MANAGED BY:
RABU
03 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Senin, 23 Maret 2020 10:13
Tak Ada Nyawa Seharga Ikan
Romdani

PROKAL.CO, Oleh Romdani

Wakil Pemimpin Redaksi Kaltim Post*

 

 

DI suatu malam saya harus berdebat panjang dengan istri. Panjang sekali. Tapi bergizi. Akhirnya muncul sebuah kesimpulan. Bahwa virus corona harus dilawan. Bersama-sama.

Malam itu, istri bertanya. Apakah jadi mancing? Dengan tren penyebaran virus Wuhan yang begitu masif. Saya mesti menjawab jujur. Saya ingin mancing. Karena sudah lama saya menunggu momen itu. Sejak dua bulan lalu saya memesan kursi. Untuk trip mancing 25-26 Maret. Sedianya bulan lalu saya akan mancing. Namun, nakhoda kapal membatalkan. Karena gelombang tinggi mencapai 2 meter. Dia tak berani melaut.

Lama saya tak turun ke laut. Merasakan segarnya Laut Sulawesi. Merasakan tarikan ikan. Rindu bercengkerama dengan sesama pehobi mancing. Rindu pula makan di atas kapal ditemani semilir angin.

Namun, keinginan saya itu segera mendapat penolakan. Istri saya sudah biasa melarang. Tapi saya suka membangkang. Akhirnya lama-kelamaan istri jadi luluh. Saya kerap diberi izin mancing. Namun, tidak selalu. Ada momen tertentu keinginan saya ditolak. Tapi ya sudahlah. Sekali ditolak, trip mancing lainnya masih bisa berangkat he-he-he.

Namun, penolakan kali ini terasa lebih serius. Jauh lebih serius dari biasanya. Kekhawatirannya berlipat. Otaknya liar. Memikirkan nasib sang suami bila tetap memaksa berangkat mancing.

Lagi-lagi saya mencoba meyakinkan istri. Kan lokasi mancingnya itu “terisolasi”. Jauh dari hiruk-pikuk kota. Jauh dari keramaian orang yang terpapar virus. Bahkan di tengah laut lepas. Namun, alasan saya itu tak cukup ampuh.

Salah satu penyebabnya, mancing kali ini berangkat dari Samarinda. Yang sebagian besar pesertanya tak saya dikenali. Bagaimana kehidupan peserta mancing lainnya nyaris belum diketahui. Dengan siapa mereka berkawan. Di mana mereka bekerja. Nyaris tidak mengetahui riwayatnya. Dari situ istri melarang.

Apalagi dalam kapal yang mampu menampung puluhan orang itu diisi 11 pemancing dengan satu nakhoda dan dua anak buah kapal (ABK). Perjalanan dari dermaga ke spot memerlukan waktu sekitar 10-11 jam. Potensi ada peserta mancing yang terinfeksi virus corona juga sangat dimungkinkan. Walau kami tak tahu. Rekayasa itu yang menghantui pikiran istri.

Istri ternyata lebih aware terhadap penyebaran virus corona. Padahal saya kurang apa. Sehari-hari dicekokin berita seputar virus mematikan itu. Berbagai informasi saya baca hanya untuk mengetahui lebih dalam penyakit itu. Tapi tetap saja. Di mata istri, saya dianggap kurang peduli. Salah satunya memaksakan mancing he-he-he.

Istri benar-benar tak mau mengalah. Terus meyakinkan ke saya tentang bahaya corona. Salah satu yang dia tekankan adalah, ketika saya mancing. Memang saya tidak terinfeksi. Bisa jadi daya tahan tubuh saya kuat. Bisa melawan virus yang masuk.

Dalam sebuah diskusi dengan ahli virus menyebut, orang yang terlihat tak sakit bukan berarti tidak terinfeksi corona. Virus itu bisa menjangkiti seseorang meski tanpa gejala. Bahkan konon virus itu akan hilang dengan sendirinya. Tanpa si pasien harus diisolasi. Karena antibodi yang bekerja baik.

Nah, yang jadi masalah kemudian, bila kita sehat. Kita bisa menjadi carrier (pembawa). Memang kita tak terjangkit. Namun, virus yang kita bawa akan menular ke keluarga atau orang terdekat. Terutama mereka yang daya tahan tubuhnya lebih lemah. Atau saat itu kesehatannya tengah menurun.

Melihat kondisi itu, istri terus menyarankan jangan mancing. Sebab, bukan soal lokasi mancing yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun, satu saja dari belasan pemancing itu yang terinfeksi, semuanya akan tertular bila melakukan kontak langsung dengan super spreader (penyebar) corona.

Jadi, pilihannya, selektiflah kontak dengan orang-orang baru. Bila perlu menghindari pertemuan dengan banyak orang. Atau menunda bertemu dengan orang baru. Apalagi tidak mengenalnya. Jadi, mudahlah tidak percaya dengan teman sekitar. Mudahlah skeptis (ragu). Sehingga lebih berhati-hati dekat dengan seseorang. Bisa jadi, orang yang kita dekati adalah super spreader.

Sambil menulis, saya seperti paranoid. Bahkan istri saya terus mengingatkan, jangan lupa mencuci tangan dan kaki dengan sabun saat masuk rumah. Sekalipun keluar rumah tak sampai 5 menit. Tak hanya itu, hand sanitizer tergeletak di sejumlah titik di rumah. Kelihatannya benar-benar ingin melawan corona.

Saya juga belum bilang ke kawan bila memilih membatalkan mancing. Mungkin lewat tulisan ini saya meminta maaf ke mereka. Saya tidak bisa bergabung. Lebih tepatnya menunda mancing. Sampai serangan corona dari Wuhan itu benar-benar berakhir.

Kelihatannya saya juga harus mengalah dengan istri. Di sisi lain, keinginan saya untuk mancing masih kuat. Teman-teman saya terus mengajak. Tapi memang nyawa lebih berharga. Nyawa kita menentukan nasib keluarga kita di rumah. Sayangi mereka. Pada akhirnya tak ada nyawa seharga ikan. Lockdown fishing. (rom/k16)


BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers