MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Minggu, 29 Maret 2020 12:04
Kasus Positif Tembus 1000 Orang, Industri Dalam Negeri Didorong Memproduksi APD
Antisipasi yang dilakukan warga, salah satunya untuk sementara tidak melaksanakan kegiatan yang mengundang banyak orang, termasuk kegiatan keagamaan.

PROKAL.CO, JAKARTA ---  Jumlah  pasien yang positif terinfeksi virus Covid-19 akhirnya menembus angka psikologis 1.000 orang. Jubir Pemerintah Untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan bahwa ada lonjakan 153 kasus baru pada periode 26 hingga 27 Maret 2020.

”Total pasien positif menjadi 1046 orang,” jelas Yuri (27/3). Angka tersebut diiringi dengan pertambahan jumlah pasien sembuh sejumlah 11 orang sehingga secara kumulatif menjadi 46 orang diiringi dengan 9 kematian baru sehingga total nyawa melayang akibat Covid-19 di Indonesia berjumlah total 87 orang.  

Lonjakan kasus yang tinggi ini kata Yuri menunjukkan bahwa masih ada proses penularan di tengah masyarakat meskipun perintah untuk tetap di dalam rumah dan menjaga jarak terus digaungkan setiap hari oleh pemerintah. ”Dalam hal ini masyarakat menjadi pihak yang paling rentan terhadap penularan covid-19 bilamana tidak menerapkan anjuran pemerintah dalam pencegahan sesuai protokol kesehatan,” jelas Yuri.

Yuri mengatakan   mengatakan bahwa banyaknya kasus penularan terjadi setelah adanya kontak dekat antara yang membawa virus dengan orang baru sehingga hal tersebut memunculkan angka yang menjadi sakit. Hal tersebut sekaligus menjadikan kasus penambahan selalu naik dari hari ke hari.

Sebaran kasus covid-19 di Indonesia meliputi Provinsi Aceh menjadi empat kasus, Bali sembilan kasus, Banten 84 kasus, DI Yogyakarta 22 kasus, DKI Jakarta 598 kasus. Selanjutnya di Jambi satu kasus, Jawa Barat 98 kasus, Jawa Tengah 43 kasus, Jawa Timur 66 kasus, Kalimantan Barat tiga kasus, Kalimantan Timur 11 kasus, Kalimantan Tengah enam kasus dan Kalimantan Selatan satu kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau lima kasus, NTB dua kasus, Sumatera Selatan satu kasus, Sumatera Barat lima kasus, Sulawesi Utara dua kasus, Sumatera Utara delapan kasus, Sulawesi Tenggara tiga kasus.

Selain itu tercatat 29 kasus di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah satu kasus, Lampung empat kasus, Riau satu kasus, Maluku Utara dan Maluku masing-masing satu kasus, Papua Barat dua kasus serta tujuh kasus positif di Papua.

Di sisi lain, kebutuhan mendesak akan APD tidak hanya dirasakan di dalam negeri. saat ini, hampir semua negara kekurangan APD. KTT Luar Biasa G20 menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk menanggulangi pandemic Covid-19. Salah satunya, mengupayakan semaksimal mungkin pengadaan alat-alat kesehatan. Beberapa negara akan menjadi tumpuan, salah satunya Indonesia.

Indonesia sejak lama memang dikenal sebagai salah satu produsen APD. ’’Indonesia punya kesempatan karena beberapa (produk) seperti APD, indonesia punya kapasitas untuk menyuplai. Termasuk hand sanitizer,’’ terang Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam keterangannya kamis (26/3) malam lalu. Sehingga, Indonesia juga diharapkan bisa menjadi pemasok global.

IMF dan World Bank, tutur Mulyani, telah berkomitmen mendukung sumber daya bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi masker. Merejka didorong untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dari dalam negeri, pemerintah juga akan memberikan dukungan penuh.

’’Kita akan identifikasi perusahaannya, melihat kebutuhan mereka untuk bahan baku, dan melihat kebutuhan mereka untuk bisa meningkatkan kapasitas produksi,’’ lanjutnya. karena seluruh dunia sedang kekurangan alat kesehatan, terutama APD.

Di luar itu, saat ini semua negara G-20 sedang merumuskan kebijakan bersama untuk menciptakan vaksin Covid-19. ’’Sudah ada indikatif untuk mengalokaikan 4 billion USD yang dimobilisasi dari semua negara G-20,’’ tambahnya. Anggaran tersebut untuk mengakselerasi riset dan menemukan antivirus atau vaksin pandemic covid-19. Sedang dibahas di level menkeu anggota G-20.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahw pihaknya sudah meminta asosiasi tekstil untuk ikut membuat APD sebanyak mungkin demi memenuhi kebutuhan. ’’Saat ini kita masih butuh cukup banyak dalam menghadapi penyebaran virus korona di Indonesia,’’ terangnya (27/3).

Diversifikasi produk tekstil itu sekaligus bisa menjadi solusi di tengah menurunnya pasar tekstil dalam negeri akibat pagebluk Covid-19. Sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan wabah akan berakhir. Namun, dalam hitungan empat bulan ke depan, kebutuhan dalam negeri ada di kisaran 12 juta APD. Mengingat, mayoritas perlengkapan APD bersifat sekali pakai. ’’Dengan kondisi seperti saat ini, kemungkinan demand dapat bertambah hingga 100 persen, bahkan 500 persen,’’ lanjutnya.

Pihaknya telah memetakan potensi industri APD di dalam negeri, termasuk juga industri tesktil yang bersedia memproduksi APD. Selain masker, ada kebutuhan coverall, caps, towel, sarung tangan, pelindung kaki, pelindung tangan, hingga kacamata khusus (goggle)

Yang terpenting, bahan bakunya harus dipastikan tersedia. Pihaknya sedang berkoordinasi dengan BNPB dan Kemenkes untuk bisa memperlancar impor bahan baku. Juga, izin edar APD tersebut di Indonesia.

Pihaknya juga mendorong produsen otomotif di dalam negeri untuk bisa ikut memproduksi alat kesehatan. Dalam hal ini, alat bantu pernapasan khususnya ventilator. Rencananya, akan dibuat prototipe sederhana yang dapat diproduksi massal melalui kerja sama antara industri otomotif dengan industri komponen.

Kemenperin telah meminta Indonesian Nonwoven Association (INWA) agar anggotanya bisa menyediakan bahan baku APD dan masker. Sehingga untuk memproduksi APD dan masker tidak ada lagi hambatan kebutuhan bahan baku, terang Dirjen Industri kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam.

Bahan baku untuk produksi peralatan tersebut mulai dikirim ke Indonesia sejak pekan lalu dari Tiongkok. Selain itu, sejumlah perusahaan anggota Asosiasi Perusahaan Kawasan Berikat juga sedang menyiapkan infrastruktur untuk memproduksi masker dan APD dalam rangka penanganan Covid-19.

Menko Polhukam Mohammad Mahfud MD menyampaikan bahwa pemerintah sudah menghitung berbagai risiko penyebaran virus korona. Termasuk di antaranya terkait kesediaan APD untuk tenaga medis yang berada di garda terdepan. ”Memerlukan jutaan bahkan. Atau sekurang-kurangnya ratusan ribu,” terangnya kepada awak media.

APD sebanyak itu dibutuhkan apabila wabah yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu berkepanjangan. Misalnya tujuh bulan sejak kali pertama penyebaran virus korona ditetapkan sebagai bencana non alam. ”Untuk jaga-jaga kalau kita berpikir pesimis, pesimisnya itu kalau sampai tujuh bulan” kata Mahfud. ”Kami menghitung risiko yang paling berat,” tambahnya. Karena itu dibutuhkan jutaan APD. Mengingat perlengkapan tersebut harus sering diganti.

Mahfud memastikan, pemerintah sudah menyiapkan anggaran serta mekanisme lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. ”Kemarin kita agak cemas juga karena kita kekurangan APD. Nah, sekarang pemerintah sudah mempunyai jalan,” ucap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut. Selain mengandalkan perusahaan dalam negeri, dia menyebutkan bahwa kerja sama luar negeri juga diandalkan.

Menurut Mahfud, sudah banyak negara yang siap kerja sama dengan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan APD. Dia memang tidak menyebut negara mana saja yang siap menawarkan bantuan, yang pasti sudah ada dan bisa diandalkan. ”Pokoknya sekarang kami sudah menyiapkan APD itu,” ucap dia. Bukan hanya APD, ventilator yang sedang banyak dicari dan dibutuhkan pun dipastikan bakal tersedia dalam waktu dekat.

Pejabat yang pernah dipercaya sebagai menteri pertahanan (menhan) itu pun menyatakan, stok ventilator juga sudah tidak memadai. Sehingga persedian yang ada harus ditambah. Sebab, berdasar informasi yang dia terima, penyebab pasien Covid-19 yang gagal sembuh di antaranya adalah mereka tidak kebagian menggunakan ventilator karena harus antre dan bergantian. ”Itu (ventilator) akan kami datangkan,” tegasnya.

Bantuan Dari Tiongkok

Sementara itu, 40 ton bantuan alat kesehatan untuk penanganan Covid-19 yang berasal dari berbagai investor asal Tiongkok telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta kemarin. Pesawat pengangkut berupa Boeing 777 Garuda Indonesia mendarat dini hari pukul 01.04 WIB.

”Bantuan ini berasal dari investor tiongkok yang berfokus pada hilirisasi minerba. Alhamdulillah bantuan tahap 1 sudah tiba dengan selamat, selanjutnya minggu ini akan datang lagi yang tahap 2, kami bergerak cepat," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Agung Kuswandono.  

Pasokan medis itu terdiri dari test kit Covid-19, swab kit, masker N95, masker bedah, hingga alat pelindung diri seperti baju, kacamata, sarung tangan, dan sebagainya. Seluruh bantuan tersebut nantinya akan didistribusikan melalui BNPB, rumah sakit-rumah sakit, dan jaringan beberapa Fakultas Kedokteran.

Sekretaris Utama BNPB, perwakilan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Harmensyah menyampaikan bahwa mereka mengapresiasi bantuan ini. "Kami berjanji untuk langsung didistribusikan,” ungkapnya.

Selain memberikan bantuan alat kesehatan, ada pula pemberian bantuan alat lab untuk memeriksa Covid-19 kepada 6 Fakultas Kedokteran di Indonesia berupa alat PCR dan RNA extraction machine. Alat lab ini akan mampu memeriksa swab test yang dilakukan untuk mendeteksi Covid-19. Ke depan, diharapkan pada bulan April minggu kedua semua Fakultas Kedokteran tersebut akan memiliki kemampuan untuk melakukan tes masing masing sebanyak 1.000 sampel per harinya.

Relawan

Di sisi lain, program relawan Covid-19 yang diinisiasi Kemendikbud pada tahap pertama telah mencapai 15 ribu mahasiswa. Relawan mahasiswa ini nantinya diterjunkan untuk melakukan program-program preventif dan promotif melalui komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat terkait Covid-19. Relawan mahasiswa juga dapat membantu pemerintah daerah melakukan pelacakan (tracing and tracking), membantu pelayanan call center di pusat maupun daerah serta pusat-pusat layanan Covid-19.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam mengungkapkan, para relawan mahasiswa ini tengah dibekali pelatihan secara daring. Sebagian melalui video conference, lainnya menggunakan video streaming.

Pelatihan pembekalan ini bakal dilangsungkan selama tiga hari dengan pemateri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan, dan para dokter senior.

Menurutnya, pelatihan ini menjadi bagian prioritas agar para relawan paham dan bertindak sesuai protokol yang diberikan.”Pelatihan menghadapi Covid-19 ini sangat penting untuk menjaga keamanan dan meningkatkan kompetensi relawan dengan baik,” tegasnya.d

Sementara itu, Perwakilan WHO Navaratnasamy Paranietharan menambahkan, kondisi dunia saat ini semakin buruk akibat wabah COVID-19. Pandemi yang tersebar secara global menyerang hampir setiap negara di dunia. Karenanya, semuanya harus siap menghadapi pandemi berskala besar ini.

”Pesan bagi mahasiswa yang akan menjadi relawan bahwa diharapkan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan pelajaran berharga dan membantu masyarakat,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa saat ini, WHO telah melakukan eksperimen dalam skala besar untuk menangani Covid-19. WHO membagi percobaan metode penanganan/pengobatan ke dalam empat kelompok besar di mana Indonesia masuk dalam metode penanganan tersebut. Dengan demikian, masyarakat diharapkan akan mendapatkan perawatan sesuai kondisinya.

Selain itu, dia berpesan agar mahasiswa harus mampu menjaga diri selama masa relawan. Ambil langkah pencegahan dan penanganan yang tepat selama mengikuti aktivitas. ”Jika merasakan tekanan selama masa pengabdian, bicaralah kepada dosen atau profesor di tempat kalian agar dapat menenangkan diri,” paparnya.(tau/byu/syn/mia)


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2012 13:00

Edisi Ketiga UKW Luluskan 23 Wartawan KPG

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Uji Kompetensi Wartawan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers