MANAGED BY:
SENIN
10 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 29 Februari 2020 10:55
Jadi Negara Maju, Indonesia Layak?

USTR Bukan Bank Dunia atau IMF

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Senayan, Jakarta. United State Trade Representative (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang. Menurut mereka, Indonesia sudah layak masuk dalam kelompok negara maju dalam bidang perdagangan internasional. Dua alasan utamanya, share pasar ekspornya sudah di atas 0,5 persen dan tercatat sebagai anggota G-20. (JawaPos)

PROKAL.CO,

JAKARTA– United State Trade Representative (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang. Menurut mereka, Indonesia sudah layak masuk dalam kelompok negara maju dalam bidang perdagangan internasional. Dua alasan utamanya, share pasar ekspornya sudah di atas 0,5 persen dan tercatat sebagai anggota G-20.

Bagi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), dua indikator itu saja tidak cukup untuk menasbihkan Indonesia sebagai negara maju. Meskipun sekadar dibilang maju di bidang perdagangan. Sebab, untuk bisa disebut negara maju, ada indikator penting lain yang menjadi ukuran. Yakni, capaian pendapatan per kapita dan kesejahteraan sosial.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus menilai, perubahan status Indonesia menjadi negara maju dalam perdagangan internasional hanyalah akal-akalan Amerika Serikat (AS). Belakangan, tren neraca perdagangan AS defisit terus terhadap negara-negara mitra. Termasuk terhadap Indonesia. Karena itu, Indef mengusulkan agar pemerintah menolak perubahan status tersebut.

”Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dan AS surplus USD 8,5 miliar (sekitar Rp 121,8 triliun) sepanjang 2019. Nah, mereka (AS) mau mengurangi defisitnya,” beber Heri di ITS Office Tower, Pasar Minggu, Kamis (27/2) lalu.

Jika status negara berkembang dicabut, perdagangan Indonesia akan terhambat. Sebab, sebagai negara maju, Indonesia tidak akan lagi mendapatkan fasilitas GSP (generalized system of preferences). GSP merupakan kebijakan perdagangan yang dianut suatu negara dengan memberikan potongan bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima. Kebijakan itu diaplikasikan negara maju untuk membantu perekonomian negara berkembang.

Dengan mengeluarkan Indonesia dari kelompok negara berkembang, AS berhak memberlakukan tarif bea impor terhadap produk ekspor tanah air. ”Implikasinya, produk ekspor Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS,” kata Heri. Karena itu, produk-produk Indonesia harus benar-benar bisa bersaing, baik dari segi kualitas maupun harga.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 10 Agustus 2020 10:35

Tol Balsam Masih Terhalang Pembebasan Lahan Hutan Lindung

BALIKPAPAN–Di tengah sepinya pengguna, PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS) berupaya…

Senin, 10 Agustus 2020 10:33

PPN Saudi Naik, Tarif Umrah Ikut Naik

JAKARTA – Ketika penyelenggaraan umrah nanti dibuka kembali oleh pemerintah…

Senin, 10 Agustus 2020 10:32

Mobil Terbang Sudah Dilegalkan

Gagasan mobil terbang sebagai kendaraan masa depan yang cepat dan…

Senin, 10 Agustus 2020 10:29

Dana Pandemi Dikorupsi, Jaksa Agung: Tak Ada Toleransi

SAMARINDA–Keadilan tak hanya tentang besar-kecilnya hukuman pidana yang dijatuhkan. Ada…

Minggu, 09 Agustus 2020 12:23

Pesawat Air India Express Jatuh, Begini Kesaksian Penumpangnya....

Pesawat Air India Express Boeing 737 jatuh di India Selatan,…

Minggu, 09 Agustus 2020 10:42

Mahulu Jebol Juga, Kasus Covid-19 Pertama Warga Jateng

Samarinda - Sejak kasus pertama Covid-19 dilaporkan Maret lalu di Kaltim,…

Jumat, 07 Agustus 2020 13:48

Stimulus Bansos Karyawan Harus Jelas

Pemerintah tengah mematangkan program stimulus untuk karyawan dengan gaji di…

Jumat, 07 Agustus 2020 12:10

Karyawan Gaji Di Bawah Rp 5 Juta Dapat Bansos Rp 600 Ribu

JAKARTA – Konsumsi masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak…

Jumat, 07 Agustus 2020 12:07

Ada 7 Kandidat Vaksin Uji Coba Tahap 3

 JAKARTA- Penelitian vaksin di tanah air terus dilakukan. Kamis (6/8)…

Jumat, 07 Agustus 2020 11:55

1 Persen Kemungkinan Tinggal di Lebanon Itu Hilang Sudah

BEIRUT– Selasa lalu (4/8) seharusnya jadi hari gembira bagi Israa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers