MANAGED BY:
SENIN
30 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Minggu, 22 Maret 2020 23:26
Redi Pamuji, Anak Samarinda di Kapal Pesiar Terbesar di Dunia - (1)
Bikin Sup Singkong Kutai, Di-prank Guru saat Ujian Akhir
KESEMPATAN LANGKA: Redi Pamuji dengan latar Carnival Horizon. DOKUMEN PRIBADI

PROKAL.CO, Lumayan panjang dan berliku jalan menuju kesempatan kerja di Carnival Horizon, kapal yang konon 100 meter lebih panjang dari Titanic. Rere memulainya dengan racikan menu ibunda dari kampung halaman.

 

SYAFRIL TEHA NOER, Samarinda

 

ANDA masuk SMK tata boga saja. Lalu lanjut kuliah perhotelan. Nanti kerja di Amerika,” kata Herman Ashari Salam, suatu hari menjelang kelulusan siswa kelas tiga (sembilan) SMP 2 Samarinda, tahun 2007. Tata boga? Sekolah masak? Redi Pamuji rada tercekat menerima saran ayahnya itu.

Dengan cita-cita menjadi ahli komputer, dan aktif di organisasi intra sekolah, ikut ekstrakurikuler basket, futsal, berlatih wushu, pencak silat, dan main band, bergabung ke perkumpulan pencinta alam yang serba macho, dia seperti sedang didorong menjalani aktivitas yang rada-rada feminin. Ah, yang bener?

Tapi Rere, panggilannya, sungkan membantah. Syahdan, Herman sendiri pernah diharap ayahnya (kakek Rere), Abdul Latif Salam, jadi juru masak di kapal perang. “Harapan itu kerap diungkapkan Mbah Kung (kakek) saat menimang bapak kala bayi,” katanya, mengutip kisah Mbah Putri (nenek). Sangat mungkin, karena kemudian bekerja sebagai guru, harapan yang sama diteruskan Herman kepadanya.

Maka, meski bimbang dan merasa akan masuk belantara yang asing, dia pun berangkat ke Jogjakarta, menuju SMK 6 Jurusan Tata Boga. Menduga sang ayah pengin dia segera bekerja, ikut mengurus dua adiknya, Bagong Panji Samudra dan Aria Ramadhani, cita-cita sebagai ahli komputer dia ikhlaskan tersimpan.

Benar saja. Di sekolah itu hampir segenap aktivitas belajar-mengajar bersinggungan dengan “dunia perempuan”. Selain tata boga, ada jurusan-jurusan tata busana, kecantikan dan spa beauty treatment, perjalanan pariwisata, dan perhotelan.

“Saya sempat mengira akan berada di antara kawan-kawan yang alay, melambai, kemayu alias banci. Eee, ternyata nggak juga,” tutur anak muda kelahiran 19 Juli 1994 itu. Teman laki-lakinya tetap macho seperti di umumnya sekolah setingkat lainnya. Karena itu, hobi-hobinya semasa SMP tetap dapat tersalurkan.

Mulailah Rere bergaul dengan perkakas, bahan, dan rempah-rempah yang biasa terdapat di dapur; pisau, panci, kompor, blender, mixer, dan berkenalan dengan resep-resep aneka menu.

Dari bermacam-macam masakan Nusantara, western food,sampai chinese food. Lalu blusukan di pasar, mencari, mengenali, dan memilih bahan-bahan praktik. Kini dia tahu mana ikan bermutu baik, dan bagian-bagian daging sapi ideal untuk karya-karya seni di dapur.

Pelan-pelan dia peroleh juga kesenangan. Misalnya saban Sabtu dan Minggu. Ada saja pekerjaan sebagai pembantu/waiter di acara resepsi perkawinan atau ulang tahun. “Untuk kami yang hidup ngekos tentu ini sangat menyenangkan. Problem perut teratasi. Asupan gizi memadai. Dapat honor pula. Wong biasanya cuma makan nasi kucing dan sepotong ote-ote. Kalau ingin makan ayam, paling hanya mampu beli leher dan kepalanya. Ha-ha-ha!" katanya.

Di SMK 6 para siswa tidak hanya belajar dan berlatih materi pokok di tiap jurusan pilihan. Mereka juga berlatih cara memasarkan dan manajemen keuangan. Dengan tata boga, mereka tak cuma didorong jadi tukang masak, melainkan menjadi entrepreneur yang cakap dan mandiri. Jadi pengusaha dengan basis kecakapan kuliner.

Sebagai calon entrepreneur, Rere mutlak perlu orientasi dan produk yang khas. Sebab ilmu-ilmu dasar dari sekolah sama belaka, antara yang dia dan teman-temannya terima. Bergantung hanya kepada itu sama sekali tak akan membuatnya beda dari yang lain. Kreasinya tak akan punya nilai tambah dan harga jual.

Ujian bagi kekhasan buah tangannya itu dia terima akhir tahun pelajaran di SMK 6. Dia ditantang menghasilkan menu yang disajikan menarik, unik, dengan taste sentuhan seorang chef, dan tentu saja wajib enak. Dia menghadapi dua penguji. Satu, I Made Irawan, chef ternama dari Bali. Satu lagi, Yuli Unggul, guru kesayangan murid-murid di angkatannya.

Itu bukan tahapan mudah. Bikin pening kepala. Mau masak apa? Mau mereka-reka menu berbasis kuliner Jawa, para pesaingnya dari Jawa pasti melakukan hal serupa. Begitu pun mereka yang berasal dari pulau-pulau lain. Akalnya berputar-putar. Eee, buntu. Tak ada pilihan. Rere pun buka komunikasi dengan sang ayah, menelepon ke Samarinda.

“Sudah. Kamu bikin sup singkong saja. Resepnya tanya ibu,” jawab Herman kemudian. Cling! Solusi itu datang juga. Ya, sup singkong saja. Ini menu dari desa ibunya, Fatmawati Rasyid, yang asli Kutai. Dia yakin, kebanyakan orang di Jogjakarta belum tahu apa dan bagaimana cita rasa menu itu.

Pada hari yang telah ditentukan Rere ke sekolah, membawa panci besar berisi singkong 10 kilo dan 50 ceker ayam. Ini bahan-bahan untuk hidangan yang bakal disantap para penguji dan kawan-kawannya sekelas. Belum apa-apa, ujian sebelum ujian sebenarnya dia terima. Teman-teman dan guru-gurunya menertawakannya. Pertama, karena singkong dan ceker. Kedua, karena untuk ujian masak ini sebetulnya hanya diperlukan porsi untuk 5 orang.

Rere grogi, namun berjuang untuk istikamah. Di bawah tatapan mata guru pembimbing dan tertawaan teman-temannya dia mulai memasak sup singkong di panci besar. Tatkala aroma sup yang kuat berkat serai dan merica merebak ke seantaro ruang praktik, dia melirik dan melihat hidung teman-temannya kembang-kempis. Tampak penasaran merasakan masakannya. “Alhamdulillah. Sup singkong khas Kutai itu tandas tak bersisa,” kenangnya.

Sensasi sup singkong itu merebak. Viral. Teman-teman dan guru-guru mempercakapkannya. Rere senang. Tapi, ternyata hanya untuk sesaat. Besoknya dia dipanggil ke ruang guru. Tidak untuk menerima pujian dan nilai, melainkan ancaman tidak mendapat nilai. Dia diharuskan mengulang ujian masak dengan menu yang sama pada hari berikutnya. Untungnya, pembelian bahan-bahan kali ini dia peroleh dari guru praktik.

Kembali memasak di dapur praktik, Rere hanya tampil sendiri. Merasa menjadi satu-satunya yang harus mengulang mata ujian itu, kini dia bekerja lebih cermat. Singkat kisah, selesailah semua. Sepanci kecil sup singkong kini siap dan terhidang. Menu khas Kutai, dilengkapi irisan jeruk nipis, kecap asin, dan pirikan sambal. Sambil menunggu hasil “ujian ulangan” ini dia amati keringat membasahi guru-gurunya yang kepedasan.

Lalu, semua tersenyum. Guru-guru menyeka keringat di depan piring-piring sup yang telah kosong. Rere belum lega. Sebab pemandangan serupa, usai menyajikan sepanci sup yang sama tempo hari toh juga dilihatnya.

Dia baru lega, malah bercampur rasa terkecoh, beberapa saat kemudian. “Ujian ulangan” hari itu ternyata prank (rekayasa kejadian) oleh sebagian guru, yang baru mendengar sensasi sup singkongnya - belum ikut nyicip. Pada ujian terdahulu sebetulnya dia sudah lulus.

Diketahui, Carnival Horizon yang diluncurkan awal April 2018. Merupakan kapal pesiar di dunia. Memiliki sejumlah fasilitas yang cukup mewah. Di antaranya teater IMAX, taman bermain Waterworks, jalur sepeda SkyRide, dan Seuss at Sea. Kapal mewah seberat 133.500 ton tersebut juga menambahkan taman air.

Carnival Horizon yang mampu mengangkut hingga 3.963 tamu itu menawarkan dua kabin istimewa, yakni Family Harbor dan Havana Cabanas dengan lounge serta kolam renang privat. Kapal bermarkas di Florida, Amerika Serikat. (rom/k18)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:05

Lebih Dekat dengan Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Terlahir dari orang tua yang merupakan pejuang lingkungan memunculkan kepedulian…

Senin, 20 Januari 2020 14:19
Menikmati Family Fun Rally Sambut Kejuaraan Provinsi Kaltim 2020

Memperkuat Pariwisata, Ingin Lebih Banyak Orang Datang ke Balikpapan

Family Fun Rally 2020 gelaran Kaltim Post berakhir meriah, Ahad…

Kamis, 16 Januari 2020 16:10

Cerita Mengharukan, Kembar Identik yang Terpisah 16 Tahun Akhirnya Bertemu

Kisah hidup dua remaja kembar ini begitu mengharukan. Enam belas…

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…

Kamis, 26 Desember 2019 11:34

Kiprah Bripka Riko Rizki Masri dan FKPM Teman Hati

Membantu sesama tak perlu menunggu punya jabatan tinggi atau uang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers