MANAGED BY:
JUMAT
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Selasa, 28 Januari 2020 10:39
Aset Tanah Seluas 1,9 Juta Meter Persegi Terpidana BLBI Dicurigai Dikorupsi dan Dijual
Haris Azhar

PROKAL.CO, "Kami mencium ada potensi aset-aset tersebut dikorupsi oleh para jaksa dan dijual," terang Haris

 

JAKARTA-- Kantor hukum dan HAM Lokataru menyampaikan permintaan informasi publik ke Kejaksaan Agung terkait aset salah satu terpidana kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Lee Darmawan Kartarahardja Harianto alias Lee Chin Kiat. Mereka mencurigai ada aset yang sudah disita Kejagung pada saat itu belum dikembalikan ke negara sampai sekarang.

Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar mendatangi Pusat Pemulihan Aset (PPA) Kejagung dengan membawa sejumlah dokumen yang menyatakan kejanggalan status aset tersebut. Haris menyebutkan bahwa jumlah total aset tanah yang disita pada 1994 mencapai 11,9 juta meter persegi di 25 lokasi. Namun, Lokataru mencatat belum 100 persen hasil sitaan itu dikembalikan kepada negara lewat Bank Indonesia.

Baru sekitar 10 juta meter persegi tanah yang sudah dikembalikan atau 83 persen dari total aset sitaan. Sisanya, sekitar 1,9 juta meter persegi belum dirampas dan diserahkan ke negara sebagaimana  berita acara pelaksanaan putusan pengadilan 30 Maret 1993. "Kami mencium ada potensi aset-aset tersebut dikorupsi oleh para jaksa dan dijual," terang Haris di kantor Kejagung (27/1).  

Selain itu, dia menambahkan ada 899 ribu meter persegi tanah yang juga ikut disita meski tidak ada dalam putusan pengadilan. Tanah itu oleh Lokataru ditelusuri selama setahun terakhir dan ditemukan telah digunakan oleh pihak lain dalam bentuk properti.  

Tidak ada kejelasan apakah tanah tersebut memang sudah dialihkan haknya ke orang lain secara sah atau diperjualbelikan oknum jaksa. Melihat properti yang menduduki tanah tersebut juga bukan properti kecil, Lokataru pun menyimpulkan sementara bahwa ada pelanggaran secara sistemik masalah aset ini. 

Ketika menyampaikan hasil laporan dan permintaan informasi publik itu, Haris mengaku kecewa karena tidak langsung mendapat kejelasan dari PPA. Dengan alasan kasus tersebut sudah kasus lama sementara staf PPA beberapa adalah orang baru dan mereka tidak mengetahui letak dokumen penyitaan aset tanah tersebut. "Mereka nggak pegang berkas itu aneh, lha dulu dasar nyita apa?" lanjut Haris. 

Lokataru memberikan jeda seminggu untuk kemudian kembali mengupdate hasil temuan mereka ke Kejagung. Haris berharap Kejagung bisa memberikan informasi yang lebih jelas mengenai status pengembalian aset ke negara tersebut. "Kalau nggak jawab maka akan kita ekspos kasus baru dan data lain yang lebih detail," paparnya.  

Kejagung sendiri berjanji akan menyiapkan dokumen yang dimaksud tersebut secepatnya. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono menyatakan sudah berkomunikasi dengan PPA. "Karena ini masih baru datang, kami harus mengecek dokumennya dulu, memastikan putusan pengadilannya yang mana," jelas Hari. 

Kejagung perlu melakukan kroscek apakah benar luasan tanah sitaan yang dilaporkan Lokataru tersebut sama atau ada perubahan luasan yang sudah masuk kembali ke negara melalui Bank Indonesia. Lokataru memberikan waktu sepekan untuk kembali ke Kejagung, namun Hari tidak bisa memastikan. Kemungkinan bisa lebih cepat dari seminggu, dokumen tersebut sudah bisa disiapkan. (deb)


BACA JUGA

Kamis, 20 Februari 2020 11:51

Joli Jolan, Tempat untuk Barang Tak Digunakan, Dipilih Perias Jenazah, Kosmetik Kedaluwarsa Jadi Bermanfaat

Sering membeli barang karena dorongan impulsif? Setelah terbeli, barang tak…

Kamis, 20 Februari 2020 11:30

Bertambah, Satu Orang Kru WNI Kapal Pesiar Positif Virus Korona

JAKARTA- Kru kapal pesiar Diamond Princess asal Indonesia yang terinfeksi…

Kamis, 20 Februari 2020 10:58

Pendaki Tolak Heli dan Penginapan Mewah di Rinjani, Ini Alasannya

MATARAM-Penyediaan fasilitas heli tourism dan penginapan mewah di Gunung Rinjani…

Kamis, 20 Februari 2020 10:56

PARAH..!! Oknum Polisi Jadi Bandar Narkotika, Selundupkan 10 Kg Sabu dan 60 Ribu Butir Ekstasi

JAKARTA— Bandar narkotika memang terus berupaya menggaet oknum polisi untuk…

Kamis, 20 Februari 2020 07:49

Begini Dialog SMSI Pusat Bersama Mohammad Nuh dan Hatta Rajadsa

JAKARTA - Migrasi besar-besaran dari physical space (bentuk fisik) ke…

Rabu, 19 Februari 2020 23:16

SMSI dan LPDS Sepakat Kerja Sama Jaga Kualitas Media Siber

JAKARTA - Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) yang didirikan oleh…

Rabu, 19 Februari 2020 11:02

30 Juta PBI Tak Masuk DTKS

JAKARTA– Persoalan data penerima bantuan iuran (PBI) program Jaminan Kesehatan…

Rabu, 19 Februari 2020 11:00

Istri Kapten Anwar Pingsan Usai Pemakaman

SEMARANG– Pemakaman empat jenazah korban kecelakaan Helikopter MI-17 yang jatuh…

Rabu, 19 Februari 2020 10:54

Singapura Larang Warga China Masuk, Kini Andalkan Kunjungan Turis Indonesia

JAKARTA– Kebijakan pemerintah Singapura terkait dengan wabah korona bakal berdampak…

Rabu, 19 Februari 2020 10:39

Kemenag Lobi Penambahan Toilet di Mina

JAKARTA – Ketersediaan toilet di tenda-tenda jamaah haji Indonesia di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers