MANAGED BY:
SENIN
30 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 20 Maret 2020 14:59
ODP Berbagi Pengalaman Dikarantina Sepulang dari Negara Terpapar Corona (1)
Disambut dengan Sigap, Menunggu Sembari Baca Al-Qur’an hingga Dance

PROKAL.CO, Wandra Aira masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19. Sejak 11 Maret lalu, dia harus diisolasi di sebuah rumah sakit rujukan dan menjalani hari-harinya dalam karantina. Wandra bersedia membagi pengalamannya kepada Kaltim Post.

=============

Semua dimulai di hari ke-5. Setelah perjalanan saya dari India berakhir. Ketika baru tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan. Seiring merebaknya Covid-19, sesuai prosedur resmi perusahaan tempat bekerja, setiap karyawan yang pulang dari bepergian dari luar negeri, wajib check-up di rumah sakit rujukan yang ditunjuk.

Fine, saya manut. Dan begitu keluar dari bandara, saya segera meluncur menuju RS dimaksud. Tiba, langsung ada sekuriti sigap menyambut. Padahal saya masih sibuk membantu driver mengeluarkan koper-koper dari dalam mobil yang menjemput.

Langsung saja saya ke bagian UGD. Mereka semua rupanya sudah siaga. Karena beberapa saat sebelum tiba, saya sudah beri informasi ke humas. Padahal saya landing jam 11-an malam. Saya dipandu masuk ke sebuah ruangan. Tulisannya “isolasi”. Langsung tinggal dan diminta tidak keluar.

Ruangan isolasi itu agak pengap. Tidak ada jendela dan ventilasi. Hanya ada meja dengan alat-alat medis. Fasilitasnya hanya kamar mandi dan tempat tidur tanpa alas.

Rupanya ada alat rontgen torax di ruangan! There I was. Lama menunggu, tiba-tiba masuk dua petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD). Lengkap, bak astronot. Diagnosis interview dimulai.

Mereka bertanya soal keluhan. Saya bilang cekat. Karena haus dan belum minum apapun sejak turun dari pesawat. Dicatat.

Demam? Tidak, jawab saya. Pilek? Tidak juga. Dicatat.

Lalu mereka ukur suhu tubuh. Hasilnya 36 derajat celcius. Normal.

Lalu mereka ambil sampel darah untuk dites di laboratorium. Prosedur lain dilakukan. Tenggorokan disenter. Disimpulkan mereka, saya sedang radang. Dua petugas medis lalu keluar.

Prosedur lain berlanjut. Giliran seorang petugas medis perempuan yang masuk. Dia langsung minta dilakukan tindakan rontgen torax untuk cek kondisi paru-paru.

“Tunggu hasilnya, Mba,” kata si petugas berbaju “astronot”.

“Oke Mba....,” jawab saya.

Dan masa penantian dimulai di ruangan itu. No TV, HP lowbatt. Saya mulai bongkar koper. Memutuskan mandi agar lebih rileks. Karena belum ada bersih-bersih badan sejak dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Setelah mandi, saya salat. Lalu rebahan di tempat tidur yang harus saya alasi bed cover. Karena ranjang itu hanya beralas bahan sintetis kedap air. Mana bisa saya tidur dengan keadaan ini. Rasanya pengap akibat aroma kamar. Perasaan pun tidak nyaman.

Pertanyaan mulai muncul. Berapa orang suspect yang sudah berada di ruangan ini? Saya sedang sehat. Apa ada jaminan saya aman dari bahaya terpapar? Malam semakin larut. Menjelang subuh lelap kelelahan menumpuk hingga pagi terbit.

Dua jam kemudian tak ada petugas datang. Tidak ada air. Tidak ada sarapan. Akhirnya jam 9 pagi saya telepon nomor UGD. Nomor itu dititipkan petugas malamnya. Saya minta minum dan sarapan.

Sarapan pagi dihabiskan. Lahap. Tentu saja karena lapar karena sejak dari bandara, tak menyentuh makanan bahkan minum seteguk pun. Dalam kesendirian saat itu, membayangkan begitulah mungkin rasanya dipenjara.

Hampa dan senyap. Berteman dengan hawa kamar yang tak segar. Tak pula saya hirup udara pagi yang mungkin bisa melegakan rasa lelah dan penat sejak malam.

Agra-Delhi-Kuala Lumpur-Jakarta-Balikpapan.

Saya kembali mengingat lima kota tersebut. Destinasi yang ditempuh hanya dalam waktu dua hari. Hanya saya dan koper “my travel bag’ yang tahu bagaimana rasanya perjalanan itu.

Satu malam lagi saya menghabiskan waktu di ruangan isolasi. Kembali menjalani check-up. Tidak terbayangkan, karena tadinya saya pikir seperti pemeriksaan fisik biasa. Tidak ada symptoms atau gejala khas virus Covid-19 selain radang tenggorokan. Namun, saya rasa wajar. Karena tidak minum cairan selama perjalanan Jakarta-Balikpapan. Yang banyak dihabiskan dengan tidur.

***

Siang itu, dalam ruangan yang terbatas. Yang dilakukan hanya menunggu kabar hasil check-up. Sambil chatting sana sini. Dengan manajemen kantor aneka level, dengan teman-teman sekolah dan kantor. Dengan keluarga dekat. Bahkan dengan haters kepo dari antah berantah.

Mereka menyalahkan, menyudutkan. Ada juga omelan sayang. Bertanya hal yang sama berulang-ulang. Menghibur, menguatkan, mendukung. Semuanya menguras energi. Membuat fisik seperti menjadi rentan.

Pada hari ke-2 di ruang isolasi. Lelah dari perjalanan jauh ditambah proses pemeriksaan, birokrasi kantor dan proses clearing insurance yang sangat panjang sampai malam jauh merambat.

Walaupun akhirnya diputuskan saya bisa keluar dari ruang isolasi malam itu. Karena dari hasil pemeriksaan torax disimpulkan bahwa saya harus tetap dalam pengawasan dan pemantauan alias ODP.

Artinya boleh keluar. Dari ruang isolasi dan move ke tempat yang lebih nyaman. Tapi dengan kondisi belum bisa berinteraksi langsung dengan orang lain. Bahkan dengan anggota keluarga serumah selama masa karantina. Dihitung hingga hari ke-14 sejak kedatangan.

Kenapa? Kata tim medis demi menjaga kebaikan bersama. Karena andai pun tak ada gejala dominan, bisa saja saya sebagai carrier/perantara virus. Karena sempat berada dan singgah di negeri terpapar Covid-19.

Saya setuju. Proses karantina ini adalah bentuk kepedulian dan pengorbanan. Serta penebusan rasa bersalah karena telah melakukan perjalanan ke negara terpapar. Dengan situasi yang tak terelakkan.

Lantas apa itu ODP?

Orang dalam pemantauan (ODP) adalah mereka yang mengalami gejala awal (syimpton) demam atau batuk. Atau ada riwayat demam atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tanpa pneumonia namun memiliki riwayat perjalanan ke negara pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Dan, ya, Tuhan. Ternyata kabar saya di rumah sakit jadi bahan hoaks. Bahwa saya sudah mengidap Covid-19. Positif. Dengan informasi saya dan suami sama-sama menjalani isolasi dan karantina.

Mungkin, isu beredar karena saat saya rumah sakit, ada keluarga pasien UGD yang melihat petugas medis berbaju APD lengkap masuk ke ruangan isolasi. Ruangan saya ditempatkan.

Tapi sudahlah. Syukur ada teman yang berbaik hati mengklarifikasi. Reply chat WhatsApp yang sempat dikirimkan seseorang kepadanya. Walaupun mungkin tak bisa membendung. Sebab, tak tahu sejauh mana chat hoaks itu beredar.

***

Apa yang akan saya lakukan di sini, di dalam ruangan terbatas ini? Saya susun jadwal aneka kegiatan pembunuh jenuh dan sepi. Menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, menonton di Netflix, menulis, menuntaskan buku jurnal perjalanan jilid II, makan makanan bergizi, dance untuk olahraga.

Chat dengan sanak saudara kadang sulit dilakukan saat rutinitas normal banyak dilakukan. Tidur siang, yes. Skincare, wow.

Dan di saat seperti ini, kalian akan lihat mana teman mana haters sejati. Mereka yang bermunculan sebanding dengan yang tenggelam perlahan. But who cares. I don’t care. (rdh/dwi/k16/bersambung)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 29 Maret 2020 18:27

Jatuh di Kamar Mandi, Pasien Positif Corona di Balikpapan Meninggal Dunia

SAMARINDA - Satu pasien positif virus Corona covid-19 atas nama…

Minggu, 29 Maret 2020 15:10

Wali Kota : Samarinda Belum Memutuskan Lockdown

SAMARINDA - Walikota Samarinda Syaharie Jaang menjelaskan kota Samarinda belum…

Minggu, 29 Maret 2020 13:32

Dipertimbangkan, Karantina Wilayah Diterapkan Terbatas

JAKARTA– Karantina wilayah atau lockdown dipertimbangkan pemerintah untuk mengatasi persebaran…

Minggu, 29 Maret 2020 13:30

Tetap di Rumah, Tetap Kreatif, Tetap Produktif

Dari dalam rumah, mereka mengajak orang bernyanyi, berdiskusi, tertawa, dan…

Minggu, 29 Maret 2020 13:28
Pereng Taliq, Daerah Penyangga IKN yang Masih Terbelakang (2)

Setengah Hati Terima IKN, Minta Hutan Tetap Terjaga

Pegunungan Meratus menjadi bagian tak terpisahkan Kampung Pereng Taliq, Kecamatan…

Minggu, 29 Maret 2020 13:25

Satu Keluarga di Balikpapan Positif Corona

Balikpapan masih jadi daerah penyumbang pasien positif Covid-19. Hingga kemarin…

Minggu, 29 Maret 2020 13:23

Tenaga Kesehatan Tanpa APD Diimbau Tak Layani Pasien Covid-19

JAKARTA-  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama sejumlah organisasi profesi, seperti…

Minggu, 29 Maret 2020 13:16

Ikut Pelatihan di Surabaya, Lima Calon Petugas Haji Positif Korona

SURABAYA– Para calon petugas haji di Jawa Timur (Jatim) kini…

Minggu, 29 Maret 2020 13:08

Pandemi Covid-19 Jadi Krisis Ekonomi Global, Indonesia Diwanti-wanti Tidak Utang ke IMF

JAKARTA– Pandemi Covid-19 mengganggu stabilitas perekonomian dunia. Bahkan, International Monetary…

Minggu, 29 Maret 2020 12:33
Tak Ada Lagi yang Mau Salaman dengan PM Inggris

Covid-19 Menghantam AS, Ahli Menilai Kematian Bisa Tembus 80 Ribu Orang dalam 4 Bulan

JIKA pasien Covid-19 terus mengalir dalam dua hari ke depan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers