MANAGED BY:
KAMIS
02 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 18 Februari 2020 12:34
Sulitnya Mencari Masker di Hong Kong saat Wabah Virus Corona Merebak

Berharap Kiriman dari Indonesia, Belajar-mengajar di Sekolah Diliburkan

PROKAL.CO, Pada 23 Januari, awak Kaltim Post mendarat sempurna di Hong Kong International Airport. Siapa sangka, pada hari itu pula, pemerintahan setempat mengumumkan kepada seluruh warganya mesti mengenakan masker atau pelindung wajah ketika beraktivitas di luar rumah.

 

DWI RESTU, Hong Kong

 

BURUNG besi Garuda Indonesia itu tak terlalu ramai. Cukup banyak kursi yang kosong. Perjalanan selama hampir enam jam dari Jakarta menuju Hong Kong sungguh tak terasa dengan dua film yang ditonton.

Jika biasanya setiap perayaan Imlek negara dengan mayoritas etnis Tionghoa ramai dikunjungi, tapi tahun ini, bagi Hong Kong tidak. Apa penyebabnya?

Mayoritas masyarakat sudah tahu, Hong Kong bagian dari Tiongkok. Jaraknya memang tak begitu dekat dengan Wuhan, Hubei. Sekitar 919 kilometer dari pusat kota Negara Mutiara dari Timur.

Namun, Wuhan merupakan daerah titik awal munculnya virus corona (Covid-19). “Anda beruntung masih kebagian tempat. Tahun ini (Imlek), jauh dari harapan,” ucap Wong Sai Tak. Pria yang menyewakan penginapannya di kawasan Causeway Bay. Baginya bukan masalah besar. Ramai atau tidak, Hong Kong tak berubah.

Agenda tahunan banyak dibatalkan. Turis banyak yang gigit jari. Harapan menjadi bagian dari perayaan Imlek 2020 di Hong Kong sirna. Sejumlah tempat liburan yang sejatinya menjadi pundi-pundi keuntungan, banyak yang terpaksa diminta tutup oleh pemerintah. “Ya itu, karena wabah (Covid-19),” ujar pria yang pernah tinggal di Indonesia itu.

Penginapan Wong berada di Great George Street, Causeway Bay. Tepatnya di Paterson Building, lantai 12. Begitu tiba, Wong langsung menyerahkan sobekan amplop. Isinya tiga lembar masker biru. “Anda harus pakai. Di sini (Hong Kong) sudah lima yang terpapar virus,” ucapnya kala itu.

Namun, dia tampak santai. Sejatinya, itu tentu membuat cemas. Semula biasa saja, setelah mendengar virus itu mematikan, seketika itu pula nyawa seperti di ubun-ubun. Keluar penginapan, Wong menyarankan untuk selalu mengenakan masker. “Ingat bahayanya,” pesannya.

Dijadwalkan selama enam hari di Hong Kong, tiga lembar masker tentu tidak cukup. Awak harian ini keluar. Mendatangi beberapa gerai toko obat. “Sold out”. Begitu rata-rata jawaban dari beberapa tempat yang saya kunjungi.

Kabar buruk Covid-19 bertambah kala Wong menyebut pasien di Hong Kong bertambah. Rumah sakit setempat juga tak diperbolehkan ada keluarga yang menjaga. Bahkan menghentikan sementara jengukan. Untuk mengetahui perkembangan pasien, keluarga hanya diperkenankan menghubungi lewat handphone. “Pemerintah tentu ingin yang terbaik untuk rakyatnya,” ujar Wong.

Toko ke toko saya datangi. Minimarket pun kehabisan stok. Termasuk toko obat. Mencari masker cukup sulit saat harian ini bertandang ke Hong Kong. Rupanya, badai belum berlalu hingga hari ini. Beruntung pada 28 Januari, kembali ke Indonesia dengan selamat. Thermal Scanner di Bandara Soekarno-Hatta menyatakan suhu tubuh aman dari Covid-19.

Kelangkaan masker justru berlanjut hingga sekarang. Itu dibenarkan dengan Diah Ayu Puspitasari, kerabat yang tinggal di kawasan Yang Ming, Hong Kong.

Sudah tiga tahun bekerja menjadi asisten rumah tangga (ART). Dia memang tak begitu cemas dengan virus tersebut. Pasalnya, tidak diperkenankan keluar rumah oleh sang majikan. “Bukan perkara diperlakukan seenaknya, kan demi kesehatan. Saya merasa aman kok,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Diah tak begitu risau. Risikonya tinggi jika harus beraktivitas di luar. “Dua anak majikan saya masih kecil. Sangat rentan,” ucapnya. Namun, dia bukan selamanya berada dalam rumah. Sesekali harus keluar untuk mencari perlengkapan rumah dan bahan makanan.

Sehari sebelum komunikasi dengan Diah, tepatnya dua hari lalu, perempuan asal Malang, Jawa Timur, itu keluar rumah. Mencari masker. Namun, pulang dengan tangan hampa. Seluruh tempat pusat perbelanjaan kehabisan. Masker bak orang sakit stadium akhir. Masih ada harapan tapi langka. “Saya telepon keluarga di Jawa, ternyata kesulitan juga (masker),” ungkapnya.

Selain makanan, masker jadi barang utama yang wajib dimiliki dan digunakan seluruh warga. Termasuk pekerja asal Indonesia. Meski hingga kini, belum ada satu orang Indonesia yang dinyatakan meninggal karena terpapar Covid-19. Jenis apapun bentuk masker, sangat sulit ditemukan. Diah tak ingin Hong Kong bernasib sama seperti Wuhan, kota yang kini lebih dikenal dengan zombie land. Aktivitas warganya yang tidak diperkenankan di luar rumah.

Dipaparkan Diah, di Hong Kong baru satu orang yang dinyatakan meninggal akibat virus tersebut. Aktivitas masyarakat seperti perkantoran dan sekolah diliburkan. Hingga pertengahan Maret nanti. “Tapi itu lihat situasi dan kondisinya lagi. Kalau masih parah, mungkin bisa diperpanjang,” ujarnya. “Kalau pekerja yang di swasta masih tetap bekerja. Bank ada yang buka, tapi ada yang tutup. Majikan saya saja cukup kesulitan ambil uang,” sambungnya.

Dia tak pernah membayangkan kondisinya seperti sekarang. Banyak warga justru membeli bahan makanan dan perlengkapan rumah tangga untuk jangka waktu cukup lama. Masih saat dua awak harian ini bertandang ke Hong Kong menjelang perayaan Imlek lalu. Pemerintah setempat masih memberlakukan penghentian sementara menjenguk keluarga yang sakit di rumah sakit. “Meski itu belum tentu sakit karena corona,” ungkapnya.

Langkanya penggunaan masker memang berdampak buruk. Mencari hingga keluar Hong Kong, lanjut Diah, juga permintaan tolong sang majikan. “Majikan saya sering aktivitasnya di luar rumah,” bebernya. Sekarang, harga satu kotak dengan isi 50 lembar masker, harganya mencapai 150 HKD. Bila dirupiahkan sekitar Rp 264 ribu. (rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 01 April 2020 20:16

Makin Bertambah, Positif Corona Transmisi Lokal di Balikpapan

SAMARINDA - Penularan covid-19 di kota Balikpapan melalui transmisi lokal…

Rabu, 01 April 2020 14:55

DPR Tolak Darurat Sipil, Pemerintah Klarifikasi Darurat Sipil Bila Kondisi Memburuk

JAKARTA– Kebijakan darurat sipil memang diumumkan untuk mendampingi kebijakan Pembatasan…

Rabu, 01 April 2020 13:11

Akibat Covid-19, Orang Miskin Bisa Bertambah 11 Juta

JAKARTA– Belum usai pulih dari ketegangan perang dagang, badai ekonomi…

Rabu, 01 April 2020 12:46

Akhirnya, WNA Dilarang Masuk Indonesia

JAKARTA– Meningkatnya jumlah penderita Covid-19 membuat pemerintah mengambil kebijakan radikal…

Rabu, 01 April 2020 11:33

Perempuan Meninggal Diduga Karena Corona di Balikpapan, Ini Penjelasan Kadinkes Kaltim

SAMARINDA - Seorang pasien perempuan diduga terinfeksi virus Corona meninggal…

Selasa, 31 Maret 2020 19:23

Pasien Positif Corona di Balikpapan Sudah 15 Orang

SAMARINDA - Jumlah pasien positif virus Corona covid-19 di kota…

Selasa, 31 Maret 2020 15:46

Jalan Poros Ditutup, Siapkan Jam Malam

Pada Kamis, 2 April nanti, Pemkot Samarinda dijadwalkan akan melakukan…

Selasa, 31 Maret 2020 15:43

Beberapa Daerah di Kaltim Matangkan Pertimbangan Karantina Wilayah

BAIK lockdown atau karantina wilayah untuk menangani pandemi Covid-19 bukanlah…

Selasa, 31 Maret 2020 15:42

Pasien Covid-19 Meninggal, Keluarga Ikhlas

PONDOK Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Al Ikhsan Banjarmasin berduka. Pimpinan…

Selasa, 31 Maret 2020 15:39
Pereng Taliq, Daerah Penyangga IKN yang Masih Terbelakang (4-Habis)

Tarik Minat Anak Sekolah, Potensi dari Padi Gunung

Akses penghubung Penajam Paser Utara (PPU) ke Kutai Barat (Kubar)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers