MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 21 Maret 2020 11:19
Melawan Covid-19: Ikhtiar, Takdir, dan Tawakkal

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

 

Menarik mencermati cara masyarakat menyikapi pandemi Covid-19 di Indonesia. Semua mencoba berbicara dalam kapasitas masing-masing. Dari ahli sampai awam, semua membahasnya. Muncul analisis rasional sampai yang ngawur. Bahkan bercampur aduk dengan hoaks.

Salah satu yang menarik adalah diskursus Covid-19 dalam ranah agama. Ada berbagai macam pendapat tentang cara menyikapi pandemi global ini. Yang tidak menarik adalah membentur-benturkan upaya pencegahan dan penanganan wabah ini dengan takdir.

Muncul narasi-narasi yang tidak tepat dalam memahami makna takdir. Takdir dimaknai sebagai garis ketentuan Tuhan yang tidak perlu diikhtiari. Akibatnya, muncul pemikiran seolah-olah dengan tameng takdir, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Covid-19. Ungkapan gagal paham sering menggunakan redaksi “jangan takut bersalaman” atau “jangan pernah takut pergi ke acara ibadah massal” berseliweran di media sosial sebagai perlawanan terhadap imbauan positif membendung penyebaran Covid-19.

Semua orang beragama pasti yakin Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan telah menentukan qada dan qadar apapun yang terjadi di dunia sampai akhirat. Tidak ada yang membantah hal ini. Namun, pemahaman dan iman terhadap takdir tersebut tidak lantas membuat manusia pasrah apalagi “menantang” Covid-19.

Menantang yang dimaksud adalah tidak percaya terhadap tindakan-tindakan preventif yang dilaksanakan dan dianjurkan oleh ahlinya dan bertentangan dengan nilai agama. Padahal, pandemi ini bukan murni persoalan keyakinan tetapi perlu pemahaman utuh yang terkait dengan beberapa disiplin ilmu lain untuk mengatasinya. Ilmu kesehatan, sosial, ekonomi, eksakta, dan lain-lain disatukan untuk menelaah.

Lebih besar dari itu, Covid-19 bukan masalah agama saja, tetapi persoalan kemanusiaan. Tafsir keagamaan apapun pasti memiliki keberpihakan penuntasan masalah atau paling tidak mengurangi dampak buruk penyebaran Covid-19. 

Dalam Islam, hifzhun nafs (memelihara jiwa) menjadi bagian tujuan tertinggi dalam beragama (maqasid asy-syari’ah). Jiwa manusia harus dipelihara dengan usaha semaksimal mungkin. Bahkan dalam kondisi tertentu, hal-hal yang bertentangan dengan hukum agama yang sudah mapan sekalipun boleh diabaikan dalam rangka memelihara eksistensi jiwa manusia yang terancam.

Sebagai contoh, dalam fikih, pertanyaan “bolehkah memakan bangkai hewan ternak?” Secara normatif, dalam keadaan normal fikih pasti mengharamkan memakan bangkai. Namun, dalam kondisi darurat seperti tidak ada makanan lain yang bisa dimakan dan mengakibatkan kematian jika tidak memakan bangkai, maka keharamannya bergeser menjadi boleh. Hukum harus takluk dengan tujuan tertinggi agama yaitu menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan eksistensi hidup.

Menyikapi Covid-19, tidak salah jika meletakkannya pada porsi mempertahankan eksistensi kehidupan seperti contoh kasus di atas. Bahkan, Covid-19 memiliki dampak yang sangat luas, tidak sekadar berpotensi menelan korban satu jiwa seperti kasus makan bangkai, ribuan bahkan jutaan jiwa bisa melayang jika tidak diupayakan secara maksimal.

Inilah pentingnya upaya antisipasi yang tidak bisa dilenyapkan dengan mengatasnamakan takdir. Penjabaran operasional dari maqasid asy-syari’ah di atas bisa dilakukan dengan mengikuti salah satu metode para ulama ushul fiqih yaitu metode sadd al-dzari’ah, menutup atau menghalangi potensi buruk yang akan terjadi harus dilakukan, meskipun harus melarang sesuatu yang awalnya diperbolehkan atau diwajibkan.

Jika ada imbauan dari otoritas yang berwenang menentukan apa yang harus dilakukan untuk menangkal Covid-19, jangan disikapi secara frontal. Sudah sepatutnya petuah dan imbauan dari mereka dipatuhi dengan kepala dingin, termasuk hal-hal yang memiliki titik singgung antara agama dengan Covid-19.

Anjuran tidak salat berjamaah untuk sementara waktu bagi daerah yang diduga sangat riskan terpapar Covid-19 tidak berarti takut terhadap takdir. Sekali lagi dalam rangka menegakkan tujuan agama itu sendiri. Imbauan itu tujuannya pasti baik.

Imbauan positif dari para ahli kesehatan untuk sementara waktu sebaiknya menjauhi kerumunan (social distancing), tidak terkecuali untuk hal ibadah seperti salat di rumah atau menunda pelaksanaan ceramah ataupun taklim sementara waktu misalnya, jangan diartikan upaya menjauhkan hamba Tuhan dari rumah-Nya. Apalagi ditambah dengan argumentasi tidak perlu takut dan menerima imbauan tersebut, karena orang yang kena dan tidak kena Covid-19 sudah ada takdirnya.

Di Indonesia, pemerintah dan lembaga otoritatif agama seperti MUI dan Dewan Masjid Indonesia, tidak sampai melarang ke tempat ibadah kecuali bagi yang suspect atau jelas-jelas terinfeksi. Hanya imbauan atau anjuran, masih tetap diperbolehkan dengan memperketat kondisi seperti membawa sajadah sendiri, menggunakan masker bagi yang sakit, tidak melakukan aktivitas kontak fisik seperti salaman dan pelukan.

Imbauan ini muncul karena darurat dan hanya bersifat temporer, bukan untuk selamanya. Jika kondisi sudah kondusif, imbauan yang terkesan melarang ini pasti tidak berlaku lagi. Berkaca dari “raja” seluruh masjid di dunia yakni Masjidilharam, Pemerintah Saudi juga mengambil tindakan pencegahan untuk membatasi aktivitas ibadah di kiblat salat umat muslim sedunia tersebut.

Hal serupa juga terjadi di negara-negara lain yang berpenduduk muslim seperti Iran, Palestina, Singapura, dan lain-lain. Semua tunduk dengan kesadaran bahwa upaya tersebut merupakan bentuk ikhtiar menghindari semakin meluasnya penyebaran Covid-19.

Sebagai hamba, manusia wajib percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi atas izin Allah, dibarengi dengan kewajiban dan tanggung jawab untuk berusaha mencapai takdir baik dan menghindari takdir buruk. 

Siapa yang akan terinfeksi Covid-19, manusia tidak pernah tahu. Dalam ketidaktahuannya, manusia wajib berikhtiar untuk menghindarinya disertai doa. Doa dan zikir sebagai penenang diri agar tidak panik dalam menghadapi wabah. Ikhtiar selalu membuat kita waspada. Jika takdir sudah terungkap, maka harus tawakkal. Menyinergikan ikhtiar, doa, dan tawakkal adalah sikap yang bijaksana bagi orang yang beragama. Wallahu a’lam. (***/dwi/k8)

 

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers