MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 08 Februari 2020 11:43
Dari Sungai Barito sampai Madagaskar, Arus Migrasi Orang Banjar (3-Habis)

Mufti-Mufti Bubuhan di Indragiri Hilir, Kedah, dan Perak

Syech Muhammad Arsyad Al Banjari

PROKAL.CO, SELAMA 2000 tahun terakhir, menurut Francoise dan Nicolas, volume perdagangan di sekitar pesisir Samudera Hindia naik-turun. Para ilmuwan menyepakati pasang surutnya ke dalam empat fase.

Syafril Teha Noer, Samarinda

Fase pertama di rute Jalur Sutra (abad ke-1 hingga 5) yang membawa dagangan dan ide-ide dari Tiongkok, Eurasia, dan Asia Selatan. Fase kedua abad ke-6 hingga 10 bersama penyebaran Islam dan perdagangan dari Arab. Fase ketiga lewat rute maritim abad ke-11 hingga 15. Fase keempat melalui kedatangan orang Eropa abad ke-16, yang secara drastis mengubah jaringan perniagaan dunia hingga saat ini.

Percampuran antara orang Banjar dan orang Afrika Timur di Komoro terjadi pada puncak fase kedua itu. Dus, antara abad 6 dan 10. Sementara perpindahan orang Banjar ke Madagaskar terjadi pada puncak fase ketiga, antara abad 11 dan 15.

Sangat mungkin, migrasi itu berlangsung saat orang-orang Banjar belum membentuk pemerintahan kesultanan di kampung halaman, di mana Banjar sebagai nama suku resmi mulai berlaku. Berbagai referensi membeber migrasi mereka ke berbagai penjuru Nusantara, bahkan ke belahan-belahan lain di Kalimantan, justru baru terjadi pada abad ke-16.

Menurut salah satu catatan, pada 1565 sekumpulan orang dari Amuntai, dipimpin Aria Manau, bergerak sekaligus menandai migrasi orang Banjar ke Kalimantan Timur. Aria disebut-sebut berasal dari Kerajaan Kuripan (Hindu). Namun, versi lain menyebut dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong.

Migrasi ke Pasir ini disebut-sebut menjadi cikal-bakal Kerajaan Sadurangas di Pasir. Dari Pasir-lah sebaran orang Banjar di bagian-bagian lain Kalimantan Timur berikutnya terjadi; dari Balikpapan sampai Tarakan.

Begitu pula migrasi ke Kalimantan Tengah. Berlangsung saat Sultan Banjar IV, Raja Maruhum atau Sultan Musta’inbillah (1595–1636), mengizinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan raja pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Lalu, bersamaan dengan masa perlawanan Pangeran Antasari terhadap Belanda tahun 1860-an, ketika suku-suku Dayak di Barito mengangkat Antasari (Gusti Inu Kertapati) sebagai raja bergelar Panembahan Amiruddin, yang berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya) – diteruskan putranya, Sultan Muhammad Seman.

Di Makassar umumnya orang Banjar bekerja sebagai pedagang, penjahit, perajin dan penjual emas, pedagang batu permata, dan pembuat kopiah. Pada 1884 seorang pangeran Banjar bernama Perbatasari dibuang ke Kampung Jawa Tondano, karena memberontak kepada Belanda. Di sana dia menikah dengan seorang wanita Jaton (Jawa Tondano).

Beberapa tahun kemudian saudaranya, Gusti Amir, menyusul dan menikah pula dengan wanita Jaton. Orang Jaton keturunan para pangeran asal Banjar ini menyandang fam Perbatasari dan Sataruno. Inilah di antara jejak yang ditinggalkan migrasi orang Banjar ke Sulawesi.

Di Sumatra mereka berkelana dan menetap di Tembilahan, Tungkal, Hamparan Perak (Paluh Kurau), Pantai Cermin, Perbaungan. Mirip dengan yang kelak menyebar ke Malaysia, mereka adalah anak, cucu, intah, piat dari para imigran Banjar yang bergerak dalam tiga gelombang besar.

Pertama pada 1780, ke Sumatra, ketika para pendukung Pangeran Amir kalah dalam konfliknya dengan Pangeran Tahmidullah yang sama-sama bangsawan Kesultanan Banjar.

Kedua pada 1862, juga ke Sumatra. Kali ini mereka adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam Perang Banjar, yang melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di Martapura, tatkala Belanda menguasai kota-kota besar di sana.

Pada 1885 mereka juga ke Tembilahan, Indragiri Hilir, dalam masa pemerintahan Sultan Isa. Di sini seorang tokoh Banjar, Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat), menjadi Mufti Kesultanan Indragiri. Beliau berasal dari Martapura.

Ketiga pada 1905, masih ke Sumatra. Migrasi besar-besaran kali ini mereka lakukan karena Sultan Muhammad Seman, raja di Kerajaan Banjar, tewas di tangan Belanda.

Dari Indragiri migrasi itu berlanjut ke Malaysia. Yakni ke negeri-negeri (kesultanan) Kedah, Perak (Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor (Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor, (Batu Pahat), serta ke Negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, dan Tawaw). Di Semenanjung mereka disebut Banjar Melau.

Mufti di rentang waktu tertentu di Kesultanan Negeri Kedah adalah orang Banjar, yakni Syekh Husein Kedah Al Banjari. Satu lagi orang Banjar, Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria, pun menjadi mufti di Kesultanan Negeri Perak. Kelak juga Haji Ishak Bin Baharom, Mufti Kerajaan Negeri Selangor. Di Kerian (setingkat kabupaten), Negeri Perak, populasi orang Banjar adalah yang paling banyak – mirip populasi orang Minangkabau di Negeri Sembilan.

Belum ditemukan referensi yang menjelaskan migrasi orang-orang Banjar ke berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara, di luar motif ekonomi dan agama. Sedikit motif politik tampak hanya pada sebagian migrasi mereka ke Kalimantan Tengah dan Sumatra. Itu pun akibat konflik dalam negeri, dan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Peran menonjol di Sumatra dan sejumlah kesultanan di Semenanjung memperlihatkan orang-orang Banjar adalah penganut Islam yang taat. Tak sedikit ulama dengan reputasi internasional lahir dari kalangan kaum saudagar ini. Mufti-mufti di Indragiri Hilir, Kedah, Selangor, dan Perak masa itu adalah di antara bukti yang bisa diajukan.

Menurut Serat Maha Parwa, cikal-bakal orang Jawa berasal dari Hindustan dan Siam, yang sebelum menetap di Jawa singgah di Nusa Kencana – nama Kalimantan dalam serat itu. Di antara jejaknya adalah temuan bangkai perahu kuno yang terbuat dari kayu ulin, yang diduga kuat berasal dari Kalimantan Selatan.

Hikayat Banjar yang terbit tahun 1663 mengisahkan pengiriman seribu serdadu Sultan Demak untuk membantu Pangeran Samudera (Raja Banjarmasin) berperang melawan pamannya, Pangeran Tumenggung, penguasa terakhir Kerajaan Daha. Kemenangan diraih Pangeran Samudera yang kemudian menjadi Sultan Banjarmasin I.

Dalam peperangan itu 40 orang Daha laki-laki dan perempuan ditawan dan dibawa ke Demak sebagai ganti 20 prajurit Demak yang gugur. Kejadian ini berlangsung antara tahun 1520 sampai 1526.

Daha adalah kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan, sezaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton, yang berpusat di Gresik, Jawa Timur, abad ke-15 sampai 17. Giri Kedaton pernah berjaya sebagai pusat agama Islam yang pengaruhnya menyebar sampai Maluku. Kesultanan Banjar yang Islam pada kurun tertentu menggantikan Kerajaan Daha.

Belum diketahui, apakah keturunan ke-40 tawanan yang dibawa ke Demak tadi kelak ikut membentuk komunitas orang Banjar di Jawa Tengah. Namun, migrasi orang Banjar ke Semarang diperkirakan baru terjadi akhir abad ke-19. Mereka bermukim di barat kali Semarang, berdekatan dengan bekas kelurahan Melayu Darat, membaur bersama kelompok-kelompok etnik lain, seperti Arab, Gujarat, Melayu, Bugis, selain Jawa.

Di Surakarta kebanyakan orang Banjar bermukim di Kelurahan Jayengan, dan sempat memiliki yayasan bernama Darussalam, merujuk nama pesantren terkenal di Martapura. Tokoh Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Rivai Yusuf asal Martapura. Dia pernah menjadi Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah.

Secara historis, teritorial, dan unsur pembentuk, suku Banjar terbagi dalam tiga sub-rumpun. Masing-masing Banjar Pahuluan – campuran Melayu dan Orang Bukit. Kemudian Banjar Batang Banyu – campuran Melayu, Dayak Maanyan, Lawangan, Orang Bukit, dan Jawa. Lalu Banjar Kuala – campuran Melayu, Dayak Ngaju, Dayak Barangas, Bakumpai, Dayak Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa.

Belum jelas, apakah akan ada pula penelitian; yang berkelana dan jadi moyang orang Madagaskar dan Komoro itu orang-orang Banjar dari sub-rumpun Banjar Pahuluan-kah, Banjar Batang Banyu-kah, atau Banjar Kuala? Yang sudah jelas dan tegas adalah, paninian orang Madagaskar dan Komoro di parak Benua Afrika itu adalah bubuhan Banjar. (Diolah dari berbagai sumber/dwi/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 29 Februari 2020 10:55

Jadi Negara Maju, Indonesia Layak?

JAKARTA– United State Trade Representative (USTR) mencoret Indonesia dari daftar…

Sabtu, 29 Februari 2020 10:24

WHO Tegaskan Covid-19 Bakal Serang Semua Negara

TEHERAN– Masjid-masjid di Teheran, Iran, Jumat siang (28/2) sepi. Tak…

Sabtu, 29 Februari 2020 10:21

Istana Sewa Garuda untuk Perjalanan ke AS, Loh Pesawat Kepresidenan Kenapa?

JAKARTA– Foto sebuah pesawat Boeing 777 di salah satu hanggar…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:50

MAHAL..!! Mau Kuliah Kedokteran UI..?? Siapkan Duit Segini....

JAKARTA– Masa penerimaan mahasiswa baru sedang berlangsung. Diantara isu yang…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:37
Belum Ada Kepastian Pencabutan Larangan Kedatangan Jamaah

Pesawat Kosong Boleh Landing, Pemulangan Jamaah Umrah Lancar

JAKARTA– Sampai tadi malam (28/2) Konsul Haji KJRI Jeddah Endang…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:36

Ada IKN, Ada Potensi Banjir Pengangguran

PENAJAM - Realisasi ibu kota negara (IKN) di sebagian wilayah…

Jumat, 28 Februari 2020 14:48

Ribuan Masyarakat Kaltim Bisa Gagal Umrah

Berkaca pada penerbangan tahun lalu, jumlah penumpang rute Balikpapan–Madinah untuk…

Jumat, 28 Februari 2020 14:44

Tampung 3.500 Jamaah, Masjid Segera Difungsikan

SAMARINDA -Masjid Pemprov Kaltim telah selesai dibangun. Masjid ini bukan…

Jumat, 28 Februari 2020 14:43

Masih Banyak Persoalan, KLHS Calon IKN Disusun Ulang

BALIKPAPAN – Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) untuk calon ibu…

Jumat, 28 Februari 2020 14:42
Jamaah Kaltim Menuju Haul Ke-15 Guru Sekumpul (1)

Ratusan Bus Per Hari, Tiga Jam Antre di Feri

Dalam hitungan hari, Kawasan Sekumpul, Martapura, Kalsel, segera menjadi lautan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers