MANAGED BY:
MINGGU
31 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Selasa, 31 Maret 2020 14:19
Lockdown Tak Ganggu Ekspor Pisang ke Malaysia
Produk pisang kepok asal Sangatta tetap diekspor ke Malaysia

PROKAL.CO, Kegiatan ekspor di sektor pertanian diklaim masih tetap jalan meski pademi virus corona (Covid-19) terus menyebar ancaman. Termasuk komoditas pisang kapok yang dikirim ke Malaysia.

 

BALIKPAPAN – Pemerintah memastikan kegiatan ekspor pertanian ke Malaysia tetap berjalan baik meski pemerintah Negeri Jiran tengah menetapkan status lockdown. Plt. Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dadang Sudarya mengatakan, sebelum serangan virus corona, Kaltim sudah pernah merasakan ganasnya serbuan blood disease bacterium (BDB) pada kisaran tahun 2003-2005.

Namun berbeda dengan Covid-19 yang tanpa ampun menyerang manusia, blood disease bacterium, fusarium oxysporum dan pseudomonas solanacearum begitu ganas menyerang tanaman pisang petani. Serangan bakteri penghancur itu mengganggu bagian akar, bonggol, batang hingga buah pisang. Gempuran hebat tersebut sontak membuyarkan harapan petani.

Saat itu, pisang banyak ditanam di Kutai Timur, tepatnya di Kecamatan Kaliorang dan Kaubun, termasuk di sebagian Bengalon dan Sangatta. Kutai Timur pun menjadi produsen pisang terbesar di Kaltim. Beberapa tahun terakhir ini, semangat para petani kembali menggeliat. Sebab penyakit darah, fusarium dan layu bakteri sudah berhasil diatasi.

“Harga pisang di tingkat petani juga sudah membaik, antara Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per sisir. Karena itu petani bergairah kembali. Tidak seperti dulu, sekarang mereka merawat kebun dengan lebih baik” ucapnya, Senin (30/3).

Semangat petani kian membara kerena sekarang berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia. Pademi Covid-19, disebutnya tidak menghentikan aktivitas ekspor. Sebab kontrak dua tahun sudah diteken. “Kami terus berusaha mengakomodasi permintaan. Namun tetap, dalam ruang lingkup yang aman. Dan kami kami meningkatkan kewasapadaan,” bebernya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Berkah Bersatu Priyanto mengatakan, pihak pembeli Malaysia memberi standar 2,5 kg per sisir. Sementara pisang dari Kaltim, rata-rata hanya sekitar 2,3 kg per sisir. “Namun pihak Malaysia masih memberi toleransi kepada kita,” ungkap Priyanto.

Ia menjelaskan, pisang kepok harus dipanen dalam kondisi 70 hingga 80 persen (belum matang). Pasalnya, perjalanan menuju Kuala Lumpur memerlukan waktu sekitar 13 hari. Hal itu dilakukan agar pisang tidak membusuk saat tiba di Malaysia.

Pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal (KKT) di Balikpapan dan transit di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sebelum bergerak menuju Kuala Lumpur. Soal jaminan keberlanjutan ekspor pisang, para petani tidak waswas. Sebab untuk kerja sama ini, pengusaha Malaysia sudah mengikat kontrak kerja sama dalam waktu dua tahun.

“Karena itu, kami akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas Pisang Kepok Grecek ini. Sebab bukan tidak mungkin, permintaan ekspor bisa datang dari negara lain, bukan hanya Malaysia. Sementara dari dalam negeri permintaan pisang ini juga masih sangat tinggi,” katanya.

Pisang-pisang dari Kaltim ini akan diolah menjadi tepung pisang atau tepung/bubur sun (makanan bayi). Priyanto menyebutkan nilai ekspor untuk sekali pengiriman sebanyak 60 ton pisang, nilainya bisa mencapai Rp 300 juta. “Dikurangi semua biaya, masih untung. Makanya, bisnis pisang ini sangat prospektif dan menjanjikan,” ungkapnya.

Sejak ekspor perdana pada Oktober 2019, hingga Maret 2020 tercatat sudah 11 kali pisang Kaubun dan Kaliorang dikirim ke Kuala Lumpur. Bahkan beberapa hari setelah pemberlakuan lockdown di Malaysia, Pisang Kepok asal Kaltim baru tiba di Kuala Lumpur.

Harga Pisang Kepok di sejumlah pasar di Samarinda saja sudah lumayan tinggi. Satu sisir bisa mencapai Rp 15 ribu. Harga Rp 10 ribu hanya dijual untuk pisang yang sebagian besar sudah masak dan tidak lagi padat.

Sekarang, petani juga tidak terlalu khawatir dengan kemungkinan serangan fusarium dan bakteri berbahaya lainnya. Sebab menurut Priyanto, fusarium dan kawan-kawannya akan hilang atas dasar inisiatif dari para petani sendiri. “Perlakuan petani sendiri yang akan melawan fusarium. Caranya dengan pola perawatan pisang yang lebih baik,” kata Priyanto. (aji/ndu/k18)


BACA JUGA

Jumat, 31 Januari 2020 11:47

Tambah Satu Crane, PT Pelindo IV Matangkan Rencana Pengembangan Semayang

PT Pelindo IV Balikpapan optimistis kinerja sepanjang tahun ini lebih…

Kamis, 30 Januari 2020 15:04

Jadi Favorit, Permintaan Kopi Terus Naik

SURABAYA– Permintaan kopi dalam negeri terus meningkat. Itu tidak terlepas…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

RUU Omnibus Law Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan omnibus law bisa mendorong kinerja…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

Kunjungan Bisnis Terganggu Corona

SAMARINDA – Penyebaran wabah virus corona berpotensi menghambat pengusaha dalam…

Rabu, 29 Januari 2020 13:09

Krakatau Steel Restrukturisasi Utang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk berhasil merestrukturisasi utang senilai…

Rabu, 29 Januari 2020 12:07

Target Integrasikan Pelabuhan di Kaltim

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV siap mendukung berjalannya…

Selasa, 28 Januari 2020 13:40

Garap Mobil Listrik Hyundai Inves USD 750 Juta

JAKARTA– Grab Indonesia bekerja sama dengan PT Hyundai Motor Indonesia…

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Bantu UMKM Perluas Pasar

SAMARINDA- Tak hanya mempermudah pelaku usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 28 Januari 2020 10:42

Pertahankan Resep Warisan Mertua, Terbantu Marketplace

Menjaga konsistensi rasa masakan dan memuaskan pelanggan menjadi kunci sukses…

Senin, 27 Januari 2020 12:09
Menjaga Eksistensi Usaha ala Hadlan Feriyanto Munajat

Jangan Lupa Bahagia, Kombinasikan Hobi dengan Bisnis

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Tapi akan lebih memuaskan jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers