MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 07 Februari 2020 13:46
Dari Sungai Barito sampai Madagaskar, Arus Migrasi Orang Banjar (2)

Acil-Galuh yang Ikut Pelayaran Sriwijaya sampai Komoro

Warga banjar

PROKAL.CO, Para ilmuwan lama berdebat mengenai leluhur orang Madagaskar. Usaha menentukan lokasi asal orang Madagaskar di Asia secara umum menunjuk Kalimantan sebagai sumber potensial. Namun belum ada (satu pun suku) yang secara tegas teridentifikasi.

 

SYAFRIL TEHA NOER, Samarinda

 

BEGITU tulis Francoise Xavier Ricaut, periset dari Universitas Toulouse Prancis, di The Conversation. Kecuali menyebut “perempuan Nusantara” hasil penelitian Cox memang tidak membuat kesimpulan spesifik. Perempuan di belahan Nusantara yang mana? Jawaban atas pertanyaan itu baru muncul empat tahunan kemudian, 2016. Satu tim lintas universitas dan negara, lewat pendekatan serupa, tegas menyatakan nenek-moyang orang Madagaskar adalah orang Banjar.

Tim itu adalah sekumpulan periset dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia, Universitas Toulouse Prancis, Universitas Massey Selandia Baru, dan Universitas Melbourne Australia. Mereka bekerja setahun, menindaklanjuti penelitian yang dilakukan tujuh tahun penelitian sampai 2012. Francoise tergabung di sini.

Tim menghadapi sejumlah hipotesis yang menyebut orang Dayak Maanyan-lah nenek-moyang orang Madagaskar, merujuk bahasa Malagasi yang mirip bahasa Dayak Maanyan. Ada pula hipotesis yang untuk urusan serupa menyebut suku Bajo, suku Buton hingga suku Bugis.

Agak aneh, sebenarnya. Sebab dalam hal penyebutan beberapa angka, sekadar contoh, bahasa Dayak Maanyan juga banyak mirip bahasa Jawa – Perhatikan infografik.

Jika Cox meneliti dan menganalisis turunan DNA ibu 2.745 orang dari 12 kepulauan Indonesia dengan 266 orang dari tiga suku asal Madagaskar, Francoise, dan kawan-kawan menganalisis 211 sampel DNA darah 169 orang Dayak Maanyan dan 49 orang Dayak beragam.

Kok cuma DNA orang Dayak dan jumlahnya jauh di bawah objek analisa Cox yang 2.745 orang itu? Ternyata analisis atas jumlah objek serupa sudah dilakukan tujuh tahun penelitian terdahulu, dan Cox agaknya belum meriset ke-211 sampel DNA yang jadi objek tim lintas universitas ini.

Tim juga mengumpul dan mencocokkan DNA 266 orang Madagaskar yang disigi Cox. Hasilnya, orang Banjar di Kalimantan Selatan adalah yang paling punya kecocokan dengan orang Madagaskar. Itulah riset pertama yang menggabungkan data dan hipotesis dari riset-riset linguistik, arkeologis, dan genetik orang Madagaskar dan Komoro.

Bila Cox menyebut “pendiri” koloni Madagaskar 1.200 tahun silam itu adalah 30-an perempuan, tim ini menyebut jumlah lebih sedikit, yakni 28 perempuan, terdiri dari acil-acil dan galuh-galuh Banjar.

“(Dengan) Dayak Maanyan sama sekali tidak ada kesamaan genetik,” jelas Profesor Herawati Sudoyo, dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, saat berbicara pada seminar Collaborative Research in Population Study: A Story of Human Dispersal in Indonesia, di Jakarta penghujung 2016. Herawati juga tergabung dalam tim yang sama.

Melalui sungai yang dulu sangat lebar menyerupai laut, katanya, orang Dayak Maanyan tentu saja bisa turun dan bercampur dengan orang Banjar. Tetapi orang Banjar-lah yang kemudian bermigrasi ke Madagaskar. Dan ini pula yang secara genetik terkonfirmasi.

Berbicara pada seminar yang sama, periset Nicolas Brucato PhD dari Laboratorium Antropologi Molekuler Universitas Toulouse Prancis, menyebut 40% gen orang Madagaskar dibawa dari Indonesia. Unsur gen orang Dayak Maanyan tidak ditemukan dalam gen orang Nusantara yang ditemukan pada gen orang Madagaskar itu.

Bagaimana dengan kemiripan bahasa Dayak Maanyan dengan bahasa Malagasi? "Tidak ada korelasi antara genetika dan bahasa di Malagasi,” jawab Nicolas. Yang ada pada analisis haplotipe (model urutan sekuen DNA-red) itu adalah kesamaan yang tinggi antara orang Madagaskar dengan orang Banjar.

Dia mengakui, secara struktur genetik orang Banjar memiliki campuran 75% gen Melayu dan 25% gen Dayak Maanyan. Namun memastikan gen Madagaskar turun dari nenek moyang orang Banjar. Hasil riset ini termuat di jurnal ilmiah Nature, yang terpublikasi secara online tanggal 18 Mei 2016. Judulnya Contrasting Linguistic and Genetic Origins of the Asian Source Populations of Malagasy.

Bagaimana orang Banjar ke Madagaskar? Bukankah mereka bukan pelaut sebagaimana orang-orang Bajo? Orang-orang Dayak Maanyan malah dulu menetap di pesisir, dan sampai tahun 600-an biasa mengarungi laut. Setelah menjauh dari laut barulah mereka kehilangan budaya maritim. Tidakkah mereka yang lebih patut diduga berlayar ke Madagaskar?

Herawati menyebut inilah yang akan disigi dalam riset lanjutan kelak. Termasuk, sambungnya, untuk menjawab; apakah orang-orang Banjar berlayar dan bermigrasi sekaligus, berangkat dari mana, berhenti di mana? “Itu yang perlu dibuktikan,” katanya.

Tetapi Nicolas menyebut pergerakan orang Asia ke Kepulauan Komoro pertama kali terjadi pada abad ke-8, dan ke Madagaskar pada abad ke-11. Dus, diperkirakan jauh setelah orang-orang Dayak Maanyan bergerak kian menjauhi pesisir dan kehilangan budaya maritim.

Tentang bagaimana orang-orang Banjar bisa mencapai dan menetap, bahkan menjadi cikal-bakal penduduk Madagaskar, secara terpisah rada terkuak lewat artikel Francoise Xavier Ricaut dan Nicolas Brucato di The Conversation.

“Mereka ikut pelayaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, seperti Sriwijaya, pada abad ke-6 hingga 13. Suku Melayu berniaga ke tempat yang jauh sampai Afrika Timur. Sriwijaya mendirikan pos dagang di Kalimantan dan orang-orangnya bercampur dengan orang asli Borneo. Juga dengan orang Dayak Maanyan, leluhur orang Banjar,” tulis Francoise.

Namun keraguan bahwa orang Banjar bukan kaum pelaut sebetulnya terbantah, mengingat dua perjanjian antara Sultan Banjar Tamjidillah I dengan VOC-Belanda tentang monopoli perdagangan (18 Mei 1747 dan 20 Oktober 1756) melarang orang Banjar berlayar ke timur – Bali, Bawean, Sumbawa, Lombok; dan ke barat lewat Palembang, Johor, Malaka, dan Belitung.

Mungkinkah pelarangan itu muncul, bila kemampuan maritim orang-orang Banjar tidak dianggap VOC-Belanda sebagai ancaman potensial hegemoni mereka di laut?

Gambaran migrasi ke Madagaskar itu praktis membuktikan, bahwa orang Banjar bahkan mendahului orang Eropa. Mereka berlayar sejauh tujuh ribu kilometer, bukan hanya ke Madagaskar, melainkan juga ke Kepulauan Komoro, awal milenium kedua. Jejaring mereka bersama orang Melayu memicu proses protoglobalisasi paling awal, yang membawa populasi Asia Tenggara ke Afrika Timur.

Komoro terletak di utara Selat Mozambik, antara Madagaskar dan Mozambik. Wilayah negeri bekas jajahan Prancis ini terdiri dari empat daratan di kepulauan gunung berapi seluas 2.034 kilometer persegi. Masing-masing Mayotte, Komoro Besar, Anjouan, dan Moheli. Jumlah penduduknya tahun 2015 lalu 784.745 jiwa – pada tahun yang sama jumlah penduduk Samarinda adalah 812.597 jiwa.

MEMUKAU

Sejarawan Jared Diamond menyebut “fakta tunggal paling memukau dari geografi manusia” saat mendapati Kepulauan Komoro dan Madagaskar menerima pengaruh kebudayaan Asia dan Afrika. Entah apa yang akan dikatakannya, mendapati ‘Asia’ itu adalah Nusantara, dan lebih spesifik lagi orang Nusantara bubuhan Banjar.

Temuan bahwa 90-an persen kosakata Malagasi berasal dari bahasa Dayak Maanyan pun tak kalah mengagetkan. Bagaimana sebuah negeri bisa mendapat pengaruh kuat dari suku di tujuh ribu kilometer jarak geografis pastilah terlalu menarik untuk diabaikan, sementara pengaruh Afrika di seberang selatnya tak lebih dari 10%.

Lewat pendekatan statistik mutakhir, tim yang dianggotai Francoise dan Nicolas menemukan percampuran orang Banjar dan orang Afrika Timur dari komunitas Swahili terjadi pertama kali di Kepulauan Komoro, sekitar abad ke-9, dan di Madagaskar sekitar abad ke-11. Namun di Madagaskar persentase keturunan Banjar berkisar 37 hingga 64% sementara di Komoro hanya 20%. (Diolah dari berbagai sumber/Bersambung/rom)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 29 Februari 2020 11:13

Cerita Novian Chaniago, Pengamen yang Akan Dipertemukan dengan Band Scorpions

Dari Blok M lewat Gorky Park sampai ke Jogjakarta. Itulah…

Sabtu, 29 Februari 2020 10:55

Jadi Negara Maju, Indonesia Layak?

JAKARTA– United State Trade Representative (USTR) mencoret Indonesia dari daftar…

Sabtu, 29 Februari 2020 10:24

WHO Tegaskan Covid-19 Bakal Serang Semua Negara

TEHERAN– Masjid-masjid di Teheran, Iran, Jumat siang (28/2) sepi. Tak…

Sabtu, 29 Februari 2020 10:21

Istana Sewa Garuda untuk Perjalanan ke AS, Loh Pesawat Kepresidenan Kenapa?

JAKARTA– Foto sebuah pesawat Boeing 777 di salah satu hanggar…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:50

MAHAL..!! Mau Kuliah Kedokteran UI..?? Siapkan Duit Segini....

JAKARTA– Masa penerimaan mahasiswa baru sedang berlangsung. Diantara isu yang…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:37
Belum Ada Kepastian Pencabutan Larangan Kedatangan Jamaah

Pesawat Kosong Boleh Landing, Pemulangan Jamaah Umrah Lancar

JAKARTA– Sampai tadi malam (28/2) Konsul Haji KJRI Jeddah Endang…

Sabtu, 29 Februari 2020 09:36

Ada IKN, Ada Potensi Banjir Pengangguran

PENAJAM - Realisasi ibu kota negara (IKN) di sebagian wilayah…

Jumat, 28 Februari 2020 14:48

Ribuan Masyarakat Kaltim Bisa Gagal Umrah

Berkaca pada penerbangan tahun lalu, jumlah penumpang rute Balikpapan–Madinah untuk…

Jumat, 28 Februari 2020 14:44

Tampung 3.500 Jamaah, Masjid Segera Difungsikan

SAMARINDA -Masjid Pemprov Kaltim telah selesai dibangun. Masjid ini bukan…

Jumat, 28 Februari 2020 14:43

Masih Banyak Persoalan, KLHS Calon IKN Disusun Ulang

BALIKPAPAN – Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) untuk calon ibu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers