MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 13 Maret 2020 13:37
Hari Konsumen Internasional dan Jaminan Halal

PROKAL.CO, Bambang Iswanto

Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda

 

 

TANGGAL 15 Maret diperingati sebagai World Consumer Rights Day atau Hari Konsumen Sedunia. Peringatan dimaksudkan untuk menjadi tonggak penting kesadaran konsumen terhadap hak-haknya. Hak-hak tersebut harus dihormati dan dilindungi dan negara wajib hadir untuk mewujudkannya.

Hari Konsumen Sedunia sejarah awalnya diperjuangkan oleh Organisasi Konsumen Internasional (International Consumer), terinspirasi dari sebuah pidato Presiden Amerika Serikat John F Kennedy di hadapan Kongres pada 15 Maret 1962.

Kennedy mengatakan, “Konsumen menurut definisi, termasuk kita semua, adalah kelompok ekonomi terbesar, yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh hampir setiap keputusan ekonomi, baik oleh sektor pemerintah maupun swasta. Namun, sejauh ini mereka adalah satu-satunya kelompok penting yang pendapatnya sering tidak didengar”.

Dalam lanjutan pidatonya, John F Kennedy menyampaikan ada empat hak dasar konsumen; hak atas keamanan, hak memilih, hak untuk mendapatkan informasi, dan hak untuk didengar pendapatnya.

Pidato Kennedy memang dilatarbelakangi oleh banyaknya hak konsumen yang diabaikan. Kejadian ini menimpa seluruh bagian dunia. Tidak hanya dulu, saat Kennedy menyampaikan pidatonya. Saat ini pun banyak masalah yang terkait dengan perlindungan hak-hak konsumen.

Masih banyak kasus, jika terjadi sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha, pihak konsumen tidak berdaya menghadapi kenakalan-kenakalan pelaku usaha, dan sering kalah dalam memperjuangkan hak-haknya.

Negara-negara dengan semangat demokrasi dan kontrol masyarakat yang kuat seperti Amerika Serikat saja sering dihinggapi masalah-masalah krusial subordinasi konsumen. Harusnya Indonesia berjuang lebih dari Amerika karena warganya memiliki budaya posisi tawar yang relatif lebih lemah dibandingkan warga Amerika Serikat.

Dukungan Pemerintah Indonesia mutlak diperlukan untuk melindungi hak-hak konsumen dimaksud. Sebagai bagian ikhtiar pemerintah terkait hal ini, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan menetapkan tanggal 20 April sebagai Hari Konsumen Nasional melalui penerbitan Kepres Nomor 13 Tahun 2012.

Sama dengan tujuan Hari Konsumen Internasional, Hari Konsumen Nasional juga ditujukan untuk membangun kesadaran secara masif hak-hak dan kewajiban konsumen. Konsumen diharapkan termotivasi untuk menjadi komunitas yang cerdas. Di sisi lain, pelaku usaha dituntut untuk selalu berpegang pada etika bisnis dalam menjalankan usahanya, yang tidak merugikan konsumen.

JAMINAN PRODUK HALAL

Salah satu isu penting tentang hak konsumen di Indonesia adalah hak mendapatkan komoditas konsumsi halal, khususnya bagi masyarakat muslim. Bagi seorang muslim, mengonsumsi produk-produk halal bukan pilihan tapi merupakan kewajiban. Pemerintah dan para pelaku usaha wajib memfasilitasi hak dasar bagi muslim Indonesia untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam mengonsumsi produk-produk yang beredar di Indonesia.

Pemerintah dan pelaku usaha tidak boleh berlindung di balik pernyataan-pernyataan lepas tangan seperti produk halal dan non-halal sudah ada pilihannya. Bagi yang tidak mau mengonsumsi yang haram ya pilihlah makanan halal.

Pernyataan seperti itu sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah masyarakat masih susah membedakan mana yang benar-benar haram, setengah haram, setengah halal, dan jelas-jelas halal. Di situlah letak peran pemerintah dan pelaku usaha untuk memberi garis tegas.

Jika ada produk tidak halal, pemerintah dan pelaku usaha tidak ragu menyebut atau melabelinya sebagai produk non-halal. Tidak mencoba menyamarkan diri dengan argumentasi telah memberikan informasi non-halal melalui kandungan material berupa kode-kode yang ternyata hanya bisa dipahami orang tertentu.

Masyarakat muslim wajib diberikan jaminan untuk tidak salah mengonsumsi barang dan jasa yang tidak halal. Lebih dari itu, harus dilindungi dari pelaku-pelaku usaha yang nakal dan manipulatif, yang berlindung di balik label syariah dan halal.

Dalam praktik misalnya, sering konsumen muslim dibuat ragu untuk masuk ke sebuah restoran atau rumah makan karena kehalalannya yang tidak jelas. Di sisi lain, ada restoran atau rumah makan yang melabeli diri dengan tulisan halal sepihak, tidak melalui lembaga resmi yang memiliki otoritas pemberi label halal seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tidak ada yang bisa menjamin apakah tulisan halal yang dibuat sendiri tersebut benar-benar halal atau sekadar pelang manipulatif agar bisnisnya tetap laris meski banyak bahan yang tidak halal.

Tidak hanya pada komoditas makanan, pada fashion dan kosmetik pun setali tiga uang. Masyarakat tidak diberikan informasi utuh tentang komposisi material di dalamnya terkait  aspek halal.

Ke depannya diharapkan tidak ada komoditas dan jasa yang tidak diketahui kejelasan halalnya oleh para konsumen. Tidak ada wilayah abu-abu antara halal dan haram. Hal itu merupakan ajaran dasar dalam Islam. Al-Qur’an menyebutkan, “Makan dan minumlah yang halal dan baik-baik” yang bisa ditafsirkan kewajiban mengonsumsi yang halal bagi seorang mukmin.

Ayat tersebut dipertegas lagi dengan hadis Rasul, “Halal itu jelas dan haram pun jelas, antara halal dan haram adalah wilayah syubhat (abu-abu)”. Dalam kesempatan lain, Rasul menyebut untuk menjauhi hal-hal yang meragukan seperti wilayah abu-abu, ketidakjelasan halal dan haram.

Menjalankan perintah agama adalah hak dasar bagi warga Indonesia yang dijamin UUD 1945. Demikian pula mendapatkan produk halal adalah hak dasar konsumen di Indonesia dan dunia seperti yang terjabar dalam Declaration of Consumer Right dan perundang-undangan di Indonesia.

Keduanya paralel sebagai peneguh kewajiban melindungi hak-hak kaum muslim di Indonesia mengonsumsi produk halal. Selamat memperingati Hari Konsumen Internasional! (rom/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers