MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 07 Maret 2020 11:22
CORONA FOBIA

PROKAL.CO, Oleh:  Dr dr Nataniel Tandirogang MSi

 

COVID-19 nama penyakitnya. SARS Cov-2 lah penyebabnya. Genomnya mengandung RNA, anak dari corona, kakek buyutnya bernama virus. Sang “bapak” pertama kali diisolasi pada 1965 dari cairan hidung seorang anak yang menampakan gejala pilek (common cold). Yang biasanya disebabkan oleh infeksi rhinovirus atau virus influenza.

Tetapi saat dilihat dengan mikroskop, elektron tampak bentuk lain. Indah menyerupai mahkota. Dalam bahasa latin disebut “crown”. Sehingga diberilah nama oleh International Committee On Taxonomy of Viruses (ICTV) “Corona”. Punya keturunan tidak kurang dari 200 spesies.

Awalnya, hanya mampu hidup dalam tubuh berbagai jenis hewan. Seperti kelelawar, ular, dan unta.  Setelah mengalami berbagai tantangan hidup dan perubahan lingkungan, tidak menutup kemungkinan akibat ulah manusia sendiri, akhirnya tujuh keturunannya mampu mengubah dirinya dengan cara bermutasi. Sehingga memberi kemampuan untuk masuk dan hidup dalam tubuh manusia.

Mutasi dilakukan sepanjang waktu. Saat melakukan replikasi atau memperbanyak diri. Sel ke-1000–10.000 akan terjadi satu perubahan pada nukleotida. Nukleotida yang terdiri dari basa purin dan pirimidin, adalah unsur yang bertugas sebagai pembawah kode gentik setiap makhluk hidup. Perubahan genetik ini dapat menyebabkan perubahan sifat yang dapat menguntungkan atau merugikan virus itu sendiri.

Tujuh bersaudara ini (HCoV-229E, HCoV-NL63, HCoV-OC43, HCoV-HKU1, SARS-Cov, MERS-Cov, dan SARS Cov-2)  akhirnya mampu menginfeksi dan menimbulkan penyakit pada manusia. Empat sudara pertama umumnya ditemukan sepanjang tahun di berbagai belahan negara. Hanya menimbulkan penyakit ringan pada saluran pernapasan. Seperti influenza atau batuk pilek.

Tiga saudara terakhir yang kebetulan kembar, lebih ganas dan telah menyebabkan manusia heboh dan kalang kabut. Kehebohan pertama terjadi pada 2002. Saat SARS-Cov muncul pertama kali di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Menimbulkan penyakit berat pada saluran pernapasan manusia sehingga diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Tidak kurang dari 8.096 orang terinfeksi dan menyebabkan kematian 774 (9,6 persen) di 29 negara. Hampir setahun, virus ini merepotkan dunia. Alhamdulillah, Indonesia aman-aman saja. Kehebohan kedua terjadi pada 2012. Ketika muncul si kembar baru, MERS-Cov di Arab Saudi. Menyebabkan penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) sesuai dengan nama wilayah/region tempatnya diisolasi. Menginfeksi 2.494 orang dengan kematian 858 (34,4 persen) yang tersebar di 28 negara.

Lagi-lagi, Indonesia aman-aman saja. Walaupun sempat mengkhawatirkan dan mengganggu ibadah para jamaah haji kita, ataupun yang melakukan ibadah umrah. Kehebohan terdahsyat terjadi saat si bungsu muncul, SARS Cov-2 di pengujung 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Awalnya diberi nama nCov-19 sebagai simbol bahwa ada virus corona baru yang sebelumnya belum dikenal. Telah menyebabkan infeksi pada manusia. Setelah melalui pemeriksaan molekuler, dengan mengurutkan sebanyak 29.903 kb nukleotida dari genom virus tersebut, ternyata sangat mirip dengan saudara kembarnya terdahulu, SARS-Cov. Dari 29 jenis protein yang dimiliki si bungsu, ternyata hanya 2 protein (protein orf 8 dan orf 10) yang tidak dimiliki pendahulunya.

Sehingga oleh ICTV diberi nama resmi SARS Cov-2 yang menyebabkan penyakit corona virus deseases (Covid-19) yang sampai ini saat telah menginfeksi sekira 95.481 orang dengan kematian 3.285 (3,4 persen) di 83 negara di dunia dan 1 international conveyance (the Diamond Princess cruise ship harbored in Yokohama, Japan). Melihat penyebarannya yang begitu cepat, tanpa mengenal suku, ras, dan agama dalam tempo kurang lebih 2 bulan, telah menyerang 43 persen bangsa dan negara di dunia, kelihatannya sangat ganas dari pendahulunya.

Akan tetapi, jika melihat penyakit yang ditimbulkannya, hanya menyebabkan kematian 3,4 persen. Jauh lebih rendah dari pendahulunya. Ataupun kematian yang disebabkan oleh penyakit lain. Seperti flu babi yang disebabkan virus H1N1 dari kelompok orthomiksovirus yang masih sepupu jauh dengan coronavirus, telah menginfeksi 1,6 juta manusia dan menyebabkan kematian 284.500 orang di 214 negara.

Pun demikian dengan Mycobakterium TB yang menyebabkan TB Paru. Menyebabkan 1,3 juta kematian di dunia termasuk 300 orang meninggal setiap hari di Indonesia karena TB.

 

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?

Sejauh ini, kita masih dalam keadaan aman. Setelah 2 bulan lebih merebak di berbagai negara. Faktanya, sampai Kamis, 5 Maret 2020, baru ada 2 pasien yang terkonfirmasi terinfeksi dengan si bungsu. Walaupun kemungkinan bertambah juga ada. Hal berbeda yang terjadi di Korsel, Iran, Italia, ataupun di USA dan Jerman. Mudah-mudahan kita juga tetap aman. Sama seperti ketika dua saudara kembar terdahulu menggemparkan dunia.

Apakah karena orang Indonesia sudah mempunyai daya tahan tubuh terhadap virus ini? Atau karena lingkungan tropis yang kurang bersahabat? Perlu kajian ilmiah yang lebih dalam.

 

APA YANG MESTI KITA LAKUKAN?

Yang mesti dipahami, secara morfologi, Virus SARS Cov-2 berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 100–120 nm. Mempunyai selubung/envelope yang terbuat dari glikoprotein dan dikelilingi oleh "Protein S (Spike protein)" sebagai alat untuk melekat pada tubuh manusia. Berikatan dengan angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang ada pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan manusia.

Selubung/envelope itu menjadi kelemahan utama dari sang virus. Karena sangat mudah terurai atau hancur dengan pelarut lemak, sabun detergen, maupun dengan bahan-bahan disinfektan seperti alkohol. Karena menginfeksi saluran pernapasan maka cara penularan yang paling memungkinkan adalah melaui kontak langsung dengan droplet (percikan dahak) dari penderita yang mengandung virus.

 Baik melalui hidung, mulut, maupun mata. Droplet akan dikeluarkan oleh penderita saat batuk maupun saat berbicara, untuk itu penderita perlu menggunakan masker, bukan sebaliknya. Umumnya penyakit yang ditimbulkan oleh virus sifatnya self limiting dan tidak dapat diobati dengan antibiotik. Demikian halnya dengan penyakit Covid-19.

 Sampai saat ini, belum ada obat maupun vaksin yang dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan. Sehingga satu-satunya cara untuk terhindar dari penyakit ini adalah melalui Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Seperti mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, makan bergizi dan seimbang, berolahraga secara teratur. Dalam tubuh kita sudah dikarunia oleh Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, tentara-tentara berupa sistem imun yang setiap waktu, 24 jam siap siaga untuk memerangi setiap ada benda asing masuk ke tubuh kita, termasuk si- “Corona” ini. 

Jadi, yang perlu kita lakukan hanya menjaga stamina tentara-tentara kita ini. Dengan memberikannya makanan bergizi dan seimbang serta berolahraga secara teratur. Salam sehat untuk seluruh masyarakat Indonesia. Semoga sang “corona” tidak lagi menimbulkan kepanikan kita semua. (*/riz/k8)

 

Penulis adalahdosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Unmul, KetuaIkatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kaltim, dan Wakil KetuaPerhimpunan Mikrobiologi Indonesia (PERMI) Kaltim.

 


BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 14:54

“New Normal” Iman Pascaramadan

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers