MANAGED BY:
SENIN
06 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 24 Februari 2020 14:45
Gara-gara Virus Korona, Bali Bisa Kehilangan Sejuta Wisatawan Tiongkok, Pantai Kuta Kini Didominasi Turis India
Keputusan pemerintah menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok membuat pariwisata di Bali terpukul. Turis Tiongkok yang biasanya mencapai lebih dari satu juta orang dalam setahun itu kini tak tampak lagi.

PROKAL.CO, Keputusan pemerintah menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok membuat pariwisata di Bali terpukul. Turis Tiongkok yang biasanya mencapai lebih dari satu juta orang dalam setahun itu kini tak tampak lagi.

 

--- --- ---

 

Januari, Februari, dan tiga bulan ke depan akan menjadi masa kelam bagi pariwisata Bali. Wabah virus korona membuat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sepi dari turis Tiongkok. Biasanya mereka berbondong-bondong menghabiskan waktu dan uang dengan liburan di Bali.

Sepinya bandara merembet ke beberapa destinasi wisata di Bali. Di Tanah Lot, Tabanan, Jawa Pos tidak melihat antrean. Kendaraan roda dua dan empat tidak banyak. Padahal, biasanya area parkir tempat wisata itu padat dan ramai. ”Biasanya susah dapat parkir,” kata Rokayyah, pemilik gerai makanan yang sudah lima tahun berjualan di Tanah Lot.

Selama berjualan di Tanah Lot, Rokayyah mengaku jarang mendapati destinasi wisata tersebut sepi. Dia menyatakan, merebaknya virus korona memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. ”Jadinya yang ke sini juga sedikit,” ujar perempuan asal Padang tersebut.

Turis asal Tiongkok tidak kelihatan. Padahal, biasanya rombongan mereka mendominasi tempat-tempat wisata. Kini yang banyak adalah wisatawan dari India dan Australia. Lauren salah satunya. Wisatawan yang tinggal di Perth itu sudah sepekan berada di Bali. Tanah Lot merupakan destinasi terakhir sebelum dia kembali ke Denpasar untuk bersiap pulang ke negara asalnya. ”Kami datang untuk menikmati Bali,” ucapnya saat diajak berbincang singkat oleh Jawa Pos.

Menurut Lauren, wabah korona bukan ancaman di Bali. Sebab, tidak ada satu pun kasus korona di sana. Karena itu, saat memutuskan berlibur ke Bali, Lauren tidak ragu. Pun demikian rekan-rekan satu grupnya. ”Kami percaya akan aman dan bisa berlibur ke sini (Bali),” imbuhnya.

Dalam perjalanan singkatnya, lanjut Lauren, beberapa tempat juga sudah dijelajahi. Yang pertama tentu saja Pantai Kuta di Badung. Destinasi wisata yang terkenal karena punya pesona matahari terbenam itu juga jadi salah satu tujuan wisata favorit turis Tiongkok.

Kepala Dinas Pariwisata Bali I Putu Astawa menyebutkan, Badung menjadi salah satu tempat favorit wisatawan Tiongkok. Mereka senang menikmati pantai di sana. Selain Kuta, turis Tiongkok senang berkunjung ke Nusa Dua. ”Kintamani, Nusa Penida, kebun-kebun bintang, mereka suka semua,” terangnya kepada Jawa Pos.

Astawa menjelaskan, hingga kini masih ada sekitar seribu wisatawan asal Tiongkok yang tinggal di Bali. Mereka tidak bisa pulang karena penerbangan ke Tiongkok ditutup. Karena itu, para wisatawan mancanegara (wisman) tersebut memperpanjang masa liburan mereka. Namun, dua kali datang ke Kuta selama kurang lebih empat hari berada di Bali, tidak sekali pun Jawa Pos berjumpa turis Tiongkok.

Pun demikian halnya saat Jawa Pos datang ke Nusa Dua. Yang banyak terlihat adalah wisman dari India dan Australia. Sisanya lebih banyak wisatawan lokal. Dita Aprianti salah satunya. ”Mumpung ada waktu dan lagi murah tiketnya,” kata dia membeber alasan berkunjung ke Bali. Selain Nusa Dua, Dita akan mengunjungi Garuda Wisnu Kencana atau GWK.

Cultural park yang kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Bali itu juga disambangi Jawa Pos. Namun, lagi-lagi, tidak banyak wisatawan asing. Serupa dengan kondisi Tanah Lot, tempat parkir di GWK juga sepi. Saat dikonfirmasi terkait hal itu, Astawa menerangkan bahwa saat ini memang masih low season. Wisatawan biasanya memadati Bali mulai Juni.

Meski demikian, kendati belum masuk peak season, tak lantas sama sekali tak ada wisatawan yang datang. Astawa mengakui, Januari dan Februari adalah waktu liburan bagi wisman Tiongkok. Tahun lalu sedikitnya 115.491 wisman Tiongkok datang ke Bali pada Januari. Sedangkan Februari tahun lalu jumlahnya 112.643 orang.

Berdasar catatan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, jumlah wisatawan yang datang ke Bali Januari tahun lalu 456.218 orang. Angka itu turun 20 ribu dibanding Januari tahun ini. ”Kunjungan wisatawan ke Badung yang mayoritas tujuan tamu ke Bali sebesar 436.218 pada Januari 2020,” beber Ketua DPW NCPI Bali Agus Maha Usadha. Tren penurunan angka kunjungan wisatawan ke Bali Januari tahun ini bisa saja berlanjut bulan depan.

Agus menyampaikan hal itu lantaran sudah mendapat informasi bahwa ada sejumlah pembatalan kunjungan ke Bali. ”Harapannya semoga segera membaik,” ucap dia. Meskipun tidak ada kasus korona di Bali, isu virus memang kerap jadi masalah. Bali sudah pernah berurusan dengan masalah serupa ketika SARS mewabah. Pun demikian yang terjadi saat flu burung merebak. Astawa mengakui hal itu.

”Pengaruh (virus korona, Red) jelas ada. Tidak ada penerbangan (dari dan ke Tiongkok) kan?” kata Astawa. Dari angka kunjungan wisman asal Tiongkok per tahun, menurut dia, rata-rata ada 90 ribu kunjungan per bulan. Dari angka tersebut, uang yang mereka keluarkan per hari USD 100. ”Kali 90 ribu, kira-kira segitu potensi kehilangan kami (setiap bulan, Red),” imbuhnya.

Bila dikalkulasi dengan kurs saat ini, 90 ribu wisatawan Tiongkok bisa menyumbang devisa Rp 117 miliar per bulan. Tentu saja angka pastinya bisa di atas itu. Sebab, Astawa mengakui, hitungan yang dia beber hanya hitungan kasar. ”Tetapi, yang lain masih normal. Yang berpengaruh kan hanya wisatawan Tiongkok,” kata Astawa. Menurut dia, walau wisatawan Tiongkok berkurang signifikan, masih banyak wisman negara lain.

Termasuk wisman Australia dan India yang banyak datang ke Bali. Begitu juga wisman dari Eropa. Astawa memastikan bahwa industri pariwisata Bali tidak langsung terpuruk lantaran berkurangnya wisatawan dari Tiongkok. Namun, tentu saja ketidakhadiran wisman Tiongkok turut membuat sejumlah pihak khawatir. ”Terutama yang 100 persen marketnya Tiongkok, itu yang pasti mengeluh,” imbuhnya.

Lantas, bagaimana pemerintah di Bali berusaha mengatasi permasalahan tersebut? Astawa menyebutkan, sudah ada koordinasi dengan pemerintah pusat. Solusi yang ditawarkan antara lain adalah memaksimalkan wisatawan lokal. ”Cuma, mereka merasakan harga tiketnya itu masih mahal. Sehingga kebijakan pusat terkait dengan tiket, potongan harga untuk maskapai yang ke Bali, itu adalah langkah yang tepat,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya mengimbau hotel-hotel di Bali memberikan diskon. Mereka juga meminta agenda pertemuan atau rapat kementerian/lembaga dilaksanakan di Bali. Dengan begitu, potensi kehilangan akibat hilangnya wisman Tiongkok bisa ditekan lebih maksimal. Langkah lain yang juga diharapkan efektif ialah mengubah rute pesawat yang sebelumnya melayani penerbangan ke Tiongkok.

Dinas Pariwisata Bali bersama sejumlah stakeholder industri pariwisata di sana sudah mengusulkan agar rute penerbangan ke Tiongkok dialihkan. ”Kita reroute ke India. Karena India juga pasar besar. Kedua, saya usulkan juga ke Jepang,” kata Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya. Menurut dia, Jepang punya potensi besar untuk digarap. Sebab, ada 16 juta turis Jepang yang setiap tahun keliling dunia. ”Bali baru mendapatkan 750 ribu tahun lalu,” tambahnya.

Sinergi dan koordinasi yang terus dilaksanakan semua pemangku kepentingan di Bali diyakini mampu membuat Pulau Dewata melewati krisis akibat merebaknya virus korona. Dukungan pemerintah pusat serta langkah-langkah mitigasi yang sudah disiapkan dinilai tepat. Menurut Suryawijaya, tiga bulan ke depan masalah yang dihadapi setelah mewabahnya virus dari Wuhan itu sudah tidak akan terasa. ”Kami sangat optimistis,” tegasnya. (syn/c9/oni)


BACA JUGA

Minggu, 05 April 2020 14:08

Dua Pasien di Kaltim Sembuh, Daya Tahan Tubuh Bagus, Diyakini Terbebas dari Corona

Dua orang pasien Covid-19 di Kaltim dinyatakan sembuh. Hasil pemeriksaan…

Minggu, 05 April 2020 14:07

Evaluasi Pengetatan Jalur Balikpapan-Samarinda

SAMARINDA telah memberlakukan pembatasan masyarakat dari Balikpapan sejak Jumat (3/4).…

Minggu, 05 April 2020 14:02
Kisah Pasien Corona yang Sembuh, Yuyun Nurhayati

Kuncinya Bahagia, Tak Boleh Sedih, dan Tanpa Televisi saat Diisolasi

Melalui sambungan telepon, kabar gembira itu datang. Yuyun Nurhayati, pengidap…

Minggu, 05 April 2020 13:49
Tiga Pasien Negatif dari Balikpapan Masih Menunggu Tes

Daya Tahan Tubuh Bagus, Diyakini Terbebas dari Corona

Dua orang pasien Covid-19 di Kaltim dinyatakan sembuh. Hasil pemeriksaan…

Minggu, 05 April 2020 13:28
Rapid Test Covid-19 Gagal Terpenuhi

Semua Orang Wajib Pakai Masker, Angka Kematian Bisa Capai 150 Ribu

JAKARTA -- Target rapid test gagal terpenuhi. Pemetaan kasus pun…

Minggu, 05 April 2020 13:15

Pasien yang Sembuh Tidak Akan Tularkan Kembali Covid-19

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto…

Minggu, 05 April 2020 12:44

Publik Setuju Riwayat Perjalanan Pasien Covid-19 Dibuka

JAKARTA– Pemerintah sampai saat ini cenderung tertutup penanganan pasien Covid-19.…

Minggu, 05 April 2020 11:50

Akhirnya Dibeber..!! Ini Daerah Rawan Transmisi Lokal Covid-19 di Samarinda

SAMARINDA - Dinas Kesehatan Kota Samarinda membuat perkiraan peta risiko…

Sabtu, 04 April 2020 19:34

Meski Ditengah Kesulitan dan Keterbatasan, 2 Pasien Covid-19 di Kaltim Dinyatakan Sembuh

SAMARINDA - Dua pasien yang terjangkit virus covid-19 di Kaltim…

Sabtu, 04 April 2020 12:16
Rona-Rona Penanganan dan Penularan Covid-19 di Sejumlah Negara

Dipukuli Aparat, Pilih Tertular Atau Mati Karena Lapar

Penularan Covid-19 tidak pandang bulu. Baik di negara maju atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers