MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Rabu, 12 Februari 2020 10:50
Solo Trip Ke Labuan Bajo
PECAHAN KORAL: Pink Beach yang selalu menawan hati. Pasirnya berpadu dengan pecahan koral merah muda.

PROKAL.CO, Oleh: Nofiyatul Chalimah

Apakah tidak susah perempuan solo travelling ke Labuan Bajo, NTT? Jawabannya tidak. Walau tak ada ojek online, tenang saja, wisata sudah terintegrasi dan serba mudah. Oktober 2019 lalu, saya solo travelling dari Samarinda ke Labuan Bajo.

 

MEMANFAATKAN promo potongan tiket pesawat dan mencoba Kapal Pelni yang tak buruk juga. Menghabiskan kurang dari Rp 4 juta, tiket pesawat dan Kapal Pelni, habis sekitar Rp 2 juta, sisanya akomodasi. Semua tiket dibeli melalui aplikasi travel online. Untuk jadwal kapal, bisa cek di website langsung atau unduh aplikasinya.

TIBA: Ketika Kapal baru saja merapat di Pulau Komodo.

Rute transportasi bermula dengan pesawat Balikpapan-Makassar. Kemudian Makassar-Labuan Bajo dengan Kapal Pelni yang berangkat pagi hari. Di Pelabuhan Makassar, sistemnya sudah modern. Tak boleh masuk tanpa tiket. Harus simpan kode booking dan print tiket di mesin self check-in yang tersedia. Lalu melapor ke petugas dan diperiksa lagi sebelum ke ruang tunggu kapal. Kemudian, kapal menuju Labuan Bajo selama 18 jam.

INDAH: Golden Hour di bukit-bukit Labuan Bajo.

Sampai di Labuan Bajo, jalan kaki menuju hostel yang sudah dipesan. Sekitar 500 meter sampai di Kampung Ujung, sesuai alamat hostel. Hari pertama, saya memesan paket one day trip. Banyak penjual paket trip di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta yang dekat pelabuhan. “One day trip harganya Rp 400 ribu sudah ke Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, dan Manta Point,” kata si bapak penjual.

Harga yang ditawarkan menurut saya lebih murah, dibanding penjual lain yang menjual paket one day trip hingga Rp 600 ribu. Sebenarnya, ada opsi lain living on board (LoB) alias selama 3 hari 2 malam tinggal di kapal. Tetapi, saya tidak minat.

Setelah itu, menyewa motor Rp 75 ribu sehari dan berkeliling Labuan Bajo. Berbincang dengan penduduk lokal, menikmati senja dengan latar bukit-bukit tandus bersanding laut biru. Lalu makan malam dengan cumi bakar segar Rp 40 ribu di Kampung Ujung dengan teman satu hostel, Lina, si gadis tutor olimpiade dari Jogjakarta.

Subuh hari kedua, ponsel terus berdering. Si bapak penjual trip sudah menelepon memastikan saya bangun. Berbekal makan siang dan alat snorkelling, saya diantar ke kapal. Ternyata, di kapal sudah banyak wisatawan yang berasal dari penjual paket trip berbeda-beda. Belum juga matahari benar-benar muncul, kapal sudah berlayar. Setelah tiga jam, kapal merapat di dermaga Pulau Padar. Ya Tuhan, puncaknya tinggi sekali dan cuacanya panas. Saya serasa tidak siap.

PESONA: Penulis mengabadikan momen di Puncak Padar.

 

“Ayo nona Kalimantan, masa kita kalah dengan bapak tua di atas,” kata anak buah kapal menyemangati. Sambil terengah-engah, sampai juga ke puncak. Dan wow, indah sekali. Saya pun meminta tolong Asa, seorang fresh graduate dari Jogjakarta untuk memotret saya. Kami pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Pink Beach. Pantai ini, memang berwarna pink. Sebab, pasir yang berpadu pecahan koral merah.

Setelah itu, menuju Pulau Komodo. Biaya masuk Rp 150 ribu. Dipandu ranger, menyusuri pulau. Bertemu komodo dewasa, hingga anak komodo. Ada momen bisa berfoto dengan komodo. Tetapi saya memilih tidak. Takut saja kalau dia berbalik arah.

Setelah itu, menuju Manta Point. Di kapal kami, hanya bapak pensiunan tentara Belanda dan mas-mas dari Swedia yang berani berenang bersama Manta. Kami hanya menyemangati dari kapal. Lalu, senja pun mulai datang, kapal mulai mengarah ke Labuan Bajo. Ya Tuhan indah sekali menikmati senja di atas laut.

DITEMANI RANGER: Ssst, jangan ribut ya. Biar enggak ganggu komodo yang lagi bersantai. Pastikan saat menjelajah pulau ditemani ranger (petugas jagawana).

 

Hari beranjak gelap, dan kapal merapat di dermaga. Bersama Asa, saya bergegas ke hostel dan mencari oleh-oleh. Asa terlibat tawar-menawar sengit dengan penjual kain tenun yang menjajakan kainnya di sepanjang Kampung Ujung. Sedangkan saya, sibuk memilih aneka kopi khas NTT di sepanjang toko.

Perjalanan di kota ini terhenti keesokan harinya. Dengan membayar ojek Rp 10 ribu, saya sudah sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Naik pesawat ke Makassar dan menginap semalam di sana. Lalu terbang ke Kaltim keesokan harinya. Memang, sebuah perjalanan singkat tapi telah dapat kesan memikat dari Labuan Bajo. (*/rdm)


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2012 07:25

Dirikan TK Annisa, Anak Usia Emas Jangan Ditekan

<div> <strong>PENAJAM &ndash;</strong> Pendidikan usia dini menjadi hal penting…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers