncul dari Tiongkok pada 1956-1958. Menurut WHO, Flu Asia menewaskan setidaknya 2 juta warga dunia. Berikutnya flu dengan penyebab influenza, mewabah pada 1918-1920, menginfeksi sekitar 1/3 dari populasi dunia.

Ada juga flu burung (H5N1), virus dari unggas yang pertama kali menular kepada manusia pada 1997, dengan tingkat mortalitas (kematian) 60 persen dari total pasien yang terinfeksi. Pada 1889-1990, mewabah Flu Rusia, menginfeksi sedikitnya 1 juta manusia.

Pada masa silam, tahun 1364-1354, The Black Death menginfeksi 25 juta orang. Pada abad ke-6 Masehi, tahun 541-542, wabah Justinian, menyebar dari Kekaisaran Bizantium dan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Meditarenia, menginfeksi hampir separuh penduduk Eropa, merengut 25 juta jiwa. Masih pada abad ke-2 Masehi, tahun 165, wabah Antoninus menginfeksi penduduk di Asia Kecil, Mesir, Yunani, dan Italia, mematikan 5 juta orang.

Kisah-kisah yang diabadikan di kitab-kitab suci, juga menukilkan sejumlah wabah yang mematikan manusia. Paling mutakhir, virus “sekeluarga dengan corona” sudah dua kali “menyambangi” dunia.

Tahun 2002, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) berjangkit dari kelelawar kepada manusia di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Disusul MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus), juga dari kelelawar ke unta dromedis, menginfeksi penduduk Arab Saudi pada 2012, lalu menyebar ke Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

Pendek kata, dunia dan umat manusia sejak zaman purba hingga kini sudah berulang dilanda wabah dan diserang pandemi aneka virus dan penyakit. Selama itu pula manusia telah menghasilkan banyak penemuan, nobel kedokteran, kisah kepahlawanan, dan peradaban dalam melawan pandemi serta menyembuhkan aneka penyakit. Sejauh ini, manusia terus berkembang, telah mencapai 7,7 miliar pada 2019.

Adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat manusia tak saja survive, tetapi terus berkembang biak melewati wabah, pandemi, virus, dan berbagai penyakit. Virus, penyakit yang kemudian menjadi pandemi mempunyai caranya sendiri berkembang biak, beradaptasi, dan bermutasi dari masa ke masa. Sejak manusia belum mengenal globalisasi. Pada era prasejarah di masa sejarah. Dari zaman batu, masyarakat pertanian, industri, informasi hingga era digital 4.0.

Pada masa alat angkut masih berupa pedati, atau bahkan jalan kaki. Virus telah menyebar antar-wilayah kerajaan dan teritori. Revolusi industri yang melahirkan sepeda motor, mobil, kereta api, kapal uap, seperti juga menjadi “moda” bagi penyebaran virus dan penyakit.

Pada masa borderless world, pesawat ukuran raksasa menghubungkan antarbenua yang membuat pergerakan manusia, barang dan jasa demikian pesat. Juga menjadi “tumpangan” virus seketika menginfeksi penduduk seantero dunia.

Dari masa ke masa itu, manusia selalu mencari dan berikhtiar. Entah dengan ramuan tumbuh-tumbuhan. Ada juga dibumbui mistik. Dari waktu ke waktu, manusia terus belajar, meneliti dan mengumpulkan data, informasi hingga menyimpulkan: ilmu pengetahuan terbukti menjadi solusi bagi upaya melumpuhkan penyakit.

Maka, belum saat ini. Tak lama, seperti “pengalaman dan ikhtiar” yang telah bertumpuk-tumpuk berabad-abad. Manusia pada akhirnya akan menemukan siasat dan obat untuk mematikan virus corona.

Lebih dari itu, tubuh manusia sungguh sangat lengkap dan sempurna. Tuhan sudah menciptakan “manusia sebaik-baik bentuk dan mahluk yang paling sempurna”. Untuk urusan penyakit, semua manusia sudah memiliki senjata dan pertahanan: imunitas alias kekebalan tubuh.

Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kurang lebih memperkuat “human immunity” agar bisa melawan aneka virus dan menyembuhkan berbagai penyakit. Boleh dikata, itulah tugas manusia: menjaga, mempertahankan, dan memperkuat imunitas tubuh.

Tak bisa disangkal, pandemi corona telah mengubah segalanya. Merusak dan memporak-poranda berbagai sendi kehidupan. Perang melululantakkan banyak negeri. Wabah mematikan banyak manusia. Krisis ekonomi merusak sendi-sendi kemakmuran dan kesejahteraan. Bencana alam dalam sekejap mengobrak-abrik peradaban.

Itu semua tidak terjadi di semua tempat. Perang dunia sekalipun, ada sisi dunia lain yang damai. Krisis ekonomi masih menyisakan sisi cemerlang di tengah kesulitan. Bencana alam sebesar tsunami yang melanda Aceh, Thailand, hingga Sri Lanka dan India pada 24 Desember 2004, selamat sejahtera di tempat lain.

Pandemi corona seperti gabungan antara bencana alam, perang, krisis ekonomi, dan wabah sekaligus. Negara miskin hingga adidaya tak berdaya dibuatnya.

Terdapat dua cara negara-negara mengatasi virus corona: lockdown dan tanpa lockdown. Indonesia tidak melakukan lockdown. Setidaknya tiga negara dapat dijadikan rujukan berhasil mengatasi corona dengan cepat, terukur, dan tingkat kematian yang rendah tanpa lockdown. Yakni, Korea Selatan (Korsel), Taiwan, dan Islandia.

Apa kiatnya? Korsel menerapkan prinsip ini: “temukan, isolasi, dan obati”. Sebagai negara yang pertama “menerima ekspor corona dari Tiongkok”, Korsel tidak melakukan lockdown seperti Tiongkok. Penerbangan dari berbagai “zona merah” langsung ditutup, dan semua orang yang tiba dengan pesawat, terutama dari luar negeri di-tracking: dipasang aplikasi yang bisa memantau pergerakan mereka di mana pun di Korsel.

Prinsip “temukan” dilakukan dengan melakukan tes massal kepada penduduk, khususnya di wilayah-wilayah zona merah. Setiap hari dilakukan tes (rapid test dan polymerase chain reaction test) terhadap 20 ribu orang. Di kota-kota besar dibuka layanan drive-through tes virus corona. Dengan cara itu, rasio penduduk yang melakukan tes corona di Korsel mencapai 6.148 orang per 1 juta penduduk.

Pemeriksaan massal cepat dan akurat itu dilakukan untuk melacak siapa saja yang sudah terjangkit Covid-19. Mereka yang terjangkit langsung “diisolasi” supaya tak menjangkiti orang lain. Saat diisolasi, mereka diobati hingga sembuh. Maka, meski tidak melakukan lockdown, Korsel berhasil “melewati pandemi corona dalam kurun empat bulan, dengan tingkat kematian yang rendah.

Islandia dan Taiwan kurang lebih melakukan yang sama dengan Korsel: pemeriksaan massal secara cepat dan akurat terhadap ribuan orang. Islandia melakukan tes corona terhadap 120.416 orang per 1 juta penduduk. Di Taiwan dilakukan tes corona terhadap 2.252 warga per 1 juta penduduk.

Sudah pasti ada banyak hal yang dilakukan selain tes massal secara cepat dan akurat: disiplin, ketersediaan, dan kesiapan sarana dan prasarana kesehatan, ketegasan pemerintah, dan kemauan yang keras dari segenap komponen bangsa untuk segera mengakhiri wabah corona.

Maka, sangat dianjurkan, Indonesia hendaknya melakukan tes massal secara cepat dan akurat kepada warganya. Untuk diketahui, hingga kini Indonesia masih termasuk kategori “negara rendah” yang melakukan tes corona.

Per 10 April 2020, rasio yang melakukan tes corona baru 65 orang per 1 juta penduduk. Bandingkan dengan Korsel yang melakukan tes corona lebih 20 ribu orang per hari. Itulah “mitigasi kesehatan” yang semestinya dilakukan Indonesia jika tidak mau melakukan lockdown.

Pada aspek ekonomi dan keuangan, pandemi corona memunculkan satu hal paling ditakuti: ketidakpastian (uncertainty). Berapa lama dan berapa dalam dampak corona terhadap sektor ekonomi dan keuangan, belum ada kepastian. Periodesasi pemerintah yang terdiri dari masa tanggap darurat (Maret-Mei), recovery (Juni-Desember), dan normalisasi (Januari-Juni 2021) belum cukup memadai untuk membuat dunia usaha dan pelaku ekonomi resilience (tangguh) pada masa pandemi corona.

Sangat baik dilakukan pendataan yang spesifik dan detail bagi semua pelaku usaha yang terkena dampak Covid-19. Pendataan yang dimaksud tak hanya mencakup “by name by address” UMKM dan menengah atas, tetapi kategori tingkat kedalaman dampak yang dialami.

Misalnya menghasilkan kategori “bertahan”, “sulit bertahan”, dan “terancam bangkrut”. Tanpa pemetaan dan pendataan seperti itu, sulit memastikan ketepatan tindakan, dan bantuan pemerintah efektif dalam menyelamatkan dunia usaha. 

Kebanyakan pelaku usaha melakukan mitigasi secara mandiri. Mengacu pada banyak pemodelan statistik, wabah corona di Indonesia diperkirakan berakhir Juni-Juli. Ada juga yang memprediksi berakhir Agustus, bahkan hingga September.

Perkiraan-perkiraan itu masih diberi catatan: setiap daerah bisa berbeda-beda “awal-puncak-akhirnya”. Karena itu, mitigasi kondisi terburuk dampak Covid-19 terhadap dunia usaha berlangsung Maret-Desember 2020.

Dengan durasi itu, bisa dikelola kemampuan dan daya tahan sampai ekonomi menemukan titik keseimbangan baru (new equilibrium). Sudah pasti lebih baik wabah corona cepat berakhir. Tetapi roda dan mesin ekonomi memerlukan waktu untuk kembali berjalan normal. Maka, tetap saja Desember titik yang “paling aman” untuk sedapatnya dikelola dalam menjaga keberlangsungan usaha masing-masing.

Mitigasi terhadap sektor ekonomi bisa dijadikan “paduan” dampak sosial berantai akibat ekonomi mati suri pada masa pandemi Covid-19. Pengangguran baru, kemiskinan, dan berbagai ikutannya semestinya dihitung dan ditelaah secara cepat dan tepat.

Dari sinilah, kebijakan fiskal (lewat APBN/APBD dan relaksasi pajak, bea cukai, dan retribusi daerah) maupun moneter (lewat BI/OJK berupa restrukturisasi kredit dan kebijakan lainnya) diarahkan agar tepat sasaran dan efektif mengatasi dampak Covid-19.

Sasaran kegiatan Jaring Pengaman Sosial (JPS) lewat berbagai instansi pemerintah pusat hingga desa, misalnya, harus direformulasi sesuai kondisi pada masa wabah corona. Koordinasi yang lemah dan tumpang tindih antar-instansi pemerintah dalam menyalurkan bantuan akan menambah deretan masalah yang dihadapi pada masa sulit.

Dana Rp 110 triliun yang diperuntukkan pemerintah untuk JPS, potensial memunculkan masalah baru, ketimbang menjadi solusi jitu. Padahal, JPS pada masa seperti ini sangat membantu terutama masyarakat lapisan bawah, dan bermanfaat untuk tetap mempertahankan daya beli.

Ada baiknya, cakupan JPS dan berbagai bantuan kepada rakyat pada masa wabah virus corona tidak habis untuk sembako dan uang tunai. Perlu dipertimbangkan “materi bantuan” yang membuat rakyat bisa bertahan hidup, sekaligus meningkatkan imunitas tubuh.

Jahe, kulit jeruk, madu, tanaman-tanaman tradisional lainnya yang sudah terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan mudah didapatkan di lingkungan kita, semestinya menjadi bagian dari upaya itu. Karena daya tahan tubuh yang kuat menjadi “pertahanan yang sejati” untuk mematikan serangan Covid-19.

Berbagai bantuan pemerintah pusat hingga desa sebaiknya memasukkan “penguatan daya tahan butuh” dalam paket program dan kegiatannya. Tanpa daya tahan tubuh yang kuat, berbagai paket bantuan yang bernilai ratusan triliun rupiah itu bisa tidak efektif melawan pandemi corona. Karena imunitas itulah akhirnya bisa menghentikan pandemi. Sekaligus, jika tepat sasaran, bisa jadi penanggulangan wabah corona lebih cepat dan lebih hemat.

Ingat, imunitas tubuh adalah pertahanan paling kukuh dan terbukti bisa melawan aneka virus sepanjang zaman. Tugas kita, entah negara atau orang demi orang, menjaga agar imunitas tetap kuat, tangguh dan garang mematikan berbagai virus yang masuk ke tubuh. Jika pandemi corona “semacam perang”, saya yakin the winner will be human immunity. (***/rom/k8)

 

 

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers