MANAGED BY:
RABU
08 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Sabtu, 15 Februari 2020 11:38
Sempat Adem, Konflik AS-Iran Belum Usai
Pasukan AS di Iraq

PROKAL.CO, WASHINGTON  – Masalah antara pemerintah AS dan Iran belum tuntas. Pekan ini, konflik yang berkaitan antara dua negara tersebut terus muncul. Kamis (13/2), sebuah roket jatuh di markas militer di Provinsi Kirkuk. Menurut Agence France-Presse, roket Katyusha tersebut jatuh di area terbuka markas K1 pukul 20.45. Untung, tidak ada korban luka atau jiwa dari serangan tersebut.

Markas K1 pernah menjadi sasaran roket pada 27 Desember lalu. Sebanyak 30 roket jatuh dan menewaskan satu kontraktor AS. Hal itu akhirnya menjadi akar ketegangan antara AS dan Iran. Ketegangan tersebut baru berakhir setelah Iran menyerang dua markas militer AS di Iraq dengan rudal balistik Januari lalu.

Pemerintah AS belum memberikan komentar terkait serangan roket terbaru. Namun, Iran sudah memberi peringatan. Kepala Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Hossein Salami mengatakan, AS maupun sekutu erat Israel harus berhati-hati. ”Sedikit saja kesalahan, kami akan menyerang Anda berdua,” ungkapnya saat berpidato memperingati 40 hari kematian Jenderal Qasem Soleimani.

Tewasnya Soleimani merupakan awal dari puncak konflik Iran-AS. Dia dibunuh dengan drone AS 3 Januari lalu dengan alasan bahwa pemimpin Quds Force itu sedang menyusun rencana menyerang Kedubes AS di Iraq. Iran mengatakan siap memulai perang sebelum akhirnya dipaksa mundur karena salah menembak pesawat komersial milik Ukraine International Airlines (UIA).

Pada hari yang sama, Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa mereka menyita senjata yang asal Iran. Kapal Perang AS menemukan antara lain 150 rudal anti tank dan tiga rudal darat ke udara di dalam dhow, kapal tradisional, pada Minggu (9/2). ”Senjata yang kami sita serupa dengan senjata yang pernah ditemukan November lalu,” kata pernyataan resmi Angkatan Laut AS.

Sementara itu, Senat AS baru saja meloloskan resolusi Iran War Powers. Resolusi tersebut meminta pemerintah untuk meminta izin kongres sebelum melakukan aksi perang. Sebanyak 55 senator, termasuk 8 anggota Republik, mendukung resolusi tersebut.

Presiden Donald Trump sudah meminta Republik bisa menggagalkan resolusi tersebut. Menurut dia, aturan itu hanya akan menjadi penghalangnya melakukan hal yang diperlukan bangsa AS. ”Iran akan senang jika tangan saya terikat,” ungkap Trump seperti yang dilansir CNN.

Pada akhirnya, Gedung Putih memveto resolusi tersebut. Namun, Pemimpin Kelompok Minoritas Senat AS Chuck Schumer mengatakan, resolusi tersebut masih punya arti meski akhirnya tak bisa diberlakukan. ”Ini seperti panah yang diarahkan kepada Gedung Putih. Baik senat maupun dewan perwakilan tegas mengatakan bahwa mereka perlu dimintai pertimbangan sebelum presiden memulai perang,” ungkapnya. (bil/c25/dos)


BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers