MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 07 Maret 2020 23:43
Anak 15 Tahun Bisa Membunuh? Bisa Jadi Ini Penyebabnya
Endro S Effendi

PROKAL.CO, WARGA negara +62 kembali dibuat merinding sekaligus geleng-geleng kepala ketika mendapati berita seorang gadis baru berusia 15 tahun, tega melakukan pembunuhan kepada anak lain berusia 5 tahun. Yang lebih mengejutkan, saat ditanya penegak hukum, gadis ini mengaku ‘puas’. 

Dalam pemberitaan yang beredar dikatakan, gadis ini berani melakukan pembunuhan karena terinspirasi dengan adegan film. Apalagi, pelaku suka dengan hal-hal berbau horor atau mistis.

Lantas, bagaimana hal ini jika dikaji dari sisi ilmu teknologi pikiran? Izinkan saya mencoba melakukan analisa dari tiga hal besar.

1. Baterai Kasih Sayang

Penyebab pertama yang menjadikan anak memiliki perilaku tidak biasa adalah, kurang penuhnya baterai kasih sayang. Gadis pelaku pembunuhan ini, kita sebut saja namanya sebagai Melati, boleh jadi selama ini tidak mendapatkan pasokan kasih sayang secara utuh dari kedua orang tuanya. Ibarat handphone, anak juga harus rutin diisi baterai kasih sayangnya. Yang wajib mengisi baterai kasih sayang ini adalah kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Keduanya harus rutin mengisi secara proporsional.

Ada lima cara mengisi baterai kasih sayang anak. Ini sesuai dengan teori Gary Chapman seperti yang sudah dituliskan dalam buku, 5 Love Language. Pertama, pujian. Memberikan pujian tulus pada setiap aktivitas yang berhasil dilakukan anak, adalah salah satu cara mengisi baterai kasih sayangnya. Jangan segan memuji anak, sisihkan waktu memuji anak setiap kali berhasil melakukan sesuatu.

Kedua, sentuhan. Anak membutuhkan sentuhan agar baterai kasih sayangnya selalu terisi. Memeluk, mengusap, menggendong, memangku dan sederet aktivitas yang berisi sentuhan, sangat dibutuhkan anak. Tak usah merasa risih jika buah hati tiba-tiba minta pangku, minta gendong atau minta bermain dengan kedua orang tuanya. Itulah saat tepat mengisi baterai kasihnya.

Ketiga, pelayanan. Memberikan pelayanan pada anak juga merupakan salah satu cara mengisi baterai kasih sayangnya. Saat anak minta disuapin, minta dipakaikan kaos kakinya, minta didampingi saat belajar dan bentuk pelayanan lainnya, sangat dibutuhkan anak untuk mengisi baterai kasih sayangnya. Saat memberikan pelayanan, lakukanlah dengan tulus dengan segenap perasaan.

Percuma memberikan pelayanan sambil marah atau ngomel. Alih-alih mendapat pasokan kasih sayang, yang ada malah energi kasih sayangnya drop, terkuras habis.

Keempat, waktu berkualitas. Sibuk bekerja boleh. Namun, berikan waktu berkualitas pada anak. Problem orang tua masa kini adalah, kurang memiliki waktu berkualitas pada buah hati. Berkumpul bersama anak pun, belum tentu berkualitas jika orang tua masih sibuk bekerja atau pegang handphone. Anak akan merasa terabaikan dan tidak terisi kasih sayangnya.

Kelima atau terakhir adalah hadiah. Memberikan hadiah, sekecil apa pun, juga merupakan cara mengisi baterai kasih sayang anak. Tak usah segan memberi barang yang disukai anak. Jadikan itu momen penting untuk meningkatkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak. Hadiah tidak harus mahal. Yang penting diberikan dengan perasaan tulus dan nyaman.

Nah boleh jadi, Melati yang berani melakukan pembunuhan tidak mendapatkan kasih sayang yang porporsional. Akibatnya, ibarat handphone yang drop, mengalami gangguan dan tidak berfungsi dengan baik.

2. Ego Personality (EP) Baru

Di setiap manusia, memiliki ego personality (EP) atau bagian diri yang berbeda-beda. Ada yang menyebut sebagai kepribadian yang berbeda-beda. Supaya mudah, saya tuliskan ini sebagai EP. Dari barang bukti yang ditunjukkan polisi, misalnya dari gambar yang dibuat Melati, seolah menunjukkan gadis ini sedang dalam kesedihan dan kurang perhatian serta kasih sayang. Seperti sudah dibahas di atas, kondisinya menjadi drop.

Nah saat anak kekurangan kasih sayang ini menjadikan pagar pikiran bawah sadar terbuka lebar. Dalam posisi seperti itu, maka informasi apa pun yang masuk dan diterima Melati, akan diterima pikiran bawah sadar tanpa disaring sama sekali. Dalam kondisi pikiran bawah sadar aktif, yang dilihat dan dibaca lebih banyak film horor, mistis, hingga hal-hal misterius lainnya. Maka secara tidak disadari, Melati menciptakan sebuah kepribadian baru yang menyenangi hal-hal seperti ini.

Awalnya kepribadian baru ini masih sangat kecil. Jika dibiarkan dan lama-lama membesar dan dominan, maka bagian diri atau kepribadian baru inilah yang akhirnya menguasai Melati. Maka jangan heran jika Melati mengaku puas setelah melakukan pembunuhan. Sejatinya, yang merasa puas itu adalah bagian diri Melati yang baru itu.

Untuk membuang bagian diri ‘pembunuh’ dalam diri Melati, perlu dilakukan intervensi di pikiran bawah sadarnya. Hipnoterapi klinis bisa menjadi salah satu pilihan, agar si melati bisa dikembalikan pada fitrahnya.

3. PBS Tidak Mengenal Benar Salah

Salah satu cara kerja pikiran bawah sadar alias PBS adalah tidak mengenal baik atau buruk, benar atau salah, surga atau neraka, hingga pahala atau dosa. PBS hanya mengenal untung atau rugi. Maka, ketika Melati berani melakukan pembunuhan, sejatinya ada bagian diri Melati yang merasa untung. Itulah kenapa setelah melakukan pembunuhan, gadis ini mengatakan ‘puas’. Itu adalah ekspresi ada yang diuntungkan di dalam dirinya setelah melakukan hal tersebut.

Hal itu sama persis dengan mereka yang mengaku rajin ibadah dan merasa paling dekat dengan Tuhan. Kenapa masih melakukan kesalahan? Dari mulai korupsi, sampai pencabulan? Ya karena pikiran bawah sadar merasa untung. Sehingga lupa soal surga dan neraka, pahala atau dosa. Tahunya mana yang untung, itulah yang dilakukan.

Nah, kembali ke persoalan Melati, tentu gadis ini perlu penanganan serius. Bahwa dia sudah bersalah dan harus dihukum, itu sudah pasti. Namun sejatinya Melati juga korban dari kondisi keluarga serta korban dari paparan film dan informasi yang kurang sehat. Tidak berlebihan pula jika Melati perlu dilakukan rehabilitasi secara kejiwaan di pikiran bawah sadarnya, agar tidak terjadi lagi hal yang sama di kemudian hari.

Demikianlah kenyataannya. (*)


BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers