MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Rabu, 12 Februari 2020 09:55
Venzha Christ dan Proyek Astronomi Radio, Mengontak Alien dari Langit Jogjakarta
MENANGKAP SUARA: Venzha Christ dan teleskop radio bernama machine #6 buatannya bersama teman-teman. Alat itu diletakkan di ruang tamu rumah yang ada di daerah Mantrijeron, Jogjakarta. TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS

PROKAL.CO, Jika judul di atas terasa lucu, ketahuilah bahwa Search of Extraterrestrial Intelligence atau SETI saat ini adalah upaya internasional atau umat manusia untuk mengenal alam semesta. Venzha bersama dengan ISSS dan v.u.f.o.c mungkin termasuk sedikit orang Indonesia yang ikut serta di dalamnya.

 

TAUFIQURRAHMAN, Jogjakarta, Jawa Pos

 

VENZHA Christ mengeluarkan sebuah piringan hitam dari sampulnya. Sebuah album berjudul Electrocore AKR 002. Salah satu karya kebanggaannya sebagai seniman sekaligus musisi. Jika judulnya terdengar tidak biasa, isinya jauh lebih tak biasa lagi.

Venzha berkenan memperdengarkan isi album tersebut kepada Jawa Pos yang berkunjung ke rumahnya. Dua speaker besar disiapkan. ”Jangan kaget, ya,” katanya, memperingatkan. Piringan hitam diletakkan ke turntable dan jarum pun dijatuhkan.

Mulanya, terdengar suara kemeresek statis gelombang radio. Kemudian, gelombang statis tersebut mengeras seperti tertiup angin. ”Oke, sekarang lagu kedua,” kata Venzha, memindahkan jarum. Kemudian, terdengar lagi suara statis. Kali ini dengan pola aneh yang sulit dijelaskan. Mirip dengan desing laser atau pesawat luar angkasa yang sering terdengar di film science fiction.

”Lagu-lagu” yang diputar setelah itu tidak kalah aneh. Adakalanya suara kemeresek tersebut berubah menjadi ribut seperti desis kereta uap yang sedang lewat sangat dekat. Kemudian, di saat-saat lain, berdentam seperti entakan kaki kuda.

Meskipun tidak membikin kaget seperti yang Venzha peringatkan, suara kemeresek tersebut memicu sebuah perenungan yang sangat abstrak. Mengingatkan pada sesuatu, tapi entah apa. Venzha bercerita, respons orang-orang yang dia perdengarkan AKR 002 bervariasi.

Misalnya, salah seorang kawannya yang merupakan peminat metafisika dan hal-hal spiritual langsung bersila dan memejamkan mata begitu suara muncul dari AKR 002. Dengan muka serius, si tamu berujar. ”Kayaknya aku pernah dengar ini, Mas. Ini mirip seperti wangsit,” kenang Venzha, menirukan kawannya tersebut sambil senyum-senyum.

Suara yang terekam di dalam AKR 002 menurut Venzha adalah suara dari angkasa luar. Ditangkap sebuah teleskop radio yang Venzha pasang di rumahnya, di Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron, Jogjakarta. Markas sekaligus laboratorium komunitas penggiat astronomi v.u.f.o.c dan Indonesia Space Science Society (ISSS).

Teleskop radio tersebut dibangun Venzha dan kawan-kawannya. Venzha memang terbiasa membuat astronomi radio swakriya. Yang terbaru dia letakkan di ruang tamunya, bernama machine #6, berbentuk tabung yang digantung dengan empat tangkai besi.

Isi tabung tersebut adalah seperangkat modulasi penangkap sinyal radio berfrekuensi tinggi yang dipancarkan oleh aktivitas benda-benda langit seperti planet, bintang, satelit, asteroid, komet, dan sebagainya. Singkatnya, jika teleskop optik adalah ”mata” manusia untuk mengamati luar angkasa, teleskop radio adalah telinga manusia untuk mendengarkan aktivitas selestial.

Berbagai teleskop radio telah dikembangkan oleh negara-negara maju dalam proyek SETI atau ”menguping” angkasa luar. Mulai yang kecil sampai yang berukuran mega seperti Five Hundred-Meter Aperture Spherical Radio Telescope (FAST) di Provinsi Guizhou, RRT.

Venzha membuat teleskop radio berbagai ukuran. Dia dan v.u.f.o.c memiliki misi untuk demokratisasi teknologi tersebut. Venzha menggunakan miliknya untuk ikut serta dalam upaya besar umat manusia mengenal alam semesta dan seisinya. Terutama dalam menjawab pertanyaan besar, ”Apakah kita sendirian di alam semesta?”

Selama kurang lebih 2 bulan, Mei hingga Juni 2016, Venzha mengaktifkan machine #6 untuk menerima frekuensi radio yang dipancarkan oleh benda-benda angkasa luar di langit Jogja. Sebagian besar transmisi yang diterima berbentuk data-data komputer alfanumerik yang kemudian diterjemahkan oleh sebuah audio mixer dalam frekuensi yang bisa didengar telinga manusia.

Sebagian besar malam yang dilalui antara Mei dan Juni hanya berisi suara kemeresek tak bermakna. Namun, papar Venzha, setelah data diinput ke komputer, ada beberapa pola frekuensi yang menarik dan mengeluarkan suara khusus. Bagian-bagian itulah yang kemudian diambil dan dikumpulkan dalam album AKR 002. ”Tapi, ya tetap saja, semenarik apa pun, tidak cukup kuat untuk mengindikasikan bahwa ada kehidupan lain (ekstraterestrial) di atas sana,” jelas Venzha.

Seperti upaya ilmuwan di dunia dengan teleskop-teleskop yang besar dan supercanggih, machine #6 juga belum berhasil menemukan pola suara yang cukup rumit dan berarti untuk menunjukkan adanya sebuah kehidupan berakal (sentient) lain di angkasa luar.

Sejauh ini, selama lebih dari 50 tahun manusia ”menguping” angkasa raya, semua masih sunyi dan kosong. Hanya kemeresek suara-suara pergerakan benda-benda mati yang monoton dan repetitif. Manusia pun bahkan proaktif dengan turut mengirimkan sinyal ke luar angkasa, berusaha memberi tahu siapa pun di luar sana bahwa kita ada. Namun, sejauh ini, semua panggilan hanya mendengung hampa tanpa jawaban. ”Sampai sekarang, belum ada yang terdengar. Cuma sinyal Wow! tahun 1977 yang pernah kita terima. Setelah itu, tidak ada lagi,” tutur Venzha.

Ya, sinyal Wow! adalah sekumpulan data radio yang ditangkap teleskop radio yang dipasang di kampus Ohio State University. Sinyal itu ditemukan oleh astronom Jerry R. Ehman. Bentuknya hanyalah sebuah string data yang mengindikasikan frekuensi yang cukup unik dan kompleks, lebih dari pergerakan monoton benda langit. Sinyal selama 1 menit 12 detik itulah satu-satunya transmisi yang diterima manusia, yang cukup rumit untuk diyakini berasal dari kehidupan berakal lain alias alien di alam semesta.

Lalu, apakah kita sendirian di alam semesta? Tentu tak ada yang bisa menjawab, baik Venzha maupun seluruh anggota v.u.f.o.c dan ISSS. Sama-sama terpaku pada paradoks Fermi, ”Angkasa yang amat luas, namun tak ada satu pun jejak penghuninya.”

Bisa saja karena luasnya alam semesta, sinyal radio tak pernah sampai ke bumi. Bisa saja karena sebuah penghalang di langit, para alien tersebut mendengar tapi acuh saja seperti para petani cuek saat mendengar ribuan kodok ngorek di pinggir kali. Atau, bisa saja kita sedang berada di kandang besar di mana para alien berkeliling menyaksikan kita berjibaku dengan kebodohan sendiri.

”Saya termasuk yang percaya bahwa sinyal belum sampai karena jauhnya jarak di angkasa luar,” kata Venzha.

Misteri kehidupan ekstraterestrial memang tak bisa dijawab machine #6. Namun, Venzha bangga karena bisa membuktikan bahwa anak Indonesia pun mampu turut ambil bagian dalam upaya besar anak manusia tersebut. Bahwa mimpi mengeksplorasi angkasa luar bukanlah mimpi yang terlalu muluk dan hanya milik mereka yang memiliki uang serta teknologi tinggi.

Hanya, menurut Venzha, saat ini belum banyak anak Indonesia yang berani bermimpi besar dan menatap angkasa luar. Jurusan yang terkait dengan angkasa luar satu-satunya hanya ada di ITB. Lembaga riset antariksa hanya beberapa. Bahkan, space science masih dianggap aneh seperti alien itu sendiri. ”Tetangga sini sering salah paham. Mas Venzha katanya bisa komunikasi dengan alien,” tuturnya, lalu tertawa.

Melalui v.u.f.o.c dan ISSS, Venzha ingin memasyarakatkan space science. Ingin anak-anak Indonesia lebih mencintai angkasa luar. Juga, dengan segala keringkihannya, ikut serta dan terjun dalam misi besar umat manusia.

Sembari menanti sapaan halo dari ruang angkasa nun jauh di atas langit Jogjakarta, Venzha dan kawan-kawannya tetap bisa menikmati malam-malam sambil memesan kopi di angkringan samping markas ISSS. Sambil berbincang hingga larut malam tentang berbagai rahasia penciptaan alam semesta. (*/c11/ayi)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:05

Lebih Dekat dengan Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Terlahir dari orang tua yang merupakan pejuang lingkungan memunculkan kepedulian…

Senin, 20 Januari 2020 14:19
Menikmati Family Fun Rally Sambut Kejuaraan Provinsi Kaltim 2020

Memperkuat Pariwisata, Ingin Lebih Banyak Orang Datang ke Balikpapan

Family Fun Rally 2020 gelaran Kaltim Post berakhir meriah, Ahad…

Kamis, 16 Januari 2020 16:10

Cerita Mengharukan, Kembar Identik yang Terpisah 16 Tahun Akhirnya Bertemu

Kisah hidup dua remaja kembar ini begitu mengharukan. Enam belas…

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…

Kamis, 26 Desember 2019 11:34

Kiprah Bripka Riko Rizki Masri dan FKPM Teman Hati

Membantu sesama tak perlu menunggu punya jabatan tinggi atau uang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers