MANAGED BY:
JUMAT
10 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Kamis, 20 Februari 2020 10:58
Pendaki Tolak Heli dan Penginapan Mewah di Rinjani, Ini Alasannya
Lokasi kemping (camping) yang biasa dilakukan pendaki Rinjani.

PROKAL.CO, MATARAM-Penyediaan fasilitas heli tourism dan penginapan mewah di Gunung Rinjani ditolak. ”Pendaki, TO dan pencinta alam tidak setuju,” kata Kuswandi Harun alias Stuk, salah seorang trekking organizer (TO) Gunung Rinjani, (19/2).

Apapun alasannya, kata Stuk, dia tidak setuju karena pasti akan merusak keindahan alam Rinjani. ”Pasti dia akan menyaingi usaha pendakian lokal,” katanya.

Menurutnya, camping mewah atau glamorous camping (Glamping) di Rinjani pasti akan menjadi satu kesatuan paket wisata dengan heli tourism. Sehingga mereka tidak mungkin menggunakan TO dan porter lokal. Kalau mereka mengaku akan menggunakan tenaga lokal, dia ragu. ”Ini sama saja bohong,” katanya.

Konsep penginapan mewah hanya satu hari yang ditawarkan PT Rinjani Glamping Indonesia pasti akan menggunakan helikopter. ”Kalau mendaki kita butuh waktu tiga hari, tarus bagaimana mau satu hari kalau gak pakai heli,” katanya.

Jika diizinkan, lambat laun pembangunan fasilitas itu akan menggerus mata pencairan para TO dan porter di sana. ”Jangka panjangnya ini akan menghapus pendakian secara konvensional,” katanya.

Kekhawatiran lainnya, kalau bisnis mereka lancar, dia yakin helikopter akan mondar mandir di kawasan hutan Rinjani. ”Itu akan sangat berpengaruh terhadap flora dan fauna di Rinjani,” katanya.

Dari sisi estetika, aktivitas glamping dan heli tourism di Gunung Rinjani juga tidak elok. ”Dia akan merusak estetika di Rinjani,” katanya.

Gunung Rinjani, kata Stuk, bukan saja tempat wisata pendakian, tapi rinjani punya makna mendalam bagi masyarakat Lombok. ”Di sana tempat orang beribadah, meditasi, dan kegiatan adat budaya lainnya,” katanya.

Jika ada aktivitas heli tourism lalu lalang, masyarakat pasti akan terganggu. ”Ketenangannya akan hilang,” katanya.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB Kusnadi mengatakan, pembangunan glamping akan menggunakan sisi dalam kaldera Gunung Rinjani. ”Saya belum tahu dia sudah melakukan feasibility study atau tidak untuk pemanfatan lahan,” katanya.

Dia meminta sebelum proyek itu dijalankan, harus dilakukan kajian mendalam berapa luas lahan dan dampak secara ekologi. ”Harus dipertimbangkan,” katanya.

Khusus untuk helikopter, dari sisi geologi tidak terlalu berdampak, sebab mereka tidak menggunakan lahan terlalu banyak. ”Tapi yang jadi masalah dari sisi ekologi,” katanya.

Dari sisi ekologi harus dikaji, apakah hutan dengan segala kekayaan flora dan fauna di sana tidak terganggu. ”Terutama fauna ya, burung, primata apakah terganggu atau tidak nanti di sana,” katanya.

Di sisi lain, meski heli milik Airbus sedikit menggunakan lahan namun dia akan tetap memanfaatkan lahan untuk tempat mendarat. ”Ini juga harus diperhatikan,” katanya.

Direktur PT Rinjani Glamping Indonesia Disyon Toba menjelaskan, pembangunan fasilitas glamping akan menggunakan tenaga kerja lokal. ”Kami akan menggunakan tenaga lokal semua,” katanya.

Dia memastikan, usaha glamping tidak akan menggangu TO yang sudah ada di sana. Sebab, mereka akan membidik pasar berbeda.

Untuk heli tourism, kata Disyon, itu akan disediakan operator lain, salah satunya PT Airbus Helicopters Indonesia. ”Kami fokus pada akomodasinya, helinya disediakan Airbus, kami akan kerja sama,” katanya.

Meski belum memulai proses izin, namun Sales Manager Corporate PT Airbus Helicopters Indonesia Sussy Kusumawardhani dalam presentansi di Balai TNGR menjelaskan, pihaknya menargetkan uji coba Desember 2020.

Jenis helikopter yang digunakan adalah Eurocopter EC130. Helikopter ini aman untuk medan pegunungan. Mereka bisa mendarat di mana saja tanpa harus membangun helipad. ”Kami tidak mungkin menggunakan heli yang tidak sesuai peruntukkannya,” kata dia. (ili/r5)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 10 April 2020 13:07

Gubernur Kepri Divonis 4 Tahun

JAKARTA- Gubernur Kepulauan Riau (nonaktif) Nurdin Basirun divonis bersalah oleh…

Jumat, 10 April 2020 12:54

Tangani Pendemi Covid-19, Kawasan Perbatasan Punya Gugus Tugas Khusus

JAKARTA- Daerah perbatasan sebagai salah satu pintu masuk negara menjadi…

Jumat, 10 April 2020 12:49

200 Orang Jamaah Umrah dan Overstayer Dipulangkan Saudi

JAKARTA –Pemerintah Indonesia tidak menyia-nyiakan fasilitas pemulangan jamaah umrah oleh…

Jumat, 10 April 2020 12:47

Saat Penyebaran Virus Covid-19, Kejahatan dan Gangguan Kamtibmas Menurun

JAKARTA— Pandemik virus Covid 19 berdampak pada penurunan kejahatan di…

Jumat, 10 April 2020 12:36
Mereka yang Bertarung Melawan Covid-19 dan Berhasil Sembuh

Semangat Sembuh saat Ingat Masa Depan Anak

Merasa kurang nyaman menyebutkan identitas pribadinya, perempuan ini meminta namanya…

Jumat, 10 April 2020 12:34

Pandemi Corona, OPM Janji Menahan Diri, Minta TNI Tarik Pasukan Organik

JAKARTA - Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang menamai diri…

Jumat, 10 April 2020 12:32

Mendes Minta Kepala Daerah Proses Pengajuan Dana Desa Maksimal Seminggu

JAKARTA - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes…

Jumat, 10 April 2020 12:16

Pengadaan Barang Penanganan Covid-19 Boleh Swakelola

JAKARTA– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta pengguna anggaran (PA) tidak…

Jumat, 10 April 2020 11:21
Mereka yang Bertarung Melawan Covid-19 dan Berhasil Sembuh

Baru Diobati Sepuluh Hari setelah Merasakan Gejala

Ok ayi 10/4 FOTO EGA YG KEPALKAN TANGAN   Berada…

Jumat, 10 April 2020 00:19

Dampak Corona, Ketua Komisi I DPR RI Minta Pemerintah Juga Beri Insentif ke Perusahaan Pers

JAKARTA- Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid meminta agar perusahaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers