MANAGED BY:
MINGGU
29 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 19 Februari 2020 12:04
Makam Dibongkar, Bawa Tulang ke Jakarta

Cari Penyebab Kematian, Hampir 90 Menit Autopsi Jasad Jusuf

PROKAL.CO, Jasad Yusuf Ahmad Gazali digali dari kuburnya kemarin (18/2). Untuk dilakukan autopsi. Namun hingga sekarang teka-teki kematian bocah itu masih belum terpecahkan.

 

SAMARINDA – Garis polisi dipasang di area makam. Puluhan polisi berseragam lengkap berjaga di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslimin Damanhuri, Samarinda. Kemarin, dokter forensik dari Mabes Polri diturunkan. Diminta untuk memeriksa jasad Yusuf Ahmad Gazali, balita yang ditemukan tanpa kepala dan organ tubuh tak lengkap pada 8 Desember 2019 lalu.

Apakah nyawa Yusuf dihabisi. Atau diculik, dan organ tubuhnya diambil untuk diperjualbelikan. Semuanya masih tanda tanya. Namun, Polsek Samarinda Ulu sudah menetapkan dua tersangka, Marlina (28) dan Sri Supramayanti (51) dalam kasus hilangnya Yusuf yang berujung ditemukan di anak Sungai Mahakam beberapa bulan lalu.

Keduanya yang merupakan guru PAUD Jannatul Athfaal dijerat Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian sampai menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun, teka-teki penyebab kematian Yusuf Ahmad Gazali masih belum terjawab. Demi mengusut penyebab kematian, autopsi bocah berusia 4 tahun itu dilakukan (18/2).

Penyebab hilangnya putra dari Bambang Sulistyo dan Melisari pada 22 November 2019 lalu itu belum diketahui. Bocah yang dikenal kedua orangtuanya selalu enggan bersentuhan dengan air itu ditemukan 16 hari setelah dikabarkan hilang. Yusuf ditemukan dalam kondisi tak utuh.

Jaraknya ditemukannya dengan lokasi PAUD cukup jauh, yakni 4 kilometer. Dugaan sementara, balita malang itu terperosok ke saluran pembuangan. Namun, oleh Bambang Sulistyo, ayah kandung almarhum Yusuf, hal itu sulit diterima.

Autopsi menjadi permintaan pasangan suami-istri tersebut, untuk mengetahui penyebab kematian anak ketiganya itu. Permintaan diamini kepolisian. Autopsi dilakukan kemarin. Mulai pukul 09.00 Wita, hingga 10.16 Wita. Tepat di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslimin, Jalan Damanhuri, Sungai Pinang.

Gundukan tanah tempat bersemayamnya Yusuf dibongkar. Pengawalan ketat dilakukan. Polisi bersenjata lengkap turut hadir menjaga selama proses autopsi dilakukan. Bambang Sulistyo, ayah kandung korban, bersama keluarganya hadir didampingi tim kuasa hukum.

Sedangkan Melisari, ibunda Yusuf, masih berada di Jakarta. Masyarakat yang sekadar melintas pun turut dibuat penasaran dengan aktivitas tertutup itu. Dan hanya bisa melihat dari balik garis polisi.

Selain aparat kepolisian, petugas perwakilan Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda serta keluarga hadir di lokasi kejadian. “Sesuai laporan polisi pada 23 November 2019, kami sudah melakukan penyelidikan dan meningkatkan penyidikan,” ucap Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu Ipda M Ridwan saat memimpin pembongkaran makam.

Berdiri di atas makam, Ridwan membacakan putusan kalau rangkaian autopsi kemarin merupakan kesepakatan pihak keluarga. “Ada permintaan autopsi lanjutan. Kami dari kepolisian akan melakukan bersama tim dari Mabes Polri,” imbuhnya.

Sebelum dibongkar, kata Ridwan, serah terima dan penyitaan kuburan mendiang Yusuf dianggap sesuai prosedur kejaksaan. “Apakah benar ini kuburan dari Yusuf?” tanya Ridwan ke Bambang. “Karena benar makam yang bersangkutan, maka dimulai proses pembongkaran. Dan diminta bagi yang tidak berkepentingan untuk menjauh dari area,” ujarnya.

Makam balita tersebut berada di perbukitan. Nisannya masih kayu. Nama Yusuf masih titik-titik putih yang diukir khusus. Sebelum dibongkar, dokter forensik terbaik se-Asia, AKBP dr Sumi Hastry SpF itu sempat berdiri di depan makam anak ketiga pasangan Bambang dan Melisari itu.

Di balik kacamata riben hitam, perempuan kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970 itu menatap tajam. Bibir tipisnya sedikit bergerak. Menggunakan sepatu Under Armour hitam, langkah kaki Hastry saat menuruni anak tangga cukup pelan. Sesekali wajahnya berpaling ke liang lahat Yusuf.

Namun, ia tetap melempar senyum dengan orang yang menegur dirinya. Tak perlu waktu lama, kurang dari 25 menit, dua petugas kepolisian membawa turun jasad Yusuf menggunakan kantung jenazah kuning.

Kain cokelat gelap dipasang mengelilingi pondok di area makam. Ditambah kain putih. Sehingga, tak seorang pun melihat dari luar. Di balik kain, selain dr Sumi Hastry Spf, terdapat Kapolresta Samarinda Kombes Arif Budiman dan tim dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Kaltim.

Hestry mengenakan pakaian berbahan plastik untuk melindungi baju yang dikenakan. Tak lupa mengenakan masker.

Dikit demi dikit bagian tubuh Yusuf yang tersisa diperiksa. Autopsi berlangsung kurang dari 90 menit. Arif menuturkan, untuk hasil autopsi tak bisa diketahui secepatnya. Beberapa sampel, berupa tulang dibawa ke Mabes Polri untuk memeriksa penyebab kematian. “Persendian tulang leher yang dibawa untuk sampel pemeriksaan,” tuturnya.

Ditemui setelah memeriksa tubuh Yusuf yang mayoritas sisa tulang-belulang, perempuan yang malang melintang di dunia forensik itu tak ingin banyak bicara. “Ke Pak Arif (Kapolresta Samarinda) saja ya,” ucapnya diikuti senyuman. “Enggak sulit, semua lancar,” sambungnya. Ia dikawal ketat menuju mobil yang digunakannya selama di Kota Tepian.

LIBATKAN ANJING PELACAK

Demi mengungkap teka-teki kematian putra bungsu Bambang Sulistyo dan Melisari, Polresta Samarinda tak hanya melakukan autopsi saja. Sekitar pukul 17.30 Wita, petugas Unit Satwa K-9 Direktorat Samapta Polda Kaltim mencari tahu jejak terakhir yang dilalui Yusuf, menggunakan anjing pelacak. Bambang Sulistyo pun hadir saat melakukan pencarian jejak terakhir putranya.

Pencarian dimulai dari halaman PAUD Jannatul Athfal. Sepatu yang kerap dikenakan Yusuf diendus anjing pelacak. Langkah langsung mengarah ke luar pagar. Tujuannya parit yang berada 20 meter dari halaman PAUD.

Anjing pelacak juga mengarah ke parit yang berada di sisi kiri Jalan AW Sjahranie menuju Jalan Ir Juanda, dan berhenti tepat di depan Kantor Kelurahan Gunung Kelua.

Pawang Unit Satwa K-9 Direktorat Samapta Polda Kaltim Briptu Kornelius Tappy menerangkan, pelacakan sebenarnya juga telah dilakukan 30 menit sebelumnya. Hasilnya pun masih sama, yakni mengarah ke parit depan PAUD Jannatul Athfaal.

“Sebelumnya sudah (pelacakan), namun orangtua Yusuf belum datang. Setelah diulang, hasilnya juga sama. Bahkan sebelumnya berjalan hingga 500 meter dan ingin masuk ke parit tapi saya tahan,” terang Kornelius.

Dia menyebut, jika ada indikasi penculikan dan melewati jalan raya, anjing pelacak akan mengarah ke jalan. “Kalau ditanya seberapa percaya dengan hasil anjing, ya saya percaya. Sudah ada enam kasus yang terungkap dari pelacakannya,” jelasnya.

Wakasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Muhammad Aldy Harjasatya juga sejurus dengan pernyataan Kornelius. “Dari hasil pelacakan sebanyak dua kali menunjukkan hasil yang sama, mengarah ke parit. Hasil itu akan menjadi bukti tambahan kami,” singkatnya.

Sementara itu, Bambang Sulistyo masih belum bisa meyakini sepenuhnya. Bapak tiga anak tersebut masih menunggu hasil autopsi. “Saya belum dapat bukti yang nyata, karena belum ada bukti soal anak saya tercebur. Saya tunggu hasil autopsi saja,” pungkasnya. (dra/*/dad/rom/k18)

Mengurai Benang Kusut Kasus Yusuf

 

Beberapa spekulasi muncul tentang kematian Yusuf Ahmad Gazali, balita yang lolos dari pengawasan guru PAUD Jannatul Athfaal dan ditemukan meninggal dengan organ tubuh tak utuh. Berjalannya waktu, keluarga meminta autopsi untuk mencari kejelasan.

 

8 Desember 2019

Jasad Yusuf ditemukan warga Jalan Pangeran Antasari II, Gang 3, RT 30, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Samarinda Ulu. Kondisinya baju masih menempel, namun kedua tangan, kaki, dan kepala menghilang.

 

9 Desember 2019

Satreskrim Polresta Samarinda melalui tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) melakukan pra-rekonstruksi di PAUD Jannatul Athfaal.

 

10 Desember 2019

Kapolresta Samarinda Kombes Arif Budiman mendatangi lokasi kejadian untuk turun memperhatikan kondisi tempat kejadian perkara.

 

23 Januari 2020

Polresta Samarinda bersama dokter forensik RSUD AW Sjahranie, Kristina Uli Gultom menjelaskan kepada awak media bahwa tak ada tanda-tanda bekas kekerasan dari hasil visum dan pemeriksaan DNA.

 

18 Februari 2020

Autopsi dilakukan di TPU Muslim Jalan Damanhuri, Sungai Pinang. Proses pemeriksaan dilakukan langsung di area pemakaman. Namun ada bagian tulang yang dibawa ke Mabes Polri untuk dilakukan pemeriksaan mendalam.

 

Penjelasan Kepolisian

• Hasil pemeriksaan pertama, dokter forensik RSUD AW Sjahranie menyatakan tidak ada temuan bekas penganiayaan di tubuh Yusuf.

• Sekitar 200 meter dari PAUD tempat Yusuf dititipkan, tepatnya di saluran air (parit) ada besi yang sejatinya sulit untuk dilewati manusia. Namun, rupanya ada celah 40 sentimeter ke dalam air.

• Polisi sudah menetapkan dua tersangka dari kasus kelalaian, yakni guru pengasuh. Marlina (28) dan Sri Supramayanti (51).

 

Sumber: Polresta Samarinda


BACA JUGA

Sabtu, 28 Maret 2020 19:55

Sudah 17 Kasus Covid-19 di Kaltim, Balikpapan Terbanyak

SAMARINDA - Kasus pasien positif terjangkit virus Corona covid-19 di…

Sabtu, 28 Maret 2020 11:34

Kasus Positif Tembus 1.000 Orang

JAKARTA---  Jumlah  pasien yang positif terinfeksi virus Covid-19 akhirnya menembus…

Sabtu, 28 Maret 2020 00:57

Usai Perjalanan Malang-Surabaya, Seorang Dokter di Kaltim PDP Covid-19

SAMARINDA - Seorang berprofesi dokter masuk kategori Pasien dalam pengawasan…

Jumat, 27 Maret 2020 15:04

Pemprov DKI Jakarta Sediakan Hotel untuk Tenaga Medis

Pemprov DKI Jakarta mengambil sejumlah langkah besar untuk mengatasi pandemi…

Jumat, 27 Maret 2020 15:02

Kaltim Terima 2.400 Rapid Test, Utamakan Paramedis dan Keluarga Pasien

SAMARINDA–Laju pertambahan jumlah pasien positif corona atau Covid-19 di Kaltim…

Jumat, 27 Maret 2020 14:58

Pemerintah Harus Tegas Larang Mudik

JAKARTA – Lebaran masih dua bulan lagi. Namun, kondisi Jakarta…

Jumat, 27 Maret 2020 14:55
Diatur Bandar Tawau, Berau Lokasi Transit

Diupah Rp 10 Juta, Dua Kurir 10 Kg Sabu Diancam Hukuman Mati

SAMARINDA–Modus pengedar sabu-sabu dari hari ke hari kian beragam. Namun,…

Jumat, 27 Maret 2020 14:48

Cerita dr Dimas Satrio Baringgo yang Menangani Pasien Covid-19

Wabah virus Covid-19 menjadi ancaman yang mengerikan. Social distancing pun…

Jumat, 27 Maret 2020 14:21

Pandemi Corona, AS Kucurkan Dana Terbesar Sepanjang Sejarah, Warganya Panik dan Antre Beli Senjata

Beberapa negara mengucurkan bantuan besar-besaran untuk mengatasi pandemi Covid-19. Pada…

Jumat, 27 Maret 2020 13:49
Beredar Rekaman Suara Bupati PPU soal Lockdown

Lockdown di PPU..? Ternyata Ini Kata Bupati PPU

Ada isu lockdown diberlakukan di Penajam Paser Utara. Sontak warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers