MANAGED BY:
MINGGU
05 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Rabu, 12 Februari 2020 11:23
Generasi Alpha, Dekat dengan Digital, Lebih Kreatif
KOMUNIKASI: Membangun komunikasi dan keterbukaan adalah hal positif yang bisa diterapkan kepada anak. Hal ini penting. Tak sekadar melarang atau menggurui. Anak perlu alasan spesifik.

PROKAL.CO,

Anak-anak yang lahir dan dekat dengan teknologi masa kini dikenal sebagai generasi Alpha. Menghadapi banyak hal dan tantangan baru. Peran orangtua dibutuhkan demi mengarahkan anak tetap sesuai porsinya. Karakteristik anak harus diketahui. Sekaligus membantunya untuk memilih jalan masa depan.

 

PADA dasarnya, generasi Alpha adalah sebutan bagi mereka yang lahir antara 2010 sampai saat ini. Tak dapat dimungkiri, teknologi mutakhir terus bermunculan sejak mereka lahir. Membuat generasi ini turut mengetahuinya sejak dini. Disampaikan Lisda Sofia, psikolog klinis, perkembangan teknologi sangat memengaruhi tumbuh kembang dan perilaku anak. Sebenarnya, tak hanya generasi Alpha yang melek teknologi. Generasi sebelumnya seperti Y dan Z juga tahu. Kecenderungan menggunakan gawai justru tak datang dari generasi Alpha. Melainkan generasi Y.

Dijelaskan Lisda, orangtua generasi Y adalah baby boomers. Ketika digital datang, jadi hal baru bagi mereka. Sementara orangtua dari generasi Alpha adalah generasi Y. Jadi, mereka lebih paham dan bijak ketika harus mengenalkan perihal gawai ke anak-anaknya, generasi Alpha. Lisda menyebut, generasi Alpha sudah lebih seimbang antara gawai dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. Masalah kecanduan gawai atau gim justru dialami generasi Y.

“Memang harus ada perubahan paradigma dan itu sudah saya lihat. Dulu serba dilarang. Kalau sekarang, paradigmanya ya lebih bijak menggunakan gawai. Makanya ada batas minimal di mana anak bisa menggunakan,” jelas Lisda ditemui awal pekan lalu.

Idealnya, anak dikenalkan gawai saat usia TK. Durasi maksimal satu jam dibarengi pendampingan orangtua. Konten-konten yang diakses harus mengedukasi. Namun, dewasa ini banyak anak di bawah lima tahun mulai bisa menggunakan gawai. Baiknya dihindari. Lisda turut mengamati kalau selama dua tahun ke belakang, ada sesuatu yang menghambat sebagian siswa TK saat ingin lanjut ke SD. Perkembangan motorik halus saat menulis. Agak kaku. Bisa diasumsikan jika ini disebabkan terlalu sering memegang gawai.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 22 Juni 2020 18:26

Latihan Teknik Atlet Bergantung Cabor

SELAMA pandemi, seluruh atlet Kaltim khususnya yang disiapkan untuk Pekan…

Senin, 22 Juni 2020 18:24

Olahraga Kala Corona, Patuhi Aturan, Terapkan Protokol Kesehatan

Tubuh yang sehat tak ternilai harganya. Oleh sebab itu, olahraga…

Senin, 22 Juni 2020 18:20

Olahraga Sehat, Aman, dan Nyaman

OLAHRAGA lari dan sepeda kembali tren sekarang. Semua kalangan usia…

Senin, 22 Juni 2020 18:19

Paket Sesuai Selera, Hadirkan Rice Bowl Kenyang Nikmat

Selain enak, makanan yang sehat dan dijamin kebersihannya banyak dicari…

Senin, 22 Juni 2020 18:17

Pilihan Bento dan Jus Menyegarkan

SELAIN opsi rice bowl, tersedia juga rice box atau bento.…

Minggu, 14 Juni 2020 12:42

Ganggu Pernapasan hingga Potensi Kematian

SELAIN gejala di kulit, reaksi alergi juga pada saluran pernapasan.…

Minggu, 14 Juni 2020 12:41

Reaksi Alergi, Gatal dan Penyakit Seumur Hidup

Tiba-tiba muncul ruam kulit, kemerahan dan berujung gatal. Atau batuk-batuk…

Minggu, 14 Juni 2020 12:39

Nur Farikhin, Jungkir Balik Ajarkan Sukses

Tidak ada sukses sebelum jatuh bangun berkali-kali. Itulah yang dihadapi…

Rabu, 10 Juni 2020 11:27
Kisah Owner Produk Kecantikan Bd Yuni Esteticare

Uang Saku Kuliah jadi Omzet Miliaran

BERMODALKAN menyisihkan uang saku saat duduk di bangku kuliah, Yuni…

Senin, 01 Juni 2020 12:03

Diet Vegan, Sehat Konsumsi Nabati

Ada banyak jenis diet di dunia. Salah satunya diet vegan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers