MANAGED BY:
MINGGU
31 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 20 Maret 2020 14:59
ODP Berbagi Pengalaman Dikarantina Sepulang dari Negara Terpapar Corona (1)
Disambut dengan Sigap, Menunggu Sembari Baca Al-Qur’an hingga Dance

PROKAL.CO, Wandra Aira masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19. Sejak 11 Maret lalu, dia harus diisolasi di sebuah rumah sakit rujukan dan menjalani hari-harinya dalam karantina. Wandra bersedia membagi pengalamannya kepada Kaltim Post.

=============

Semua dimulai di hari ke-5. Setelah perjalanan saya dari India berakhir. Ketika baru tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan. Seiring merebaknya Covid-19, sesuai prosedur resmi perusahaan tempat bekerja, setiap karyawan yang pulang dari bepergian dari luar negeri, wajib check-up di rumah sakit rujukan yang ditunjuk.

Fine, saya manut. Dan begitu keluar dari bandara, saya segera meluncur menuju RS dimaksud. Tiba, langsung ada sekuriti sigap menyambut. Padahal saya masih sibuk membantu driver mengeluarkan koper-koper dari dalam mobil yang menjemput.

Langsung saja saya ke bagian UGD. Mereka semua rupanya sudah siaga. Karena beberapa saat sebelum tiba, saya sudah beri informasi ke humas. Padahal saya landing jam 11-an malam. Saya dipandu masuk ke sebuah ruangan. Tulisannya “isolasi”. Langsung tinggal dan diminta tidak keluar.

Ruangan isolasi itu agak pengap. Tidak ada jendela dan ventilasi. Hanya ada meja dengan alat-alat medis. Fasilitasnya hanya kamar mandi dan tempat tidur tanpa alas.

Rupanya ada alat rontgen torax di ruangan! There I was. Lama menunggu, tiba-tiba masuk dua petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD). Lengkap, bak astronot. Diagnosis interview dimulai.

Mereka bertanya soal keluhan. Saya bilang cekat. Karena haus dan belum minum apapun sejak turun dari pesawat. Dicatat.

Demam? Tidak, jawab saya. Pilek? Tidak juga. Dicatat.

Lalu mereka ukur suhu tubuh. Hasilnya 36 derajat celcius. Normal.

Lalu mereka ambil sampel darah untuk dites di laboratorium. Prosedur lain dilakukan. Tenggorokan disenter. Disimpulkan mereka, saya sedang radang. Dua petugas medis lalu keluar.

Prosedur lain berlanjut. Giliran seorang petugas medis perempuan yang masuk. Dia langsung minta dilakukan tindakan rontgen torax untuk cek kondisi paru-paru.

“Tunggu hasilnya, Mba,” kata si petugas berbaju “astronot”.

“Oke Mba....,” jawab saya.

Dan masa penantian dimulai di ruangan itu. No TV, HP lowbatt. Saya mulai bongkar koper. Memutuskan mandi agar lebih rileks. Karena belum ada bersih-bersih badan sejak dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Setelah mandi, saya salat. Lalu rebahan di tempat tidur yang harus saya alasi bed cover. Karena ranjang itu hanya beralas bahan sintetis kedap air. Mana bisa saya tidur dengan keadaan ini. Rasanya pengap akibat aroma kamar. Perasaan pun tidak nyaman.

Pertanyaan mulai muncul. Berapa orang suspect yang sudah berada di ruangan ini? Saya sedang sehat. Apa ada jaminan saya aman dari bahaya terpapar? Malam semakin larut. Menjelang subuh lelap kelelahan menumpuk hingga pagi terbit.

Dua jam kemudian tak ada petugas datang. Tidak ada air. Tidak ada sarapan. Akhirnya jam 9 pagi saya telepon nomor UGD. Nomor itu dititipkan petugas malamnya. Saya minta minum dan sarapan.

Sarapan pagi dihabiskan. Lahap. Tentu saja karena lapar karena sejak dari bandara, tak menyentuh makanan bahkan minum seteguk pun. Dalam kesendirian saat itu, membayangkan begitulah mungkin rasanya dipenjara.

Hampa dan senyap. Berteman dengan hawa kamar yang tak segar. Tak pula saya hirup udara pagi yang mungkin bisa melegakan rasa lelah dan penat sejak malam.

Agra-Delhi-Kuala Lumpur-Jakarta-Balikpapan.

Saya kembali mengingat lima kota tersebut. Destinasi yang ditempuh hanya dalam waktu dua hari. Hanya saya dan koper “my travel bag’ yang tahu bagaimana rasanya perjalanan itu.

Satu malam lagi saya menghabiskan waktu di ruangan isolasi. Kembali menjalani check-up. Tidak terbayangkan, karena tadinya saya pikir seperti pemeriksaan fisik biasa. Tidak ada symptoms atau gejala khas virus Covid-19 selain radang tenggorokan. Namun, saya rasa wajar. Karena tidak minum cairan selama perjalanan Jakarta-Balikpapan. Yang banyak dihabiskan dengan tidur.

***

Siang itu, dalam ruangan yang terbatas. Yang dilakukan hanya menunggu kabar hasil check-up. Sambil chatting sana sini. Dengan manajemen kantor aneka level, dengan teman-teman sekolah dan kantor. Dengan keluarga dekat. Bahkan dengan haters kepo dari antah berantah.

Mereka menyalahkan, menyudutkan. Ada juga omelan sayang. Bertanya hal yang sama berulang-ulang. Menghibur, menguatkan, mendukung. Semuanya menguras energi. Membuat fisik seperti menjadi rentan.

Pada hari ke-2 di ruang isolasi. Lelah dari perjalanan jauh ditambah proses pemeriksaan, birokrasi kantor dan proses clearing insurance yang sangat panjang sampai malam jauh merambat.

Walaupun akhirnya diputuskan saya bisa keluar dari ruang isolasi malam itu. Karena dari hasil pemeriksaan torax disimpulkan bahwa saya harus tetap dalam pengawasan dan pemantauan alias ODP.

Artinya boleh keluar. Dari ruang isolasi dan move ke tempat yang lebih nyaman. Tapi dengan kondisi belum bisa berinteraksi langsung dengan orang lain. Bahkan dengan anggota keluarga serumah selama masa karantina. Dihitung hingga hari ke-14 sejak kedatangan.

Kenapa? Kata tim medis demi menjaga kebaikan bersama. Karena andai pun tak ada gejala dominan, bisa saja saya sebagai carrier/perantara virus. Karena sempat berada dan singgah di negeri terpapar Covid-19.

Saya setuju. Proses karantina ini adalah bentuk kepedulian dan pengorbanan. Serta penebusan rasa bersalah karena telah melakukan perjalanan ke negara terpapar. Dengan situasi yang tak terelakkan.

Lantas apa itu ODP?

Orang dalam pemantauan (ODP) adalah mereka yang mengalami gejala awal (syimpton) demam atau batuk. Atau ada riwayat demam atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tanpa pneumonia namun memiliki riwayat perjalanan ke negara pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Dan, ya, Tuhan. Ternyata kabar saya di rumah sakit jadi bahan hoaks. Bahwa saya sudah mengidap Covid-19. Positif. Dengan informasi saya dan suami sama-sama menjalani isolasi dan karantina.

Mungkin, isu beredar karena saat saya rumah sakit, ada keluarga pasien UGD yang melihat petugas medis berbaju APD lengkap masuk ke ruangan isolasi. Ruangan saya ditempatkan.

Tapi sudahlah. Syukur ada teman yang berbaik hati mengklarifikasi. Reply chat WhatsApp yang sempat dikirimkan seseorang kepadanya. Walaupun mungkin tak bisa membendung. Sebab, tak tahu sejauh mana chat hoaks itu beredar.

***

Apa yang akan saya lakukan di sini, di dalam ruangan terbatas ini? Saya susun jadwal aneka kegiatan pembunuh jenuh dan sepi. Menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, menonton di Netflix, menulis, menuntaskan buku jurnal perjalanan jilid II, makan makanan bergizi, dance untuk olahraga.

Chat dengan sanak saudara kadang sulit dilakukan saat rutinitas normal banyak dilakukan. Tidur siang, yes. Skincare, wow.

Dan di saat seperti ini, kalian akan lihat mana teman mana haters sejati. Mereka yang bermunculan sebanding dengan yang tenggelam perlahan. But who cares. I don’t care. (rdh/dwi/k16/bersambung)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 30 Mei 2020 12:43

Ini 3 Syarat Utama Pelaksanaan New Normal

JAKARTA - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan 3 syarat…

Sabtu, 30 Mei 2020 11:45

Tambang Ilegal Makin Marak, Usulkan Pejabat Pengawas Dicopot

Aktivitas tambang ilegal di Kukar disinyalir kian meluas. Bagaikan bola…

Sabtu, 30 Mei 2020 11:35

Banyak Orang Miskin Baru, Kembali ke Situasi 2011

JAKARTAs – Wakil Presiden Ma’ruf amin menyebutkan salah satu efek…

Sabtu, 30 Mei 2020 11:33

Dulu Megah, Sekarang Terlantar, Stadion Utama Kaltim Menanti Asupan Rp 260 Miliar

2015 lalu menjadi pertanda akan adanya angin segar membawa perubahan…

Jumat, 29 Mei 2020 14:57

Wabah Terkendali, Gelar Jumatan di Masjid

JAKARTA–Warga di daerah yang masuk kategori hijau terkait Covid-19 wajib…

Jumat, 29 Mei 2020 14:57

Rapid Test Massal Sampai Pekan Depan

BALIKPAPAN–Upaya memutus rantai penyebaran virus corona terus dilakukan Pemkot Balikpapan.…

Jumat, 29 Mei 2020 14:17
Mulai Tahun Ajaran Baru Beda dengan Pembukaan Sekolah

Pemda Tak Bisa Buka Sekolah Secara Sepihak

JAKARTA– Usulan penundaan awal tahun ajaran baru 2020/2021 dipastikan tak…

Jumat, 29 Mei 2020 14:14

Resepsi Nikah Masih Dilarang di Balikpapan

Berbeda dengan Samarinda, tanda-tanda pelaksanaan tatanan normal baru di Balikpapan…

Jumat, 29 Mei 2020 14:13
Atasi di Hulu Cegah Banjir Besar

Konservasi Lahan Bendungan Benanga Prioritas Dilakukan

Segudang penanganan banjir di Samarinda sebenarnya sudah tersaji. Dari penurapan…

Jumat, 29 Mei 2020 14:10
Kisah Tenaga Medis yang Berlebaran di Rumah Sakit saat Corona Mewabah (2)

Mudik Tertunda, Pasien Malah Membeludak kala Hari Raya

Semenjak pandemi Covid-19 merebak awal tahun ini, seketika buyar angan-angan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers