MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 27 Maret 2020 15:12
Bersatu Perangi Covid-19

PROKAL.CO, Bambang Iswanto

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

 

 

SAAT ini semua khusyuk membicarakan Covid-19. Hampir seluruh media, menempatkannya sebagai headline dalam beberapa pekan terakhir. Negara-negara luar sudah lebih dahulu menjadikan Covid-19 sebagai berita besar yang wajib diantisipasi secara serius.

Bahkan sejak awal mereka sudah mewanti-wanti agar Indonesia bersiaga penuh karena negara yang rentan virus mematikan itu sejak awal penyebarannya. Prediktor yang menyebut Indonesia sebagai negara rentan terpapar virus bukan kelas kaleng-kaleng. Lembaga kesehatan dunia WHO dan peneliti dari Harvard University, epidemiologist Marc Lipsitch.

Mereka tidak percaya penjelasan beberapa pejabat Indonesia yang menyebut Indonesia bebas virus corona. Indonesia memilki gerbang lebar keluar masuk pendatang dari Tiongkok.

Mustahil jika gerbang tidak ditutup dapat membendung virus. Alasan yang sangat logis. Sepertinya pemerintah pusat pada saat itu masih percaya diri bahwa Indonesia tidak kebobolan dengan protokol standar dan hanya mengonsentrasikan pada warga negara Indonesia (WNI) yang suspect saja.

Belum sampai pada upaya penutupan akses penumpang dari negara-negara yang sudah terjangkit dan usaha isolasi warga. Upaya penjemputan WNI di Wuhan dan mengobservasinya di Natuna dan observasi WNI yang bekerja di kapal pesiar yang penumpangnya terpapar virus corona, dirasa seperti sudah jadi usaha maksimal Pemerintah Indonesia.

Pemerintah sudah mulai benar-benar serius ketika ditemukan kasus dua penderita positif Covid-19 di Depok pada 2 Maret 2020. Disusul dengan “serbuan” data suspect, orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP) dari daerah-daerah lain yang tiba-tiba drastis.

Kemudian virus juga menjangkit Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Selanjutnya Indonesia benar-benar mengibarkan bendera perang sejak terjadi kematian kasus Covid-19 di Indonesia yang menimpa WNA.

Pergerakan data kasus Covid-19 per 25 Maret 2020 menunjukkan angka signifikan. Tercatat ada 893 kasus positif, 78 pasien meninggal dunia, dan 35 pasien dinyatakan sembuh sejak 2 Maret yang hanya tercatat dua kasus penderita positif.

Sekarang saatnya semua terlibat dalam penanganan Covid-19. Tidak saatnya menoleh ke belakang mencari kambing hitam dengan mengatakan Indonesia terlambat. Pandemi virus corona sudah masuk wilayah Indonesia.

Pemerintah sudah menyadari betapa keseriusan ekstra harus dilakukan. Sudah terlihat upaya masif gerakan physical distancing. Menghindari kerumunan dan banyaknya orang berkumpul.

Sekolah-sekolah dan kampus diliburkan, termasuk PNS di sebagian besar instansi diberlakukan work from home (WFH), mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah. Masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak terpaksa. Semua demi menghentikan laju Covid-19.

Selain langkah strategis di atas, pemerintah pusat punya cara yang berbeda memerangi Covid-19. Tidak seperti Italia yang melakukan lockdown di negaranya. Italia dianggap sama dengan Indonesia, lambat panas mengantisipasi pandemi global itu.

Indonesia lebih memilih cara rapid test seperti yang dilakukan Korea Selatan yang dianggap telah berhasil mengurangi laju Covid-19. Kabarnya, ada sekitar sejuta alat tes Covid-19 yang disediakan Pemerintah Indonesia dalam rangka rapid test tersebut.

Sudah saatnya sekarang seluruh warga Indonesia bersatu melawan pandemi maut itu. Tamu tak diundang itu tidak boleh betah di Indonesia dan terus memakan korban jiwa. Satu-satunya jalan adalah dengan menaati aturan yang diberlakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten dan ahlinya.

Tidak berusaha menjadi analis virus atau kesehatan dan mendadak menjadi ahli agama yang tidak menggunakan kaidah-kaidah sahih dalam menafsirkan persoalan yang sedang berkembang. Yang justru membuat Covid-19 makin merajalela. Atau menjadi pendebat kontraproduktif. Apalagi menjadi penyebar hoaks yang membuat masyarakat semakin panik dan bingung.

JADI PAHLAWAN

Dalam situasi seperti ini, yang paling mengerti cara terbaik melawan Covid-19 adalah para medis dan pakar virus. Apa yang mereka instruksikan atau imbau sudah seharusnya ditaati oleh siapapun. Tidak terkecuali oleh pemerintah sebagai pengurus negara dalam status genting seperti ini.

Jika para ahli itu mengatakan satu-satunya jalan untuk mencegah penyebaran virus adalah dengan social dan physical distancing, harus dijadikan aturan kebijakan, dan semua warga mesti tunduk.

Tidak boleh ada acara pengumpulan massa dalam jumlah banyak. Seluruh hajatan yang sifatnya sunah tidak boleh dilaksanakan. Tidak terkecuali acara-acara keagamaan seperti pengajian, ceramah umum ataupun ibadah di tempat ibadah.

Dalam konteks agama, taat kepada pemerintah melalui ahli-ahlinya yang menangani Covid-19 juga bagian dari kewajiban agama. Demikian perintah QS An-Nisa' 59, selain taat kepada Allah dan Rasul, orang yang beriman juga harus taat kepada ulil amri (pemimpin).

Ahli tafsir seperti Imam al-Mawardi, Ahmad Mustafa Al-Maraghi, dan Ibnu Katsir  memasukkan pemerintah dan ulama dalam kategori ulil amri. Perintah, anjuran, dan imbauan mereka wajib ditaati untuk kemaslahatan bersama. Ketika pemerintah melalui pakar-pakar (ahlul ilmi) memberikan instruksi, hukumnya juga wajib ditaati.

Seluruh komponen warga wajib bersatu dan berpartisipasi menghadapi musuh bersama Covid-19. Elite pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus memberi teladan. Terutama bagi warga yang mungkin belum memiliki kesadaran jika tidak diberikan contoh dan edukasi tentang bahaya Covid-19.

Buktinya, sampai saat ini masih ada warga yang santai berkumpul dan terus melakukan aktivitas di luar rumah seperti tidak terjadi apa-apa. Virus itu tidak langsung terlihat dampaknya bagi yang terinfeksi. Selama masa tersebut, dia bisa menjangkiti orang lain bahkan tanpa disertai tanda-tanda sekalipun, seperti yang disampaikan oleh pakar kesehatan.

Saat ini semua bisa jadi pahlawan perang melawan Covid-19. Para medis berjuang di garda terdepan dengan risiko tinggi terpapar virus karena berhadapan langsung dengan pasien. Yang lain, bisa menjadi pahlawan hanya dengan tinggal di rumah, kerena hakikatnya telah berperang melawan virus corona untuk mencegah terjangkitnya virus atau menjangkitkan virus kepada yang lain. Buatlah virus corona pergi dari bumi Indonesia dengan ikhtiar isolasi mandiri dan stay home seraya berdoa. Semoga Indonesia segera bebas Covid-19. Amin. (rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 06 Juni 2020 10:28
Studi Literatur tentang Inovasi dan Ekosistem Inovasi

Giat Inovasi di Era Pandemik dan New Normal

Hj. Dewi Sartika, SE, MM Peneliti Muda Pusat Pelatihan dan…

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers