MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Minggu, 29 Maret 2020 10:33
Pereng Taliq, Daerah Penyangga IKN yang Masih Terbelakang (1)
Hijrah karena Wabah, Belum Tersentuh Listrik Negara
Jalan masuk menuju Pereng Taliq.

PROKAL.CO, Di tengah zaman yang semakin modern, Kampung Pereng Taliq mengejar ketertinggalan. Sembari mempertahankan budaya yang semakin dilupakan.

 

EDWIN AGUSTYAN, Pereng Taliq-Kubar

DENDANG melangkah gontai menuruni kaki Pegunungan Meratus. Bersama seribuan warga Dayak Basap lainnya mereka harus meninggalkan kampung halaman. Wabah yang menyerang sudah tidak sanggup diatasi. Solusinya hanya satu; hijrah.

Itu adalah keempat kalinya mereka berpindah tempat. Namun, baru kali pertama karena terserang wabah. Dalam sehari, penduduk bisa mengubur dua sampai tiga jenazah.

Selama sepekan mereka menyusuri rimba. Sapo Anau, sebuah kawasan di tepi Sungai Nungan, jadi pilihan. Walau sebagian masih berupa rawa. Perjalanan panjang itu dilakukan sekitar 1969. “Saya tidak tahu persisnya. Dulu masih anak-anak,” kata Dendang.

Kepindahan itu perlahan mengurangi korban. Meski, tetap saja ada korban jiwa. Perlahan, mereka menata kembali kehidupan. Kini tempat Dendang bermukim lebih dikenal dengan Kampung Pereng Taliq. Masuk wilayah Kecamatan Bongan, Kutai Barat.

Meski sudah berbilang warsa berlalu sejak hijrah, Pereng Taliq seperti masih hidup dalam masa lampau. Tak ada listrik. Sempat ada tiga generator set (genset) bantuan dari perusahaan. Itu digunakan untuk mengalirkan setrum ke rumah warga. Namun, sekarang dalam kondisi rusak.

Warga akhirnya secara mandiri membeli genset. Beberapa ada yang berbagi dengan tetangga. Selebihnya, memanfaatkan lampu dinding. Genset difungsikan saat matahari kembali ke peraduan.

Kondisi itu nyatanya semakin memupuk rasa kebersamaan. Mereka yang tak menikmati listrik berduyun ke rumah jirannya. Menonton televisi bersama. Walau yang dipertontonkan film animasi, warga paruh baya tetap asyik menikmati.

Yang lainnya mengobrol ditemani penganan ringan dan segelas kopi. Sesekali mengecek telepon genggam yang tertancap kabel pengisi daya.

Kami beruntung, karena selama di Pereng Taliq tinggal di kantor kepala desa. Siang terkadang pegawai desa menyalakan genset. Malam pun masih bisa tidur menggunakan kipas angin. Listrik berhenti mengalir selepas salat Subuh.

Sementara itu, air masih memanfaatkan aliran Sungai Nungan. Baik untuk mandi, cuci, dan kakus. Plus masak dan minum untuk sebagian rumah. Karena minim saringan, air yang digunakan masih berwarna cokelat. Dan sedikit berbau. Warga mengalirkan air ke rumahnya menggunakan pompa. Tandon-tandon disebar di beberapa titik wilayah desa untuk memudahkan penampungan.

Jangan terlalu berharap mendapatkan jaringan internet. Bisa mengirim pesan pendek atau telepon sudah merupakan anugerah. Itu pun hanya di titik tertentu. Geser sedikit, signal sudah menguap. Hilang.

Jika beruntung jaringan internet bisa didapat oleh salah satu penyedia layanan telekomunikasi. Bisa digunakan berkirim pesan melalui WhatsApp. Tapi tidak untuk membuka kiriman video ucapan rindu mantan. Serta tak berlaku untuk sosial media Facebook, Instagram, terlebih YouTube

Pekan lalu saya mengunjungi Pereng Taliq bersama 17 anggota Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan yang melakukan Ekspedisi Beratus. Pereng Taliq jadi salah satu yang diteliti. Selain juga pendakian ke Gunung Beratus. Penelitian berlangsung sepuluh hari. Saya bergabung pada hari keempat.

Letak Pereng Taliq sejatinya tidak terlampau jauh dari jalan poros Samarinda-Melak. Bahkan, lokasinya sebenarnya strategis, karena di jalan alternatif Bongan-Sepaku, Penajam Paser Utara.

Berangkat dari Bontang menuju Samarinda menggunakan bus. Lalu melanjutkan perjalanan dengan motor, Senin (16/3) pukul 23.00, menuju Simpang Tiga Petung, Kampung Resak, Kubar, bersama tiga anggota Mapala Cadas.Com. Perjalanan ditempuh selama lima jam.

Kami melanjutkan perjalanan Selasa (17/3) sekitar pukul 09.00. Dari simpang, masuk sejauh 17 kilometer. Sepanjang 5,5 kilometer sudah cor beton. Sisanya masih berkalang tanah. Berdebu ketika panas. Selayaknya bubur saat diguyur hujan. Tak heran jika untuk menjangkaunya perlu waktu 45–60 menit. 

Di sekitar kampung terhampar perkebunan sawit milik perusahaan. Bangunan sarang walet jadi pembeda di antara pohon yang menjulang.

Dendang yang juga wakil ketua adat Pereng Taliq mengatakan, tempatnya kini tak hanya dihuni suku Dayak Basap. Sudah berbaur. Bercampur dengan Dayak Luangan, Kutai, Bugis, Madura, maupun Jawa. Pendatang kebanyakan masuk melalui perkawinan. “Kami terbuka terhadap orang luar,” tuturnya. 

Dia merupakan satu dari tiga warga tersisa yang masih bisa melakukan upacara ritual pengobatan atau belian. Di sini, yang dilakukan jenis Belian Bawo. Selain belian, mereka masih menjalankan Tari Bawon dan Kahyangan. Tari Bawon biasa ditampilkan saat akan menanam padi. Sementara agar mendapatkan panen melimpah dilakukan Tari Kahyangan.

Namun, saat ini budaya di Pereng Taliq sepi peminat. Generasi muda enggan untuk meneruskan. “Dulu kami kira tidak perlu mengajarkan budaya kepada keturunan selanjutnya. Itulah sebab kurangnya pengetahuan mereka,” kata Kepala Adat Pereng Taliq, Kosong.

Meski namanya Kosong, namun dia tahu banyak tentang perkembangan Pereng Taliq. Pemberian nama kepadanya juga unik. Dikatakan pria yang lahir pada 17 Agustus 1945 ini, dulunya perangkat desa memberikan nama kepada setiap bayi yang lahir. Namun, ketika gilirannya tiba, stok nama sudah habis.

“Jadi saya diberi nama Kosong. Ya, memang tidak ada namanya. Sampai sekarang di KTP tertulis seperti itu,” ujarnya, seraya tersenyum.

Kosong kini fokus mengenalkan adat istiadat Pereng Taliq melalui cerita turun-temurun. Meski yang menyambut masih bisa dihitung jari.

Sebelum dikenal sebagai Kampung Pereng Taliq, tempat ini dinamakan Pring Talik yang berarti tali bambu. Itu berkaca dari melimpahnya bambu di tempat itu. Warga memanfaatkannya menjadi beragam kerajinan. Seperti ikai (tikar), anjat (tas kecil), dan songkok. Peralatan untuk bertani juga terbuat dari anyaman bambu atau rotan.

“Mulai bambu kecil sampai besar ada. Banyak di seberang sungai,” jelas pria ramah ini.

Yadin, 30 tahun, termasuk yang mencoba melanjutkan tradisi Dayak di Pereng Taliq. Dia mengakui minat pemuda untuk belajar budaya daerah terbilang kecil. “Bapak saya bisa belian, tapi saya tidak,” tuturnya.

Kenapa tidak belajar langsung dengan orangtua? Ditanya seperti itu Yadin tersenyum. Lalu mengatakan, “Tidak tahu. Memang tidak mau belajar saja,” tuturnya.

Dendang mengungkapkan, salah satu alasan generasi muda enggan belajar tradisi, karena malu ditonton orang banyak. Mengingat ketika tari-tarian atau belian dilakukan selalu dibanjiri warga.

“Kalau malu ilmunya tidak bisa masuk. Saya malah senang kalau ditonton banyak orang,” katanya sambil mengangkat satu kakinya ke kursi.

Di samping masalah budaya, Pereng Taliq kini juga tengah menyambut ibu kota negara (IKN). Kampung yang dihuni 103 kepala keluarga dan 223 jiwa ini masuk daerah penyangga IKN. Dari Menara Sudarmono, Pemaluan, Kelurahan Sepaku, tempat Presiden Joko Widodo memantau IKN, Pereng Taliq hanya berjarak 20 kilometer jika ditarik garis lurus. (bersambung/dwi/k8)


BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:05

Lebih Dekat dengan Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Terlahir dari orang tua yang merupakan pejuang lingkungan memunculkan kepedulian…

Senin, 20 Januari 2020 14:19
Menikmati Family Fun Rally Sambut Kejuaraan Provinsi Kaltim 2020

Memperkuat Pariwisata, Ingin Lebih Banyak Orang Datang ke Balikpapan

Family Fun Rally 2020 gelaran Kaltim Post berakhir meriah, Ahad…

Kamis, 16 Januari 2020 16:10

Cerita Mengharukan, Kembar Identik yang Terpisah 16 Tahun Akhirnya Bertemu

Kisah hidup dua remaja kembar ini begitu mengharukan. Enam belas…

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…

Kamis, 26 Desember 2019 11:34

Kiprah Bripka Riko Rizki Masri dan FKPM Teman Hati

Membantu sesama tak perlu menunggu punya jabatan tinggi atau uang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers