MANAGED BY:
KAMIS
02 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Rabu, 19 Februari 2020 12:22
Tensi Politik Kamerun Meningkat
BENUA AFRIKA: Aparat keamanan Kamerun siaga pasca-tragedi pembantaian di Desa Anglophone.

PROKAL.CO, YAOUNDE–Tensi politik selepas Pemilu 9 Februari di Kamerun terus meningkat. Kelompok pria bersenjata dilaporkan membantai 22 penduduk desa di wilayah minoritas negara itu, pekan lalu. Sebanyak 14 korban tersebut merupakan anak-anak.

Tragedi itu dilaporkan Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). Lembaga kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyatakan, pembunuhan itu terjadi di Desa Anglophone yang dihuni komunitas berbahasa Inggris.

“Setidaknya 22 warga sipil dibunuh, termasuk perempuan hamil,” ungkap James Nunan, petugas lokal OCHA kepada Agence France-Presse. Menurut salah satu saksi, seperti dilansir Agence France-Presse, para korban tersebut dikubur di empat lokasi.

Saksi yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku ikut membantu kelompok bersenjata itu mengubur jenazah korban. Setelah itu, kelompok tersebut membakar sembilan rumah di desa tersebut.

Hingga berita ini dibuat, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Namun, kelompok oposisi langsung menuding pemerintah sebagai otak di balik pembantaian itu.

“Itu adalah perbuatan dari pasukan militer pemerintah,” ujar Direktur Centre for Human Rights and Democracy in Africa Felix Agbor Mballa, pengacara dan pegiat separatis Kamerun dalam akun Facebook-nya.

The Movement for the Rebirth of Cameroon, salah satu di antara dua partai oposisi Kamerun, ikut menuding rezim Paul Biya sebagai aktor utama pembantaian tersebut. Mereka menyimpulkan hal itu karena penduduk desa tersebut merupakan Anglophone.

Pemerintah Kamerun belum memberikan komentar, sedangkan pejabat militer hanya mengatakan bahwa tuduhan itu salah. “Siapa pun yang bertanggung jawab atas kejahatan mengerikan itu harus diadili,” ujar Mballa seperti dikutip Al Jazeera.

Warga Anglophone merupakan kelompok minoritas di Kamerun. Selain bahasa Inggris, ada yang menggunakan bahasa Prancis dalam kehidupan sehari-hari alias Francophone. Kelompok minoritas tersebut sering mengeluhkan diskriminasi yang diderita. Mereka mengumumkan kemerdekaan sebagai Ambazonia alias Amba Land pada 2017.

Hal tersebut berbuntut konflik antara pemerintah dan kelompok separatis hingga saat ini. Konflik itu ikut menggeret penduduk sipil. Selama tiga tahun, setidaknya 3 ribu penduduk tewas dan 700 ribu lainnya melarikan diri dari rumah masing-masing.

Tapi, Kamerun bukanlah satu-satunya negara di Afrika yang bergejolak. Minggu (16/2), kelompok bersenjata membunuh 24 warga sipil, termasuk pastor gereja, dan melukai 18 lainnya di Kota Pansi, Provinsi Yagha, Burkina Faso.

Kelompok tersebut juga menculik tiga warga sipil. ”Hati saya perih melihat para korban,” ujar Sihanri Osangola Brigadie, kepala komuni Boundore kepada Associated Press.

Pemimpin agama memang menjadi target kelompok bersenjata akhir-akhir ini. Pekan lalu, seorang pastor yang sudah pensiun dibunuh di provinsi yang sama. “Pelaku menggunakan koneksi dengan pemerintah atau agama yang dianut sebagai alasan pembunuhan mereka,” ujar Corinne Dufka, direktur Human Rights Watch Afrika Barat Watch.(bil/c11/dos/jpg/kri/k8)

 

loading...

BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers