MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Senin, 06 April 2020 12:02
Jejak Sejarah Mal di Samarinda, Pertama Berdiri hingga Primadona 90-an
KENANG: Mal pertama yang dimikili Samarinda pada dekade 1980-an. Ramai dikunjungi warga apalagi lokasinya strategis dekat dengan Pasar Pagi dan Citra Niaga.

PROKAL.CO, Sebelum mengenal pusat perbelanjaan modern seperti sekarang. Dahulu kehadiran eskalator atau tangga berjalan jadi satu teknologi yang membuat penasaran. Ragam hiburan juga ditempatkan dalam satu tempat bernama mal. Sejak 80-an, mulai berdiri mal di Samarinda. Sebut saja Mesra Indah, Plaza Samarinda, Samarinda Central Plaza (SCP), dan Lembuswana. Berikut penggalan cerita bermulanya geliat perdagangan modern di Samarinda.

 

GEDUNG putih yang masih berdiri di Jalan KH Khalid menjadi pusat perbelanjaan pertama di Samarinda. Bangunan itu diresmikan pada dekade 1980-an dengan mengadopsi nama Mesra Indah milik pengusaha H Rusli. Saat ini terdiri dari empat lantai, lantai pertama didominasi aneka sepatu-sandal, camilan dan toko bunga. Kemudian lantai dua diisi mainan anak-anak dan busana, lantai tiga ragam aksesori, dan ketiga mayoritas aneka makanan.

Diakui Eka Mahkona, Mesra Indah dulunya jadi andalan warga. Perempuan 60 tahun itu membuka toko yang masih ada hingga kini. Kona, sapaan akrabnya memiliki toko emas sejak 1989-an. “Dulu jualan baju sehari-hari. Ada baju tidur pria, anak-anak, perempuan. Ada juga busana buat jalan tapi khusus perempuan. Kalau enggak salah mal ini direnovasi pas 1990-an, lebih luas, dan mulai dilengkapi pendingin ruangan. Enggak lama setelah direnovasi, saya juga ganti jadi jual emas,” jelasnya saat diwawancara pada Jumat (3/4).

 

Dalam ingatannya, Kona menggambarkan kondisi Mesra Indah pada 1980-an itu kurang lebih seperti toko biasa. Tidak ada pintu masuk, dari depan Anda sudah bisa menyaksikan jejeran toko. Dulu Kona berjualan di deretan belakang dekat tangga. Terdiri dari dua lantai, lantai teratas difungsikan sebagai aula pertemuan.

“Kalau dibandingkan dulu ya pastinya enakan sekarang, tempatnya lebih nyaman, luas, dan bersih. Tapi, kalau masalah keramaian, saya rasa dulu lebih enak. Sebab, masih jadi primadona warga sekitar,” ucapnya.

Menurut pengakuan Kona, masa kejayaan Mesra Indah ada sebelum 1999. Tatkala mal ini menjadi satu-satunya pusat perbelanjaan. Ditambah lagi letaknya dikelilingi Pasar Pagi dan Citra Niaga. Memang daerah perdagangan sejak dulu kala.

“Dulu itu ramainya luar biasa. Saya rasa orang kalau mau belanja ya larinya ke daerah sini. Kalau mau belanja kebutuhan seperti sembako perginya ke Pasar Pagi. Kalau busana, atau kebutuhan lainnya ke mal. Tapi sekarang sudah sepi, jumlah yang datang bisa dihitung jari,” keluhnya.

Diwawancara terpisah, Zainal Abidin juga mengakui jika pengunjung saat ini tak seramai pada dekade 1990-an. Namun hal ini tak terlalu berdampak padanya yang berjualan kebutuhan sembako di luar mal, tepatnya seberang Mesra Indah.

“Enggak begitu mengaruh ke saya. Orang-orang lalu lalang juga masih ada yang singgah untuk beli,” tuturnya. Zainal sudah berdagang sejak 1998. Tak seperti sekarang berjualan sembako, dulu dia hanya pedagang keliling, berjualan teh dan kopi. Meski lebih sepi, pria 40 tahun itu menjelaskan ada waktu-waktu tertentu mal ini ramai. Mendekati Hari Raya Idul Fitri misalnya.

Tak lama setelah Mesra Indah beroperasi, didirikanlah mal bersejarah kedua sekitar 1999 yakni Lembuswana. Terletak di Jalan Mayor Jendral S Parman, di jantung kota. Mulai toko buku terkenal, swalayan, toko kacamata, makanan, mainan, alat musik, hingga aneka busana. Salah satunya Toko Busana Muslim Maisyita.

Dijelaskan Sri Sumarni, toko tersebut sudah berdiri sejak 2002. Perempuan yang akrab disapa Marni itu mengatakan jika sebelum 2002, jualannya masih emperan. “Saya bukan owner, pemiliknya ada di Balikpapan. Tapi sudah bekerja sejak Maisyita pertama kali dibangun. Jadi, setidaknya tahu sedikit perkembangan toko atau mal ini. Dulunya jualannya juga enggak setiap hari. Saat Ramadan saja,” ucap Marni.

Menurut ingatannya, masa kejayaan mal itu ada pada sekitar empat atau lima tahun silam. Pada masa itu, Lembuswana khususnya Toko Maisyita ramai dikunjungi. Seiring berjalannya waktu, semakin berkurang hingga berdampak pada pendapatan toko.

“Saya yang rekap laporan turut sedih. Terlebih akhir-akhir ini, saat pemerintah menggalakkan karantina mandiri. Bisa sehari hanya Rp 50 ribu saja dapat dari orang beli bros,” keluhnya.

Pada pertengahan dekade 2000-an, Marni mengenang begitu banyak orang berkunjung. Ada pula beberapa instansi swasta atau negeri mengadakan acara di lantai dasar.“Terlepas dari wabah corona, menurut saya pengunjung mal juga memang menurun. Mungkin karena beberapa mal baru yang sudah menjamur. Mal ini memang di tengah kota, tapi kalau sudah banjir, semua akses masuk itu tertutup banjir,” tambahnya.

Marni berharap keadaan mal bisa kembali seperti dulu. Khususnya didukung kegiatan-kegiatan yang bisa menghadirkan massa. Misal adanya pameran atau kegiatan di lantai dasar. Berharap Lembuswana kembali jadi primadona.

Ditemui di lain tempat, Wira Iswari, ibu rumah tangga yang pernah tinggal di daerah Lembuswana menceritakan jika ketika dibangun mal itu hanya satu bangunan saja. Bangunan yang terdapat tugu Lembuswana, merupakan hewan dalam mitologi rakyat Kutai.

“Bangunan yang sekarang menjadi tempat Gramedia, Bazar, dan Era 5000 belum ada. Pokoknya cuma bangunan yang ada tugu itu saja. Sisanya dikelilingi tanah kosong. Apalagi warung makan yang sekarang ada di dekat pintu keluar, itu dulunya cuma tumpukan batu gunung,” kisahnya.

Menurut Wira, Lembuswana dulunya lebih akrab dengan sapaan Matahari. Sebab, departerment store tersebut pertama kali dibuka di sana. Hingga memasuki 2002, barulah gedung lain dibangun. Menjadi mal dengan kompleks pertokoan yang dikenal seperti sekarang. (*/nul/rdm2)


BACA JUGA

Selasa, 04 Februari 2020 12:04

Kritik Kota lewat Lirik Rap, Wajah Samarinda dari Lagu “Samar Indah"

Hanya di Samarinda kita bisa hidup sama rendah Nikmati tepian…

Selasa, 04 Februari 2020 12:03

Berkas Pasar Baqa Dilimpah, Rabu, Sidang Perdana

SAMARINDA-Berkas dugaan korupsi tiga tersangka Pasar Baqa sudah digulirkan Korps…

Selasa, 04 Februari 2020 12:01

Terima Paket Ganja 2,5 Kilo, Mahasiswi Ini Mengaku Cuma Diupah Rp 300 Ribu

SAMARINDA - Tersangka inisial IT yang menerima paket 2,5 kilogram…

Selasa, 04 Februari 2020 12:00

Merasa Dipalak Ketika Berkendara di Samarinda? Dua Pria Ini Mungkin Pelakunya

SAMARINDA - Tim Macan Borneo Satreskrim Polres Samarinda akhirnya meringkus…

Selasa, 04 Februari 2020 11:59

Hanya Sakit Demam, RS AWS Bantah Merawat 1 Pasien Terkena Corona Virus

SAMARINDA - Rumah Sakit AW Sjahranie (RS AWS) Samarinda membantah…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:48

Pengedar Sabu Berbahan Tawas Ditangkap

SAMARINDA-Banyaknya pemakai narkoba jenis sabu rupanya menjadi peluang bagi Kene…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:10

Begini Kondisi Terakhir Sopir Truk yang Sebabkan 4 Nyawa Melayang di Gunung Manggah Itu...

SAMARINDA- Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) Polresta Samarinda, pada Kamis…

Sabtu, 01 Februari 2020 09:05

Jalin Kerjasama dengan Rumah Sakit, Poltekkes “Nyebrang” ke Malaysia

SAMARINDA-Terus melebarkan sayap, kini Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes)…

Jumat, 31 Januari 2020 23:46

Samarinda Masih Kekurangan Pengajar

Di Samarinda, ada sekitar 2 ribu guru honorer. Mereka tengah…

Jumat, 31 Januari 2020 23:45

Perlu Waktu Realisasikan DOB Samarinda Seberang

SAMARINDA–Usul menjadikan Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir sebagai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers