MANAGED BY:
RABU
01 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Rabu, 18 Maret 2020 14:03
Menengok Dua Jejaring untuk Pemeriksaan Covid-19

Sebelum Tengah Hari, Kuota Sudah Penuh

PROKAL.CO, Tiap hari Poli Khusus RSUA menerima 120–200 pasien, sedangkan kapasitas pemeriksaan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute bisa mencapai 80 spesimen. Di RSUA ada yang datang karena panik. Di Eijkman tak bisa ujug-ujug datang meminta dites.

 

 

GALIH ADI P., Surabaya-Z. HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

 

Kemarin (17/3) merupakan hari kedua bagi Akbar bertandang ke Poli Khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Dia hendak memeriksakan kondisi kesehatannya. Tanda-tandanya mirip dengan Covid-19.

Pada Senin (16/3) dia sudah datang ke sana. Tapi, kehabisan kuota pemeriksaan. Alhasil, dia harus balik pada hari berikutnya.

Bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute Jakarta, Poli Khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya ditunjuk sebagai jejaring laboratorium untuk pemeriksaan Covid-19. Sejak memulai layanan pada 3 Maret lalu, animo masyarakat untuk memeriksakan diri ke Poli Khusus RSUA begitu tinggi.

Saban hari Poli Khusus RSUA menerima 120–200 pasien. Kuota yang tersedia pun tidak bertahan lama. Sebelum tengah hari sudah penuh. Alhasil, tidak sedikit yang harus pulang, menunggu hari berikutnya.

Menurut Ketua Tim Satgas Korona RSUA dr Prastuti Asta Wulaningrum SpP, sejak Crisis Center Covid-19 RSUA dibuka, status pasien yang berkunjung beragam. Ada pula beberapa orang yang sehat tanpa gejala.

Mereka, kata Prastuti, datang karena panik. Ada pula orang dalam pemantauan (ODP) yang menjalani rawat jalan dan rawat inap serta pasien dalam perawatan (PDP).

Agar tak bernasib sama seperti hari pertama, Akbar kemarin datang ke Poli Khusus RSUA pukul 07.00. Mengantre untuk mengambil nomor.

Dia mendapat nomor 17. Yang hendak memeriksakan kondisi kesehatan bisa menunggu di ruangan yang biasanya digunakan sebagai parkir mobil ambulans itu.

Ada tirai plastik bening yang memisahkan dengan lingkungan luar. Di sana ada meja dan kursi. Untuk mengisi blangko riwayat kesehatan dan riwayat perjalanan. ’’Berikutnya menunggu, jam 09.00 saya baru masuk ke ruangan dokter,” ujarnya.

Di sana Akbar mengeluhkan soal sakitnya yang dirasakan setelah study tour pada Kamis (12/3) ke salah satu perguruan tinggi di Malang. Sehari setelah pulang, kondisinya drop. Suhu tubuh meninggi, sakit tenggorokan, dan muntah-muntah. Kondisi itu berlangsung hingga Minggu (15/3).

Pada Minggu, laki-laki asal Medan, Sumatera Utara, itu sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta. Namun, dia diminta untuk memeriksakan diri ke Poli Khusus Unair. Saat itu Akbar hanya menerima informasi bahwa rumah sakit tersebut tidak berhak melakukan tes terhadap Covid-19.

Akbar pun hanya bisa manut. Apalagi, petugas kesehatan di rumah sakit itu bilang khawatir jika hasil pengujian yang dilakukan rumah sakit swasta itu berbeda. ’’Katanya takut salah paham, terus dirujuk ke sini,” jelas mahasiswa yang menempuh pendidikan di Surabaya itu.

Memang, saat study tour, Akbar bertemu dengan mahasiswa pertukaran pelajar asal Jerman. Kontak langsung sempat dia lakukan. ’’Mahasiswa itu baru sekitar seminggu datang. Saya sempat bersalaman sama dia,” paparnya.

Menurut Prastuti, banyaknya pasien yang datang ke Poli Khusus RSUA juga disebabkan informasi yang diterima masyarakat tidak lengkap. Khususnya tentang pemeriksaan gratis Covid-19.

Pemeriksaan gratis tersebut hanya berlaku untuk pasien berstatus PDP dan ODP yang dirawat inap dan di-swab untuk pengetesan Covid-19. Sementara itu, pasien tanpa gejala yang mengarah Covid-19 tetap mengikuti prosedur pasien umum.

”Banyak yang salah informasi tentang pemeriksaan gratis. Tidak semua pasien bisa dites lab untuk mengetahui Covid-19,” ujarnya.

Tiap hari ada satu dokter utama dengan model sif yang bertugas di poli khusus. Rontgen atau tes darah ikut layanan di IGD.

Kemarin, seusai interview dan pemeriksaan awal, Akbar pun harus menjalani tes darah sekaligus rontgen paru-paru. Tes tersebut dilakukan bersama dengan pasien yang juga saat itu diperiksa. Dia masuk gelombang kedua pengujian.

Jeda menunggu hasil pengujian pun cukup lama. Hasil itu baru keluar pukul 15.00. Selama dalam proses itu, tidak banyak yang bisa dilakukan. Dia hanya berbaring sambil mengamati sekeliling.

Ternyata, dalam ruang perawatan itu, tidak hanya ada pasien yang memeriksakan diri untuk pembuktian Covid-19. Namun, ada juga pasien lain yang membutuhkan rontgen atau tes darah.

’’Dokter juga sempat bilang, kalau positif, masih akan dicarikan ruang isolasi. Kalaupun tidak ada, akan dirujuk ke rumah sakit lain yang bersedia,” ujar pria 23 tahun itu.

Memang, bagi Akbar, waktu pemeriksaan yang dirinya jalani cukup panjang. Namun, dia bisa lega. Sebab, meskipun ada interaksi dengan orang asing, hasilnya masih negatif. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, dia hanya diberi resep dokter dan diminta mengisolasi diri selama 14 hari.

Akbar beruntung karena masuk kelompok pengujian kedua. Ada yang harus menunggu hingga gelombang ketiga dan keempat. Praktis saat petang pengujian itu baru selesai.

Kini RSUA mengurangi kuota pemeriksaan. Hanya 100 orang per hari. Salah satu alasannya, tenaga medis terbatas. Akibat jam kerja yang panjang, ada petugas yang tumbang. Jumlah alat pengaman diri (APD) kini juga menipis.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK(K) menyatakan kesiapan pihaknya untuk terlibat langsung dalam pemeriksaan spesimen orang dalam pengawasan (ODP). Dia meyakinkan, alat-alat di Eijkman mumpuni untuk mendeteksi virus baru tersebut.

Dalam sehari, kapasitas pemeriksaan bisa mencapai 80 spesimen. Sebab, satu alat maksimum terdiri atas 96 lubang sumur. Itu pun harus ada yang diisi dengan kontrol negatif dan positif.

Kemampuan tersebut masih bisa ditambah dengan pengalihan mesin polymerase chain reaction (PCR) lain jika terjadi peningkatan tajam. Menurut Prof Amin, ada banyak mesin PCR yang dimiliki pihaknya.

”Tapi, saat ini yang didedikasikan untuk korona baru satu. Yang lainnya untuk penelitian lain kan. Kalau jumlahnya meningkat tajam, kita bisa naikkan menjadi dua kali lipat,” jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (17/3).

Lama pemeriksaan, kata dia, tak berbeda jauh dengan laboratorium milik Balitbangkes Kementerian Kesehatan. Sekitar satu sampai dua hari, bergantung kapan spesimen datang. Apabila diterima pagi, bisa langsung dilakukan deteksi PCR pada hari yang sama. Jika tidak, harus menunggu esok hari.

Running PCR terbilang cepat. Hanya 2–5 jam rampung. Namun, jika disertai dengan konfirmasi hasil, running PCR bisa membutuhkan waktu seharian. ”Pagi mulai, sekitar jam 16.00 WIB baru keluar hasilnya,” paparnya.

Lalu, apakah bisa langsung datang ke Eijkman untuk tes Covid-19? Prof Amin menegaskan, pihaknya hanya menerima spesimen. Artinya, orang tidak bisa ujug-ujug datang meminta dites.

”Hanya sampelnya. Kalau orangnya bisa ke RSCM kali ya, nanti mereka yang ngambil dan mengirim ke kita,” ungkap guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Sebetulnya, bukan hanya RSCM. Semua rumah sakit bisa berjejaring dengan Eijkman. Sayangnya, belum semua rumah sakit siap. Tidak semua memiliki swab, tenaga ahli, hingga virus transfer mediumnya.

Kalaupun ada yang punya, lanjut dia, tidak semua rumah sakit bakal mau langsung melakukan pemeriksaan jika tanpa gejala. ”Kalau cuma pengen tahu aja, mereka biasanya belum menerima,” katanya.

Menurut dia, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, ketersediaan medium. Rata-rata rumah sakit hanya memiliki 5–10 medium. Karena itu, ketika ada orang sehat ingin tes Covid-19, banyak yang ditolak. ”Karena mereka takut kehabisan stoknya kalau ada yang benar-benar membutuhkan. Jadinya malah tidak bisa memeriksa,” jelasnya.

Prof Amin memberikan saran untuk siapa saja yang sedang dilanda kekhawatiran. Apabila tak ada kontak tapi merasa tak enak badan, langsung saja ke IGD. Di sana, akan langsung diperiksa, kemudian ditentukan perlu pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.

Nah, jika ada instruksi untuk mengisolasi diri, lakukan hingga 14 hari. Kemudian, pemeriksaan Covid-19 sebaiknya dilakukan pada akhir masa inkubasi tersebut. Sebab, ada kemungkinan hari ini diperiksa negatif, tapi besoknya sakit setelah jalan-jalan atau bertemu orang.

”Tapi, kalau akhir dua minggu sehat-sehat saja ya nggak usah periksa,” tegas Prof Amin

Dia mengakui, gejala Covid-19 mirip dengan flu biasa. Demam, batuk, dan pilek. Hal itulah yang akhirnya membuat orang kian khawatir. ”Kalau batuknya sedikit saja atau demam saja ya nggak usah,” katanya.

Namun, ketika gejala ringan tersebut berubah menjadi berat dan disertai sesak napas, sebaiknya langsung periksa. ”Tapi, kalau sakit sudah 10 hari, batuk, pilek, demam nggak seberapa, itu influenza biasa,” sambungnya.

Ok/ttg

 

Tambahan Boks

 

Selain di Unair, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute ditunjuk sebagai laboratorium rujukan untuk pemeriksaan Covid-19. Keduanya diketahui memiliki kapasitas biosafety level (BSL) atau level keselamatan biologi 2.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK(K) menyatakan kesiapan pihaknya untuk terlibat langsung dalam pemeriksaan spesimen orang dalam pengawasan (ODP). Dia meyakinkan, alat-alat di Eijkman mumpuni untuk mendeteksi virus baru tersebut.

Dalam sehari, kapasitas pemeriksaan bisa mencapai 80 spesimen. Sebab, satu alat maksimum terdiri atas 96 lubang sumur. Itu pun, harus ada yang diisi dengan kontrol negatif dan positif.

Kemampuan tersebut masih bisa ditambah dengan pengalihan mesin polymerase chain reaction (PCR) lain jika terjadi peningkatan tajam. Menurut Prof Amin, ada banyak mesin PCR yang dimiliki pihaknya.

”Tapi, saat ini yang didedikasikan untuk korona baru satu. Yang lainnya untuk penelitian lain kan. Kalau jumlahnya meningkat tajam, kita bisa naikkan menjadi dua kali lipat,” jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (17/3).

Lama pemeriksaan, kata dia, tak berbeda jauh dengan laboratorium milik Balitbangkes Kementerian Kesehatan. Sekitar satu sampai dua hari, bergantung kapan spesimen datang. Apabila diterima pagi, bisa langsung dilakukan deteksi PCR pada hari yang sama. Jika tidak, harus menunggu esok hari.

Running PCR terbilang cepat. Hanya 2–5 jam rampung. Namun, jika disertai dengan konfirmasi hasil, running PCR bisa membutuhkan waktu seharian. ”Pagi mulai, sekitar pukul 16.00 WIB baru keluar hasilnya,” paparnya.

Lalu, apakah bisa langsung datang ke Eijkman untuk tes Covid-19? Prof Amin menegaskan, pihaknya hanya menerima spesimen. Artinya, orang tidak dapat ujug-ujug datang untuk meminta dites.

”Hanya sampel. Kalau orangnya bisa ke RSCM kali ya, nanti mereka yang ngambil dan mengirim ke kita,” ungkap guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Sebetulnya, bukan hanya RSCM. Semua rumah sakit bisa berjejaring dengan Eijkman. Sayangnya, belum semua rumah sakit siap. Tidak semua memiliki swab, tenaga ahli, hingga virus transfers mediumnya.

Kalaupun ada yang punya, lanjut dia, tidak semua rumah sakit bakal mau langsung melakukan pemeriksaan jika tanpa gejala. ”Kalau cuma pengen tahu aja, mereka biasanya belum menerima,” katanya.

Menurut dia, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, ketersediaan medium. Rata-rata rumah sakit hanya memiliki 5–10 medium. Karena itu, ketika ada orang sehat yang ingin tes Covid-19, banyak yang ditolak. ”Karena mereka takut kehabisan stok kalau ada yang benar-benar membutuhkan. Jadinya malah tidak bisa memeriksa,” jelasnya.

Prof Amin memberikan saran untuk siapa saja yang sedang dilanda kekhawatiran. Apabila tak ada kontak tapi merasa tak enak badan, langsung saja ke IGD. Di sana, akan langsung diperiksa, kemudian ditentukan perlu pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.

Nah, jika ada instruksi untuk mengisolasi diri, lakukan hingga 14 hari. Kemudian, pemeriksaan Covid-19 sebaiknya dilakukan pada akhir masa inkubasi tersebut. Sebab, ada kemungkinan hari ini diperiksa negatif, tapi besoknya sakit setelah jalan-jalan atau bertemu orang.

”Tapi, kalau akhir dua minggu sehat-sehat saja ya nggak usah periksa,” tegasnya.

Dia mengakui, gejala Covid-19 mirip dengan flu biasa. Demam, batuk, dan pilek. Hal itulah yang akhirnya membuat orang kian khawatir. ”Kalau batuknya sedikit saja atau demam saja ya nggak usah,” katanya.

Namun, ketika gejala ringan tersebut berubah menjadi berat dan disertai sesak napas, sebaiknya langsung periksa. ”Tapi, kalau sakit sudah 10 hari, batuk, pilek, demam nggak seberapa, itu influenza biasa,” sambungnya. (*/c7/ttg)


BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:05

Lebih Dekat dengan Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Terlahir dari orang tua yang merupakan pejuang lingkungan memunculkan kepedulian…

Senin, 20 Januari 2020 14:19
Menikmati Family Fun Rally Sambut Kejuaraan Provinsi Kaltim 2020

Memperkuat Pariwisata, Ingin Lebih Banyak Orang Datang ke Balikpapan

Family Fun Rally 2020 gelaran Kaltim Post berakhir meriah, Ahad…

Kamis, 16 Januari 2020 16:10

Cerita Mengharukan, Kembar Identik yang Terpisah 16 Tahun Akhirnya Bertemu

Kisah hidup dua remaja kembar ini begitu mengharukan. Enam belas…

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…

Kamis, 26 Desember 2019 11:34

Kiprah Bripka Riko Rizki Masri dan FKPM Teman Hati

Membantu sesama tak perlu menunggu punya jabatan tinggi atau uang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers