MANAGED BY:
RABU
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 28 Januari 2020 13:42
81 Orang Meninggal, 43 Ribu Diperkirakan Tertular
Le Keqiang berkunjung ke Wuhan. Dia ditunjuk sebagai ketua satgas khusus penanganan 2019-nCov.

PROKAL.CO, KETAKUTAN pada penularan virus 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) melanda berbagai negara. Kemarin (27/1) pemerintah Malaysia melarang kunjungan turis dari Wuhan dan kota-kota lain di sekitarnya. Malaysia tidak akan mengeluarkan visa lebih dulu untuk penduduk dari wilayah tersebut. Sejauh ini sudah ada 4 orang yang positif tertular di Malaysia.

Pemerintah Jerman juga mendesak penduduknya agar tidak pergi ke Tiongkok lebih dulu. Mereka berencana mengevakuasi penduduk Jerman yang berada di Wuhan. Tindakan serupa sudah dilakukan oleh AS dan Prancis. Saat ini masih ada 4.096 turis yang terjebak di Wuhan.

Hingga Senin (27/1), pencegahan penularan virus yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei itu masih belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Sebaliknya, penularan virus yang disinyalir berasal dari binatang liar itu kian meluas. Sebanyak 81 orang telah kehilangan nyawa akibat 2019-nCov. Selain itu, 2.821 orang positif tertular di Tiongkok saja. Tidak termasuk wilayah otonomi khusus Hongkong dan Macau. Total di seluruh dunia mencapai 2.882 kasus.

Versi para peneliti, jumlah itu hanyalah ujung gunung es. Akademisi di University of Hong Kong (HKU) memperkirakan, hingga Sabtu (25/1) sudah ada 43.590 orang yang tertular virus tersebut di Wuhan saja. Itu termasuk orang-orang yang penularannya masih dalam tahap inkubasi alias tidak menunjukkan tanda-tanda. Mereka yang sudah menampakkan tanda tertular mencapai 25.630 orang. ''Jumlah itu akan naik dua kali lipat sekitar 6 hari ke depan,'' ujar Dekan Fakultas Kedokteran HKU Gabriel Leung seperti dikutip South China Morning Post. Dia menggunakan penghitungan matematis berdasarkan kasus-kasus di seluruh dunia.

Leung mengungkapkan, penularan dari manusia ke manusia sudah terjadi di kota-kota besar di Tiongkok. Karena itu, dia meminta agar semua orang bersiap karena ini akan menjadi wabah global. Mereka memperkirakan bahwa infeksi di lima kota besar di Tiongkok akan mencapai puncaknya pada akhir April atau awal Mei. Lima kota tersebut yaitu Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen, dan Chongqing.

Perkiraan para akademisi HKU bisa jadi benar. Sebab, Wali Kota Wuhan Zhou Xianwang mengungkap bahwa sekitar 5 juta orang telah meninggalkan kota sebelum isolasi diberlakukan. Bisa jadi mereka dalam tahap inkubasi.

Direktur Komisi Kesehatan Tiongkok Ma Xiaowei menjelaskan bahwa periode inkubasi mencapai 10-14 hari. Pada tahap ini, seseorang sudah bisa menularkan virus ke orang lain meski dia tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Untuk menekan penularan, pemerintah Tiongkok memperpanjang libur nasional tahun baru Imlek hingga Minggu (2/2). Shanghai bahkan meminta agar segala bisnis ditutup lebih dulu hingga 10 Februari. Larangan itu berlaku untuk semua perusahaan kecuali perusahaan medis, pemasok obat-obatan, dan supermarket.

Senin (27/1) Perdana Menteri (PM) Tiongkok Le Keqiang berkunjung ke Wuhan. Dia ditunjuk sebagai ketua satgas khusus penanganan 2019-nCov. Di saat bersamaan, Dirjen Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus berada di Beijing untuk membahas masalah virus tersebut dengan para pakar kesehatan dan pemerintah Tiongkok. Sampai kemarin, WHO belum mengeluarkan status darurat global.

Virus mematikan itu sejatinya sudah muncul sejak akhir November. Namun pemerintah Tiongkok baru memberitahu WHO pada akhir Desember. Itu mengingatkan akan penularan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang awal penyebarannya sempat ditutupi oleh pemerintah Tiongkok.

Sementara itu, penduduk Wuhan yang diisolasi mulai resah. Dalam video yang beredar di kanal YouTube, salah satu penduduk mengungkapkan bahwa stasiun pengisian bahan bakar tutup. Jalanan sepi, tidak ada kendaraan umum yang beroperasi. Orang-orang yang sakit kesulitan pergi ke rumah sakit. Saluran panggilan darurat juga selalu sibuk. Kalau toh mereka di rumah sakit, para pasien dibiarkan begitu saja karena kurangnya tenaga medis. (sha/oni)


BACA JUGA

Rabu, 19 Februari 2020 11:29

Pengusaha Malaysia Mulai Petakan Peluang

Hadirnya ibu kota negara (IKN) di Kaltim membuat mata investor…

Rabu, 19 Februari 2020 10:17

Tiga Kru WNI Positif Terinfeksi Virus Korona

JAKARTA- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan, tiga orang kru…

Selasa, 18 Februari 2020 12:48

Pantau Kondisi 78 WNI yang Dikarantina di Kapal Pesiar, Kemenlu-Kemenkes Kerahkan Tim ke Jepang

JAKARTA– Pariwisata menjadi salah satu sektor yang berpotensi paling terpukul…

Selasa, 18 Februari 2020 12:41

Musda Golkar Berpotensi Aklamasi

TENGGARONG–Bayang-bayang aklamasi dalam pemilihan ketua DPD Golkar Kaltim menguat. Sinyalemen…

Selasa, 18 Februari 2020 12:38

Singgung Presiden di Facebook, Dosen Unnes Dibebastugaskan dan Minta Pembuktian Akademik

SEMARANG– Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dr Sucipto Hadi Purnomo…

Selasa, 18 Februari 2020 12:34

Sulitnya Mencari Masker di Hong Kong saat Wabah Virus Corona Merebak

Pada 23 Januari, awak Kaltim Post mendarat sempurna di Hong…

Selasa, 18 Februari 2020 12:33

Jelang Bebas, Abun Malah Ajukan PK

JAKARTA-Hery Susanto Bun alias Abun menyebut peninjuan kembali (PK) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 12:10

Lewat Omnibus Law, Pemerintah Dianggap Ingin Intervensi Pers

JAKARTA - Penolakan draf omnibus law juga datang dari Aliansi…

Selasa, 18 Februari 2020 12:06

ADUH..!! Neraca Dagang RI Kembali Defisit, Belum Lagi Dampak Corona

JAKARTA– Tahun telah berganti. Namun, neraca perdagangan RI masih tetap…

Selasa, 18 Februari 2020 11:51

Kualitas SDM Kaltim Meningkat

SAMARINDA- Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kaltim terus mengalami…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers